EKS. GEDUNG PERGURUAN TINGGI NEGERI PERTANIAN (UNAND)

 

Perguruan Tinggi Negeri Pertanian (Unand). Foto: Feni Efendi

Di seberang jalan SMP 1 Payakumbuh, sebuah tugu sederhana ber-diri tegak, membisu namun menyimpan narasi panjang tentang sejarah pendidikan tinggi di Sumatera Barat. Tugu itu adalah saksi bisu peresmian Fakultas Pertanian Perguruan Tinggi Negeri Perta-nian pada 30 November 1954, sebuah tonggak bersejarah yang diresmikan oleh Menteri Pengajaran dan Kebudayaan, Moh. Yamin, serta Wakil Presiden RI, Moh. Hatta. Lebih dari sekadar penanda, tugu ini adalah simbol keberanian dan visi para pendahulu dalam membuka gerbang ilmu pengetahuan di luar Pulau Jawa.

      Fakta bahwa Fakultas Pertanian ini menjadi yang pertama di luar Jawa pada masa itu, mencerminkan semangat desentralisasi pendi-dikan yang digagas oleh para pemimpin bangsa. Di tengah keterba-tasan pasca-kemerdekaan, Payakumbuh dipilih sebagai lokasi, menunjukkan potensi dan kesiapan masyarakat Luhak Lima Puluh dalam menyambut pendidikan tinggi. Tugu Gambir ini bukan hanya menandai sebuah peristiwa, tetapi juga mengukuhkan Payakumbuh sebagai salah satu pusat perintis pendidikan tinggi di Sumatera.

      Kisah berlanjut dengan pendirian Universitas Andalas (Unand). Gagasan mendirikan akademi telah muncul sejak 1948, melahirkan berbagai akademi seperti Akademi Pamong Praja dan Akademi Pendidikan Jasmani. Keberhasilan ini menjadi landasan kuat untuk pendirian Unand, yang namanya diusulkan oleh Bung Hatta, merujuk pada Pulau Sumatera yang dikenal sebagai Pulau Andalas. Peresmian nama Unand oleh Bung Hatta di Bukittinggi pada 13 November 1956, menegaskan komitmen para pendiri untuk mem-bangun lembaga pendidikan yang berkualitas di Sumatera.

     Perjalanan Unand tidak terhenti di Bukittinggi. Pada tahun 1987/1988, kampus Unand didirikan di Limau Manih, Padang, diawali dengan pendirian Politeknik pada tahun 1982-an. Per-pindahan ini menunjukkan perkembangan dan pertumbuhan Unand, yang terus berupaya memperluas jangkauan pendidikan tinggi di Sumatera Barat. Di balik peristiwa besar itu, terselip kisah-kisah kecil yang menghangatkan. Columba Livia, melalui cerita ibunya, menga-badikan momen ketika "puti-puti bungsu" Luhak Lima Puluh men-jadi anggota paduan suara menyambut Bung Hatta. Kesederhanaan dan kehangatan momen tersebut, ditambah dengan kekaguman akan kecantikan Ibu Rahmi Hatta, memberikan dimensi manusiawi pada sejarah yang seringkali terasa formal dan kaku.

     Tugu Gambir, dengan demikian, bukan sekadar monumen fisik, tetapi juga monumen naratif. Ia menyimpan cerita tentang visi, kebe-ranian, dan semangat para pendahulu dalam membangun pendi-dikan tinggi di Sumatera Barat. Ia menjadi pengingat bahwa Paya-kumbuh, dengan segala kesederhanaannya, pernah menjadi titik awal dari perjalanan panjang pendidikan tinggi di Pulau Andalas. Tugu ini mengajak kita untuk merenungkan kembali sejarah, menghargai jasa para pendahulu, dan melanjutkan semangat mereka dalam memajukan pendidikan di Luhak Nan Bungsu.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url