WISATA GENEALOGI KAMPUNG CINA DI PAYAKUMBUH

 

Yu Dafu. Foto: wikipedia

Kampung Cina di Payakumbuh merupakan sebuah kompleks pemukiman yang mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa yaitu di Lundang Parit Rantang dan Nunang. Kampung Cina ini terkenal dengan arsitekturnya yang khas Tionghoa dan gaya kolonial Belanda yang saat ini belum menjadi destinasi wisata genealogi di Payakumbuh. Dan berbagai potensi wisata gnealogi yang dapat dikembangkan  di Kampung Cina Payakumbuh yaitu dengan berjalan-jalan dan menikmati arsitektur khas Tionghoa dan Belanda. Selain itu, di Kampung Cina ini terdapat banyak restoran dan kedai makanan yang menyajikan kuliner. Pengunjung dapat mencoba berbagai macam makanan lezat, seperti mie goreng, bakso, soto, dan nasi ramas.

     Di Kampung Cina ini juga dapat dikembangkan banyak toko yang menjual souvenir dan aneka pakaian. Pengunjung dapat membeli berbagai macam souvenir, seperti gantungan kunci, kaos, dan hiasan rumah. Selain itu, di Kampung Cina ini diupayakan juga ada atraksi terjadwal tentang budaya Tionghoa seperti pertunjukan tari naga, barongsai, ataupun seni tradisi dari Payakumbuh. Dan salah satu tokoh Tionghoa yang dapat ditelusuri di Payakumbuh dan menjadi salah satu wisata genealogi yaitu Yu Dafu. Di mana pada masa Jepang, ada seorang sastrawan besar China yang ikut berjuang dengan membela pribumi dan keturunan Tionghoa dengan sikap anti Jepang di Pajakoemboeh. Nama samarannya adalah Zhao Lion dan dilidah orang pribumi dikenal dengan nama Coulion.

     Ia melarikan diri dari negaranya karena terlibat konflik dengan Partai Komunis China dan menuju Singapura. Ketika Jepang memasuki Singapura tahun 1942 maka Yu Dafu melarikan diri ke Pajakoemboeh dengan berpindah-pindah tempat dari Selat Panjang, Bengkalis, Desa Padang, Peng-he-ling, hingga ke Siak dan Pekanbaru. Dari Pekanbaru Yu Dafu menaiki bus selama 4 hari ke Payakumbuh. Dan saat itu penduduk Payakumbuh berjumlah 10.000 jiwa dan 2000 di antaranya adalah keturunan Tionghoa.

     Setiba di Payakumbuh, Yu Dafu dicurigai se-bagai agen Jepang. Dan ia menginap di Overseas Chinese Hotel (entah di mana lokasi hotel ini sekarang) dengan nama samaran Zhao Lian. Polisi militer Jepang mengetahui kemampuan Zao yang pandai dalam berbahasa Jepang ketika Zao mengunjungi Cai Chengda (pengusaha Tionghoa di Payakumbuh atau dikenal juga Cai Qingzhu). Kondisinya saat itu ada perdebatan sengit antara Cai dengan polisi militer Jepang namun mereka terkendala dalam bahasa di antara mereka. Maka di saat itulah Zao membantu kedua pihak yang berdebat ini dengan membantunya menerjemahkan bahasa. Sejak peristiwa itu maka Cai diangkat menjadi Kapitan (pelindung) dan Zao terdaftar se-bagai residen Pajakomeboeh.

     Pernah Ayiyama Ryutaro (gubernur) sewaktu di Payakumbuh, dalam sebuah wawancara mengatakan: “Tidak lama setelah saya menjabat (1944—1946), Tuan Zhao mengunjungi saya untuk memberi hor-mat. Pemimpin Tionghoa perantauan adalah Tuan Cai, yang hanya bisa berbahasa Indonesia. Tuan Zhao Fasih berbahasa Jepang dan berpengaruh dalam komunitas Tionghoa. Jadi ketika menerapkan kebijakan kami terhadap orang Tionghoa. Jadi ketika kami menerapkan kebijakan kami terhadap orang Tionghoa perantauan, kami sering kali harus melalui Tuan Zhao.”

     Ada beberapa lamanya, Zhao menjadi penerjemah untuk Jepang yang berkantor di Bukittinggi. Dan dua kali dalam seminggu ia pulang ke Payakumbuh. Namun setelah itu ia mengundurkan diri dengan alasan sedang mengidap penyakit tuberkolosis. Dan selama di Pajakoemboeh, Zhao mulai menghidupi dirinya dengan membuka penyu-lingan anggur atau dikenal juga dengan nama sofi. Dan Komunitas Tionghoa Sedolga di Pajakoemboeh memberikan bantuan dana Rp.400 dan dari investor lokal sebanyak Rp.200. Penyulingan itu berdiri 1 September 1942 yaitu arak yang berbahan beras ketan. Dan pabrik penyulingan itu bernama Penyulingan Zhaoyi yang beralamat di Jalan Tionghoa Perantauan. Di mana Zhao sebagai pemilik, Hu Zhi sebagai akuntan, dan Zhang Chukun (jurnalis dari Singapura) sebagai manajer. Dan anggur Zhao itu sangat poppuler di zaman itu dan pada Juni 1944, Zhao memproduksi anggur dengan merk First Love dan Taibai. Selama di Pajakoemboeh, Zhao menikahi gadis Tionghoa di Padang yang buta huruf. Namanya Chen Lianyou dan diubah oleh Zhao menjadi He Liyou. Pernikahan itu pada 1 September 1943 di Restoran Rongsheng di Padang. Dan mereka melahirkan 2 orang anak.

     Bukittinggi menjadi markas angkatan bersenjata Jepang pada awal 1944 untuk seluruh wilayah Sumatera. Staf militer untuk jabatan tinggi didatangkan dari Singapura. Salah satu agen dari Singapura itu bernama Hong Genpei (seorang Tionghoa) yang ditugaskan untuk menyelidiki orang-orang yang anti terhadap Jepang. Selama di Bukittinggi itu, Zhao Lian diidentifikasikan oleh Hong Genpei sebagai Yu Dafu. Bahkan seorang mantan sebuah kepala sekolah Tionghoa di Pajakomeboeh memberikan kesaksian pada saat itu namun kesaksian itu tidak mengakibat apa-apa terdahap diri Zhao atas tuduhan itu. Namun meski begitu, Zhao selalu diawasi lebih ketat oleh pasukan Jepang setelah itu.

     Zhao sangat bersemangat mengetahui kalau Jepang menyerah kepada sekutu sejak tanggal 14 Agustus 1945. Dan Zhao berkeliling memberi tahu teman-temannya bahwa perang telah usai. Hingga akhirnya pengungsi-pengungsi yang bersembumnyi selama ini menjadi aktif kembali. Ada pada sebuah malam hari, 29 Agustus 1945, teman-teman dari Perusahaan Perkebunan Tionghoa Rantau Sumatera barat berkumpul di rumah Zhao. Ketika acara sedang berlangsung, datanglah seorang pemuda pada pukul 20.00 WIB mengetuk pintu. Setelah berbicara beberapa saat antara Zhao dengan pemuda itu, Zhao kembali mendatangi teman-temannya bahwa dia pergi sebentar dengan pemuda itu dengan memakai piyama dan sandal.

     Teman-temannya masih menunggu Zhao sampai tengah malam namun Zhao belum juga pulang. Hingga di pagi harinya, istri Zhao melahirkan anak kedua mereka berjenis kelamin perempuan namun Zhao belum juga kembali. Namun belakang diketahui bahwa malam itu Zhao bersama pemuda itu pergi ke kedai kopi terdekat. Pemilik  kedai kopi melihat mereka berdua berbicara Bahasa Indonesia. Dan Zhao terlihat kesal dan marah.

     Sekitar pukul 21.00 WIB, kedua orang itu meninggalkan kedai kopi. Dan seorang petani yang melihat kejadian itu di tengah kegelapan malam ada sebuah mobil terparkir di jalan yang sepi dan menjemput kedua laki-laki itu. Dari spekulasi yang ada, dan  diduga, Zhao dibawa ke Jembatan Ratapan Ibu untuk dieksekusi tanpa diketahui di mana jasadnya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url