Tradisi Menangguk Ikan di Sungai dan Sawah

 

1.  Tradisi Menangguk ikan di sungai. Foto: wahyudiansyah.com

     Ada sebuah peribahasa yang cukup terkenal tentang tangguk yaitu "menangguk di air keruh". Jadi anak-anak zaman dulu kalau menang-guk maka dikeruhkan dulu air di hulu. Maka dengan begitu, ikan-ikan akan menjadi kacau lalu menangguklah seseorang di sana.

     Biasanya sebelum lebaran, orang-orang akan turun ke Batang Sikali untuk menangkap ikan larangan. Dan tentunya masing-masing orang membawa tangguk. Menangkap ikannya dimulai dari hulu atau barom-ban Batang Sikali. Biasanya ditaburi putas (semacam racun yang mem-buat ikan pusing) terlebih dahulu. Lalu secara serentak turun ke dalam sungaii sehingga airnya menjadi keruh maka menangguklah orang-o-rang di situ.

     Lain daripada itu, kebiasaan menangguk anak-anak zaman dulu juga sering dilakukan di sawah. Biasanya ketika sawah selesai dibajak maka ikan-ikan bada, puyu kecil-kecil, sangat banyak di sawah. Entah dari-mana berasal ikan-ikan itu. Padahal sebelumnya semua sawah nyaris kering airnya sebelum dipanen. Konon kabarnya kata orang-orang tua bahwa ikan-ikan itu berasal dari padi yang berjatuhan di sawah. Entah kenapa, anak-anak zaman dulu percaya saja dengan apa saja yang di-katakan orang-orang tua. Kalau orang-orang tua mengatakan bahwa di pohon itu ada orang bunian-nya maka tidak akan ada anak-anak ke si-tu. Atau juga sedang lagi musim orang potong kepala maka tak ada yang berani main jauh-jauh dari rumah.

     Selain menangguk di sawah, anak-anak zaman dulu juga sering mencari ikan malam-malam. Biasanya itu ketika habis banjir karena ba-nyak kolam orang atau ikan di sungai terperangkap di bandar-bandar sawah. Dan kalau malam, ikan-ikan itu akan jinak dan mudah menang-kapnya. Padahal di zaman itu hanya menggunakan lampu strongkeng sebagai penerangan. Dan terkadang, bunyi suara burung hantu mem-buat merinding kalau malam.

     Begitulah memori anak-anak zaman dulu tentang tangguk. Dan me-mang menangguk di air keruh sudah mulai dilupakan orang. Mungkin karena anak-anak zaman sekarang bisa saja sudah terbiasa menangguk di ponselnya masing-masing. Tentu lain pula cara mengeruhkan airnya. Dan berbagai kenangan tentang menangguk juga pernah dialami oleh warga kota, Iyung Sikumbang, misalnya. Ia tidak takut dengan lintah dan pacet jika menangguk ikan pantau dan ikan puyu. “Disinggang sa-ngat enak, berharap sekali kalau ada orang melepas kolam dan me-nangguk ikan kecil-kecil di sana. Masa-masa itu 32 tahun yang lalu,” katanya.

     Begitu juga dengan Adisti Vicesta ketika kecil sering menangguk ikan puyu bersama mamanya di sawah. Setelah selesai panen padi di sawah, ia mendapatkan banyak ikan-ikan kecil itu dan dijual ke rumah-rumah dengan berbungkus daun. Saat itu banyak orang yang minat. Ikannya enak apalagi dipunju yaitu sejenis gulai tetapi kelapanya setelah diparut tidak diperas melainkan langsung dimasak bersama ampasnya, kata Adisti.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

    

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url