Malapau
|
Malapau. Foto: langgam.id |
Ada juga sebuah tradisi orang minang sejak dulu dan termasuk di Payakumbuh yaitu tradisi pergi ke lapau. Sehingga seakan-akan ada istilah untuk lelaki Minangkabau yaitu ka surau, ka lapau, dan ka rantau. Dan memang, dulunya orang lelaki yang tak biasa duduk di lapau termasuk aib dan kurang wajar. Jika lelaki sudah takut menghadapi orang ramai maka sama seperti tupai tua.
Akhir-akhir ini, lelaki yang tidak malapau itu dianggap bagus. Apalagi lelaki itu seorang yang taat pada agama. Karena saat ini laki-laki yang duduk di lapau itu dibayangkan orang-orang suka main domino, suka bergunjing tak kenal hari siang atau malam. Padahal zaman dulu lelaki ke lapau itu untuk mengasah kepandaian berdebat, mengendalikan diri dan orang lain, dan juga tempat mengasah kepandaian berpikir. Tetapi anak-anak muda zaman sekarang lebih suka memilih bertemu dan berdiskusi dengan teman sebayanya di kafe. Sedangkan orang-orang lama sebagian lebih suka mempergunjingkan orang-orang sekampungnya. Lalu orang-orang yang kena gunjing itu pun akan membuka pergunjingan pula untuk menggunjing orang tadi. Sehingga pergi malapau sekarang lebih banyak mendengar pergunjingan dan tentu ini sangat tidak sehat untuk perkembangan jiwa dan raga.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau