EKS. KANTOR BUPATI LIMA PULUH KOTA
|
Eks. Kantor Bupati Lama. Foto: Feni Efendi |
Bangunan Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota, yang dulunya merupakan Kantor Bupati, menyimpan lembaran-lembaran sejarah yang kaya. Di halamannya, dua meriam dan sebuah Tugu 17 Agustus berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang daerah ini. Lebih dari sekadar bangunan administratif, tempat ini adalah mozaik narasi yang merangkai masa lalu, kini, dan mungkin, masa depan Lima Puluh Kota.
Kisah dimulai jauh sebelum bangunan megah itu berdiri. Para tetua masyarakat sering menuturkan bahwa di lokasi ini dulunya berdiri rumah Tuanku Luhak, sebuah istilah yang merujuk pada bupati pada masa lampau. Di era revolusi, sebutan ini masih melekat, menandakan kontinuitas kepemimpinan dalam masa transisi yang penuh gejolak. Setelah era kolonial Belanda berakhir, lokasi ini beralih fungsi menjadi terminal pedati, sebuah pusat aktivitas ekonomi yang ramai. Ratusan pedati memadati area ini setiap pekan akad, menciptakan denyut nadi perdagangan yang vital. Pungutan "beo," semacam biaya parkir dan operasional pasar, menjadi sumber pendapatan, mencerminkan sistem ekonomi yang berlaku pada masa itu.
Bangunan Kantor Bupati sendiri diperkirakan dibangun setelah tahun 1950-an. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa pada tahun 1950, kantor bupati masih berlokasi di Simpang Bunian. Keberadaan gerbang di masa lalu menambahkan kesan formal dan terstruktur pada kompleks ini. Pada era 1980-an, halaman kantor bupati menjadi ruang publik yang hidup, dengan pemutaran film layar tancap yang menghibur masyarakat. Di sisi kiri belakang gedung, TK Pertiwi telah berdiri sejak tahun 1969, menjadi saksi perkembangan pendi-dikan anak usia dini di daerah ini.
Namun, jejak sejarah yang paling mendalam mungkin terletak pada masa sebelum kemerdekaan. Pada zaman Hindia Belanda, lokasi ini adalah rumah Assisten Resident Afdeeling Lima Puluh Koto, sebuah pusat kekuasaan kolonial. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi ini sejak lama memiliki nilai strategis dan administratif. Di belakang kantor bupati, dulunya terdapat jalan tembus menuju Lapangan Paliko atau jalan pintas ke Simpang Bunian, memper-lihatkan bagaimana tata ruang kota telah berubah seiring waktu.
Dua meriam yang berdiri gagah di halaman Dinas Kesehatan, bersama dengan Tugu 17 Agustus, adalah simbol-simbol yang meng-ingatkan kita pada perjuangan dan semangat kemerdekaan. Meriam-meriam itu mungkin pernah digunakan dalam pertempuran, atau mungkin hanya menjadi simbol kekuatan dan pertahanan. Tugu 17 Agustus, di sisi lain, adalah pengingat abadi akan proklamasi kemerdekaan Indonesia, sebuah momen penting yang mengubah arah sejarah bangsa.
Kini, bangunan yang dulunya menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi ini berfungsi sebagai Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota. Perubahan fungsi ini mencerminkan dinamika perkembangan masyarakat dan kebutuhan zaman. Namun, jejak-jejak sejarah yang tertinggal di halaman dan di dalam dinding bangunan ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Lima Puluh Kota. Mereka adalah saksi bisu dari masa lalu yang membentuk masa kini, dan akan terus menginspirasi generasi mendatang untuk menghargai sejarah dan membangun masa depan yang lebih baik.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau