WISATA GENEALOGI GEDUNG-GEDUNG YANG PERNAH DITINGGALI KOLONIAL BELANDA DI PAYAKUMBUH

   

Rumah C. A. Nieuwenhuijsen: Foto: KITLV  | Lantai Rumah C. A. Nieuwenhuijsen: Foto: Feni Efendi

Wisata genealogi ke gedung-gedung peninggalan kolonial Belanda bisa menjadi cara yang menarik untuk mempelajari sejarah keluarga keturunan Belanda dan bagaimana mereka mungkin telah terhubung dengan masa penjajahan Belanda di Payakumbuh. Dan kota ini memiliki banyak gedung bersejarah yang dapat dikunjungi, seperti gedung-gedung tua di sekitaran Kampung Cina dan di Pasar Payakumbuh.

     Ada beberap gedung yang memiliki peninggalan kolonial Belanda. Kota ini mungkin tidak memiliki banyak gedung bersejarah seperti kota-kota besar, tetapi kota ini  menawarkan kesempatan untuk melihat cara hidup orang Belanda di pedesaan. Pemerintah Hindia Belanda juga memiliki kehadiran yang kuat di kota ini dengan ditandai dengan didirikannya sebuah benteng atau bivak. Pengunjung dapat menemukan banyak peninggalan kolonial Belanda di kota ini, seperti rumah-rumah lama, gereja, makam, dan benteng. Dan wisata genealogi ke gedung-gedung peninggalan kolonial Belanda bisa menjadi pengalaman yang bermanfaat dan mendidik. Ini adalah kesempatan untuk mempelajari sejarah keluarga bagi keturunan Belanda dan bagaimana mereka mungkin telah terhubung dengan masa penjajahan Belanda di kota ini.

     Berikut ini beberapa bangunan, struktur, yang bisa dijadikan wisata genealogi di Kota Payakumbuh:

 

Jembatan Ratapan Ibu

     Pembangunan jembatan ini bertujuan untuk kelancaran transportasi antara Situjuh ke Payakumbuh. Sebab di zaman itu, daerah Situjuh hingga ke Halaban, menghasilkan biji kopi yang sangat berkwalitas. Bahkan kopi-kopi dari Situjuh ini diekspor melalui gudang-gudang (depot) di Bangkinang sehingga kopi-kopi ini terkenal dengan nama Kopi Bangkinang. Adapun Belanda memasuki Payakumbuh pada tahun 1832 semasa perang paderi. Jembatan ini dibangun pada masa P.H. van Hengst yang menjabat sebagai asisten residen ketika itu[1], yang dibangun pada tahun 1836 dan selesai 1840. Dan jembatan ini tidak memakai semen tetapi hanya pasir yang dicampur kapur dan tidak memakai besi.

     Biasanya pembangunan jembatan atau jalan di zaman Belanda itu dilakukan oleh orang laki-laki dewasa di zaman itu. Setiap laki-laki akan dibebankan kerja wajib 25 hari dalam setahun. Selama dalam waktu kerja wajib itu, mereka akan memenuhi kebutuhan makanan dan berbagai hal lainnya sendiri. Dan ini suatu ketetapan pemerintah Hin-dia Belanda sebagai pengganti membayar pajak. Bagi sebagian orang-orang kaya di zaman itu yang tidak mau melakukan kerja wajib maka mereka bisa menggantinya dengan membayar sejumlah uang. 

 

     Sedangkan pada masa agresi militer kedua Belanda tahun 1948—1949, di mana

Agresi Militer Kedua Belanda di Payakumbuh, 23/12/1948. Foto: Anefo.

pada masa agresi militer kedua Belanda itu, kontroler Belan-da di Payakumbuh bernama W.G. Klinj dan kemudian digantikan oleh W. Van Pilis. Dan kantor Tijdelijk Bestuur Amtenar (TBA) saat itu ber-kedudukan di Labuah Baru yaitu di Kantor Badan Pertanahan Kabupa-ten Lima Puluh Kota saat ini. Gedung yang menjadi tempat bersejarah itu telah dirobohkan oleh Badan Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota dan pemerintah Kota Payakumbuh telah terlambat menetapkan gedung bersejarah itu sebagai cagar budaya.

     Di gedung bangunan kayu di lahan Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota itu juga sebagai tempat Dinas Informasi oleh Belanda atau disebut juga Inlchting Dienst (ID) dengan kepalanya Letnan Ofades Treuner dan stafnya Sersan Zsecher. Adapun kaki ta-ngannya atau penghianatnya adalah Nyo Lek An alias De An seorang China. Selain itu juga ada Sastro Dt. Karayiang dan Paduko Dewa dari Koto Nan Gadang.

     Dan dari kesaksian pelaku sejarah yang masih hidup seperti M. Djuri dan Ramli yang berasal dari Padang Alai Nagari Air Tabit mengatakan kepada C. Israr[2] pada hari Kamis, 30 Desember 1948, di pagi hari itu Belanda melakukan operasi dan patroli ke Nagari Air Tabit. Mulai dari Sicincin hingga ke Padang Alai menangkap pemuda-pemuda yang tidak sempat meloloskan diri berjumlah 16 orang dan dibawa ke Markas Belanda di rumah Lamid[3] di dekat Pasar Payakumbuh jam 11 siang dan ditambah lagi dengan tawanan dari Sicincin. Dan pada pukul 16.00 WIB dibawa naik truk melewati Pasar Payakumbuh dan berhenti di Batang Agam.

     Di Jembatan Batang Agam telah menunggu tentara Belanda dan kaki tangan Belanda yang bernama De An keturunan China yang berasal da-ri Padang Tiakar. Dan kaki tangan Belanda tersebut memilih 12 orang tahanan selain M. Djuri, Ramli, Sama, Kasim untuk tiarap di atas jalan dan 4 tahanan lain disuruh pulang dan lalu tentara Belanda memberon-dong semuanya dengan tembakan hingga sampailah ajal mereka. Dan empat orang yang masih tertinggal disuruh melempar mayat-mayat ter-sebut ke Batang Agam dan akhirnya dibolehkan pulang.

     Adapun dari berbagai peristiwa yang saya dapatkan dalam menelusuri korban-korban yang gugur di Jembatan Ratapan Ibu ini di antaranya ayah dari Ibuk Nati di Tiakar yang bernama Jiun. Saat itu umur beliau baru 10 bulan. Peristiwa itu ia terima dari ibunya dan saksi hidup yang menyaksikan peristiwa itu. Ketika itu ayahnya dibawa ke Jembatan Ratapan Ibu dan setelah tiba di sana maka ayahnya ditembaki beberapa kali oleh Belanda namun peluru-peluru itu tidak mampu menembus tubuhnya. Akhirnya Belanda menyuruhnya pulang. Namun baru sampai di pendakian Kapatapiang ia berjalan maka bertemulah seorang kaki tangan Belanda yang juga berasal dari Tiakar. Akhirnya ayah Ibuk Nati itu dibawa kembali ke Jembatan Ratapan Ibu dan diberi tahu kelemahannya kepada Belanda oleh kaki tangan Belanda yang masih dari Tiakar itu. Ayah Ibu Nati itu kembali ditembak oleh Belanda dan lalu tewas dan jasadnya hanyut dibawa oleh arus Batang Agam.

     Selain itu ada juga saya mendapakan keluarga korban yang lain gugur di Jembatan Ratapan Ibu itu yaitu Ibuk Elida Murni yang tinggal di Lundang, Parit Rantang, Koto Nan Empat. Saat itu umur beliau baru 2 tahun ketika ayahnya gugur ditembak oleh Belanda di Jembatan Ratapan Ibu. Ayahnya bernama Muctar Dt. Sinaro Kayo.

     Keluarga korban yang lainnya  adalah dari Ibuk Roslaini atau yang dikenal dengan panggilan Etek Ketek yang tinggal di Sungai Pinago, Koto Nan Empat. Saat itu, rumah gadangnya di geledah oleh Belanda dan 2 orang pemuda bersembunyi di atas loteng rumah gadang. Namun seorang tukang tunjuk (primbumi kaki tangan Belanda) membo-corkan rahasia itu. Maka ditangkaplah kedua pemuda yang bersembunyi itu dan disembelih memakai golok oleh Belanda. Dan kedua pemuda iu gugur dan dikuburkan oleh kaum perempuan. Di antaranya bernama Rani yaitu orang tua dari Etek Ketek. Adapun Etek Ketek saat itu baru berumur 6 tahun.

     Adapun Bapak Barun (lahir 1933), yang masih ada hubungan keluar-ga juga dengan Etek Ketek, mengatakan bahwa pada masa itu pemuda banyak yang bersembunyi dan bertahan di Baruah, Sungai Pinago (persawahan dan tebing-tebing antara Taman Normalisasi Batang Agam de-ngan Sungai Pinago). Bahkan Nurmatias dan Azwar Tongtong juga sering tidur di Baruah yang masih berupa rimba dan semak. Sedangkan keluarga perwira itu tinggal di Surau Usang Bodi di Sungai Pinago.

     Adapun orang yang pernah selamat di Jembatan Ratapan Ibu itu adalah Muktarraden dari Koto Baru Payobasung. Saat Belanda menembaknya ternyata pelurunya meleset sehingga ia pun berguling jatuh ke dalam Batang Agam. Sehingga Belanda tidak menyadarinya bahwa Muktarreden masih hidup.

 

Tugu P.J. Van Hoof

     Selain juga ada Tugu P.J. Van Hoof yang bisa dijadikan wisata genealogi, di mana tugu ini untuk peringatan kepada seorang pastor yang bernama P.J. Van Hoof. Ia lahir di Stratum (Belanda), 25 Januari 1878 dan menjadi pastor di Payakumbuh pada zaman Hindia Belanda dan juga pendiri Parachie (Porochus) Payakumbuh, Gereja Katholik, Sekolah dan Pastorie di Kota Payakumbuh.

     P.J. Van Hoof meninggal dalam perjalanan pulang ke Hindia Belanda pada tanggal 30 Mei 1939 dan dikuburkan di lautan Hindia. Dan pada deskripsi Tugu Peringatan Van Hoof ini tertulis bertuliskan Bahasa Indonesia:

 

Tanda Peringatan

 

Pastoor Van Hoof

O.M.Cap

Lahir di Stratum pada tg

25 Jan 1878

Meninggal doenia dalam perjalanan

Ke negeri Belanda, pada tg. 30 mei

1939. dan dikoeboerkan dalam

Laoetan Hindia

Dianja pendiri dari Parochie

Pajacombo, Geredja, sekola

Dan Pastorie

Dia ada kenalan baik dari segala orang dan Bapa dari sekalian

Kaoem Katholik

Anak-anak jang akoe kasihi,

Sembajanglah oentuk akoe dan

Perboetlah apa jang akoe

Telah adjarkan padamu

 

Makam (Kerkhof) atau Tugu Jenderal L.L.J.H. Pel, Demmeni

     Wisata genealogi lainnya yaitu makam (kerkhof) L.L.J.H. Pel, Demmeni. Tugu Belanda ini dulunya berlokasi SMP Islam Raudhatul Jannah di Labuh Baru. Ada puluhan makam Belanda dulu ada di sini. Dan semua makam itu dibongkar sehingga yang tinggal hanya sebuah tugu peringatan untuk Jenderal L.L.J.H. Pel, Demmeni. Sekolah ini dibangun pada tahun 1995 dan jenderal Hendry Demmeni meninggal di Pajacombo tahun 1886.

 

Stasiun Parit Rantang

     Rel kereta api yang dari Padang Panjang ini telah dibangun sejak tahun 1873 dan selesai 15 September 1896 di Payakumbuh yang dikelola oleh perusahan swasta Belanda yaitu Staat Spoorwegen Ter Sumatera’s Weskust (SSS) dengan kode 320b-24. Dan rel ini diteruskan ke Limbanang Suliki pada 19 Juni 1921 beroperasi dan pada 30 September 1933 sudah tidak dioperasikan lagi dan tahun 1935 jalur kereta api rute ke Limbanang dibongkar.

     Adapun stasiun (lebih tepat disebut halte) dari Parit Rantang ke Limbanang memiliki beberapa stasiun kecil di antaranya Stasiun Lampasi dengan kode 325-3, Stasiun Koto Tangah Simalanggang dengan kode 325-4, Stasiun Taeh dengan kode 325-5, Stasiun Guguak dengan kode 325-6, Stasiun Dangung-dangung dengan kode 325-7, Stasiun Talago dengan kode 325-8, Stasiun Limbanang 325-9.

     Saat ini bangunan Stasiun Koto Tangah Simalanggang itu difungsikan sebagai Puskesmas Pembantu di Nagari Koto Tangah Simalanggang. Dari Koto Tangah ini jalur kereta api diteruskan ke Nagari Taeh Baruah dan lalu tembus ke Guguak. Dari Guguak itu akan terus ke Dangung-dangung dan haltenya terletak di belakang Pasar Dangung-dangung yaitu di lokasi SLB Budi Karya saat ini serta stasiun terakhir berada di Limbanang yaitu tidak jauh di seberang SMA 1 Suliki di Limbanang. Adapun rute stasiun Parit Rantang ke Bukittinggi yaitu melewati beberapa halte di antaranya halte di Piladang (kode 320b-25) yang sekaligus tempat pengisian air untuk kereta api. Setelah itu ada di Koto Tongah Batu Hampar (kode 320b-24) dan lalu di Padang Tarok, Baso, Agam (kode 320b-23). Tujuan dari pembangunan jalur kereta api ke Limbanang (Suliki) ini karena di penghujung abad ke-19 kandungan emas di Mangani, Koto Tinggi, Gunuang Omeh, sudah mulai ditemukan. Selain dari itu, hasil panen tembakau dari Baruah Gunuang dan Guntuang sangat diminati oleh pasar dunia ketika itu.

 

Rumah Ladi Sutan Bandaro

     Rumah Ladi Sutan Bandaro di belakang SPBU Parit Rantang ini dibangun pada tahun 1937. Dan sebelum rumah ini dibangun, lokasi ini dulunya adalah Pasar Kabau dan kemudian dipindahkan ke Labuh Baru (Terminal Pasa Kabau). Dulu di rumah ini, pernah ditempati oleh pemerintah Jepang dan setelahnya oleh tentara Belanda serta tentara pusat di bawah naungan Kodim pada masa PRRI. Dan beberapa dekade lalu, orang-orang Belanda yang pernah tinggal di sini dulu pernah datang mengunjungi rumah ini satu rombongan. "Di sini kami dulu tinggal," katanya kepada Pak Yasril sambil menahan kenangan yang panjang melalui penerjemah.

     Adapun pada masa agresi militer kedua yang ditulis u-lang kembali oleh Saiful Guci dari pelaku sejarah, Ahmad Husein dkk., mengabarkan bahwa dulu dua orang perawat perempuan asal Koto Nan Ompek membantu perjuangan RI. Dua srikandi itu bernama  Rabimar (Bong) dan Dahniar (Ciam).

     Dua perempuan ini berangkat dari rumah Rabimar dan menyamar sebagai penjual tembakau dan gambir Halaban. Dua perempuan ini lalu berkenalan dengan Umar (seorang tentara bayaran Belanda) yang bertugas di pos Belanda di stasiun dan asramanya di rumah Ladi Sutan Bandaro ini.

     Kedua perawat yang menyamar menjadi pedagang tembakau dan gambir ini mengajak Umar untuk memihak kepada RI. Dan Umar pun bersedia untuk menyeberang ke pihak RI. Sebelum Umar meninggalkan pos Belanda maka ketiga orang inipun bersiasat untuk membawa lari senjata milik tentara Belanda. Lalu disusunlah siasat bahwa ketika jam istirahat siang, regu patroli Belanda akan pulang ke asrama, dan Umar akan disuruh menjaga senjata itu. Maka kesempatan itulah digunakan untuk membawa lari senjata ke pihak RI.

     Pada hari senin, menjelang tengah hari, ketiga orang itu segera mem-bawa senjata Belanda itu ke pihak RI yang sudah menunggu di seberang Batang Agam di Tanjung Pauh Sumua Labi (sekarang orang menyebutnya Tanjung Pauh Samo Lagi) pada tanggal 30 Mei 1949. Ketiga orang itu dikejar-kejar oleh pasukan Belanda. Namun untunglah pasu-kan RI tepat waktu menunggu di seberang Batang Agam yang dipimpin oleh Azwar Tong-Tong.

 

Rumah N 303

     Berdasarkan keterangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 29/BCB-TB/A/03/2007 menyatakan bahwa rumah N 303 adalah “rumah asisten residen”. Namun dari peta Belanda tahun 1915 dan tahun 1937 menginformasikan bahwa rumah asisten residen berada di lokasi Kantor Bupati Lima Puluh Kota yang lama atau Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota saat ini. 

      Atas keterangan dari BPCB Sumbar bahwa rumah asisten residen atau N 303 ini berada di Jalan Ahmad Yani sebelah kanan dari arah Jembatan Ratapan Ibu. Tepat di simpang empat jalan jalan ke Simpang Nunang yang bergaya arsitektur Eropa itu. Kesan bangunannya cukup kuno dan bergaya indis tampak pada beberapa komponen bangunan terutama pada kontruksi atap yang berbentuk limas, sirkulasi udara, jendela, maupun pada bagian samping dan belakang rumah. Sedangkan lubang-lubang ventilasi berada di atas kusen jendela.

     Rumah ini berukuran sekitar 25 m x 20m dan dikenal juga sebagai Rumah N 303. Dan rumah ini sudah masuk ke dalam nomor inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar dengan nomor 29/BCB-TB/A/03/2007. Sampai saat ini belum ditemukan bukti otentik tentang rumah asisten residen kecuali dari bukti memori kolektif yang berkembang selama ini.

     Setelah ditelusuri lebih lanjut ketika penulis memasuki rumah ter-sebut, ternyata penulis mendapatkan kesamaan lantai rumah ini de-ngan keterangan foto KITLV dengan nomor inventaris 118642 yang diunggah dan menjadi koleksi di digitalcollections.universiteitleiden.nl  yang berjudul Assistent-resident C. A. Nieuwenhuijsen met zijn gezin te Pajakoemboeh tahun 1919 dengan note: Depicted: Nieuwenhuijsen, C.A.; Nieuwenhuijsende Vries, J.E.; Nieuwenhuijsen, [...] Horend bij A 1089. Inilah foto tersebut:

 

Rumah Lamid St. Madjolelo

     Toko Perabot Yakin di Petak Sago ini dulu sebagai pos pertahanan Belanda pada masa agresi militer kedua tahun 1949. Sebelumnya gedung ini adalah rumah Lamid St. Madjolelo. Ia seorang penggerak kemerdekaan di Payakumbuh dan juga pengurus awal berdirinya Trai-ning College pada 3 Februari 1935 bersama Zainoeddin Hamidij (ke-toea), Roesli A. Wahid, (djoeroesoerat), Lamid St. Madjolelo (bendahari), Rahib dan H. Abd. Hamid Saady (pembantoe). Sampai sekarang, gedung ini masih terlihat asli. Dan sama seperti Bivak, di gedung ini Belanda juga pernah digempur pada masa agresi militer kedua Belanda pada Serangan Umum 28 Februari 1949.

 

Gedung Landraad

     Rumah nomor 1 di Simpang Bunian itu dulunya adalah kantor landraad (pengadilan) di zaman kolonial Belanda. Rumah itu juga pernah didiami oleh Tuanku Demang Pajacombo yang bernama Demang Murad. Dan pada masa agresi militer kedua Belanda tahun 1949, rumah ini dija-dikan sebagai pos pertahanan oleh Belanda.

     Setelah Belanda angkat kaki, rumah ini pernah juga dijadikan sebagai kantor bupati pada tahun 1950 oleh bupati Anwar ZA. Dan setelah itu, rumah ini dijadikan sebagai kantor pengadilan oleh pemda Kabupaten Lima Puluh Kota.

Rumah Potong Hewan

     Rumah potong atau rumah jagal ini sudah dibangun sejak zaman kolonial Belanda. Sampai sekarang, bangunnya masih asli dan bercorak gaya bangunan Eropa. Lokasinya tidak jauh dari Jembatan Ratapan Ibu dan tidak diketahui sejak kapan dibangun. Dan pada bulan Agustus 2021, rumah jagal ini tidak difungsikan lagi dan dipindahkan ke rumah potong hewan modern di Koto Panjang Payobasung.

     Sejak awal pendiriannya bangunan ini difungsikan sebagai tempat pemotongan heawan ternak, ini dapat dilihat dari pola tata ruang bangunan itu sendiri yang dibuat lepas seperti los tampa sekat. Tahun pendirian bangunan ini tidak diketahui secara pasti. Bangunan ini berdenah persegipanjang dengan atap berbentuk limas terbuat dari seng. Kesan bangunan bergaya kolonial dapat terlihat bagian sisi arah depan tempat masuk berbentuk lengkung setengah lingkaran dan tiang yang berukuran 30 cm x 40 cm serta dinding yang tebal dan kokoh. Kondisi bangunan dalam keadaan baik dan sekarang tidak lagi difung-sikan sebagai rumah potong hewan.

 

Bangunan Penjara

     Bangunan Lembaga Pemasyarakatan (LP) ini sudah dibangun sejak zaman kolonial Belanda tahun 1883. Rasuna Said pernah dipenjara di sana pada masa kolonial Belanda dan setelahnya dipindahkan ke Semarang. Sampai sekarang gedung ini masih asli. Lokasinya di samping Plaza Rocky. Adapun pada masa Jepang, para pejabat Belanda banyak yang ditangkap Jepang dan dipenjarakan di sini dan ada seratus lebih orang-orang Belanda meninggal di penjara ini di zaman Jepang.

 

Gedung Pasanggrahan

     Gedung tempat biliar dan karaoke dekat Simpang Benteng ini dulunya berfungsi sebagai pasanggrahan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dari observasi penulis, gedung ini masih asli dengan tiang-tiang berupa kayu dan material dindiang berupa campuran pasir dan kapur.  

 

Eks. Kantor Asisten Residen

     Pada peta Pajakoemboeh tahun 1915 menerangkan bahwa Gedung Persit Kartika Chandara Kirana Cabang LX Kodim 0306 Koorcab REM 032 PD I Bukit Barisan ini dulunya adalah Kantor Asisten Residen pada masa Hindia Belanda. Dari penelusuran penulis terhadap gedung ini bahwa material pembuatan gedung ini masih terbuat dari seperti pasir, batu bata yang dihaluskan, putih telur, dicampur kapur dan air tebu. Sedangkan tonggak dan beberapa bagian lain-nya masih berupa kayu.

 

Gereja Katolik Santo Fidelis A Sigmarinda

     Gedung Gereja San Fransiskus ini berlokasi di samping RSI Ibnu Sina atau di seberang SMP Fidelis. Gereja ini dibangun 25 Januari 1933 oleh Pastor P.J. Van Hoof. Dan saat ini telah menjadi cagar budaya tidak bergerak di Kota Payakumbuh dengan nomor inventaris 15/BCB-TB/A/03/2007 oleh BPCB.

     Gereja Katolik ini memiliki luas bangunan 12 m x 25 m di lahan 65 m x 100 m. Sesuai dengan inkripsi di bagian kanan dinding pintu masuk gereja bagian sisi selatan bertuliskan: ME POSUIT PAROCHUS PJ. Van Hoof 25 Jan 1933.

 

Hollandsch Inlandsche School (HIS)

     Sekolah SMP 1 Payakumbuh ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Namanya HIS atau Hollandsch Inlandsche School atau setingkat dengan Sekolah Dasar pada zaman sekarang. Setelah tamat HIS maka bisa dilanjutkan dengan sekolah MULO setingkat SMP.

     Ketika pada masa Agresi Militer Kedua Belanda tahun 1948, sekolah ini dijadikan sebagai markas militer oleh Belanda. Dan arah depan samping Pos Polisi itu dulunya adalah Gedung Merdeka tempat anak-anak muda menyusun pergerakan.

 

 Bivak atau Benteng Pajacombo

     Bivak ini berlokasi di depan RSU Adnan WD. Sekarang telah mejadi asrama polisi. Dulu ketika Belanda masuk pada Oktober 1832, Bivak ini menjadi kamp (asrama) prajurit Belanda. Dan kawasan ini juga dina-makan Benteng Belanda atau Fort Pajacombo.

     Di dalam literatur (ditulis oleh Nalfira Pamenan di parintangrintang.wordpress.com, 1 Desember 2019) nama Payakumbuh ditemukan dalam artikel koran Belanda yang nama korannya adalah Javasche Courant (13 Desember 1832) dengan ejaan Paija-Comba, sedangkan di koran Nederlandshche Staatscourant (25 Juni 1883) dengan ejaan Paier Bekoembo. Kedua isi koran tersebut tentang laporan penyerangan dan penaklukan Luhak Lima Puluh oleh pasukan Belanda. Adapun literatur selanjutnya dari sebuah buku yang ditulis oleh perwira Belanda yang mengatakan bahwa Paija Comba digambarkan sebagai benteng (fort) markas pasukan Belanda yang terletak di pinggir Batang Agam (asrama Bivak sekarang). Maka dengan demikian, Payakumbuh saat itu adalah sebuah benteng di antara benteng-benteng Belanda yang lainnya seperti Fort de Cock di Bukittinggi, Fort Vander Capellen di Batungsangkar, dll., untuk memerangi Tuanku Imam (maksudnya Tuanku Imam Bonjol) yang bermarkas di Bonjol.

     Pada masa agresi militer kedua Belanda, Bivak ini juga dijadikan oleh Belanda sebagai kamp polisi federal Belanda. Dan tentu, pada Serangan Umum 28 Februari 1949 di Payakumbuh, Bivak ini juga habis dibakar karen diserang oleh pasukan RI. Dan saat ini, kawasan Bivak menjadi asrama polisi di Payakumbuh.

     Pada tanggal 16 Mei 2016, asrama Bivak ini pernah mengalami kebakaran dan 13 rumah dinas di asrama Bivak ini hangus terbakar. Dan pada 19/9/2017, asrama Bivak ini diresmikan oleh Kapolda Sumbar, Irjen Pol Drs. Fakhrizal, M.Hum dengan penandatanganan prasasti bangunan asrama. Dan Bivak (asrama polisi) ini pernah terdaftar sebagai cagar budaya oleh BPCB dengan nomor inventaris 12/BCB-TB/A/03/2007.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url