Anak Rantau
|
Main talempong. Foto: antaranews.com |
Dua atau tiga dekade yang lalu, setiap orang sudah tamat SMP atau SMA dan tidak lagi melanjutkan pendidikannya maka mereka akan mencoba-coba berbagai pekerjaan. Biasanya pergi bekerja proyek sebagai buruh bangunan. Kalau bukan kerja buruh bangunan bisa juga pergi ke sawah menerima upah bekerja di sawah atau di ladang orang lain. Ya, begitulah cara hidup dan berpikir orang zaman dulu.
Setelah satu atau dua tahun kerja proyek sebagai buruh bangunan, atau kerja di bengkel, ataupun di sawah, maka muncullah keinginan merantau karena kalau terus-terusan di kampung akan menjadi per-gunjingan orang. Apalagi kalau hidup di kampung itu hanya hilir mu-dik dan berjudi serta narkoba, tentu sangat berbulu sekali mata orang melihat kita. Maka karena tidak tahan di kampung lalu akhirnya pergi merantau.
Mula-mula di rantau itu menumpang kepada sanak keluarga. Biasa itu dunsanak kampung, mamak dengan kemenakan, atau juga sanak sekampung. Terkadang dunsanak tempat menumpang pun kehidupan ekonominya susah pula, tetapi bagaimanapun, ia terpaksa juga menerima dunsanak yang datang dari kampung itu tinggal di rumahnya. Jika tidak diterima, entah bagaimana nanti mulut orang kampung. Bisa-bisa nanti orang menganggap kita tidak membantu dunsanak di rantau. Hanya mementingkan diri sendiri. Bisa berkerat rotan nanti berdunsak. Dan tentu, ungkapan “dunsanak itu hanya badan bukan uang” bisa tersebar nanti di kampung. Kalau sudah begitu, maka hilang dan habislah harkat dan markat kita di kampung. Rasa-rasanya tak sanggup lagi kaki ini melangkah ke kampung.
Setelah tinggal di rumah dunsanak itu, tentu dunsanak itu akan mencarikan pula pekerjaan untuk dunsanak yang baru datang itu. Lalu berkelilinglah dunsanak itu menghubungi relasinya agar dunsanaknya yang dari kampung itu bisa bekerja bersama relasinya itu. Biasanya pekerjaan yang mudah didapatkan itu adalah sebagai penjaga toko. Atau kalau beruntung bisa bekerja di sebuah pabrik menjadi buruh. Ataupun kalau tidak, terkadang pekerjaan yang tersedia adalah sebagai buruh bangunan di sebuah proyek. Jika sebelumnya di kampung bekerja buruh bangunan maka di rantau pun juga bekerja buruh bangunan. Tapi tak apalah, apapun pekerjaan kita orang kampung tidak tahu dan ketika pulang nanti kita akan disebut orang yang berhasil di rantau. Apalagi nanti kalau di kampung gaya bahasa sedikit berobah dan nyaris lupa bahasa kampung meski merantau baru cuma dua atau tiga kali musim panen padi saja.
Rasanya tidak lengkap juga kalau pulang membawa mobil rental yang disewa selama seminggu ketika di hari raya. Lalu mentraktir orang-orang selapau. Meski untuk mewujudkan semua itu harus mengirit masakan di rantau yang hanya dari maco ke maco saja sehingga menjelang pulang kampung di hari lebaran dapat pula diri itu menyewa mobil Avanza untuk dapat berlagak di kampung.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau