EKS. KANTOR ASISTEN RESIDEN

 

Gedung Persit Kartika Chandara Kirana Cabang LX Kodim 0306 Koorcab REM 032 PD I Bukit Barisan. Foto: Feni Efendi

Pada peta Pajakoemboeh tahun 1915 menerangkan bahwa Gedung Persit Kartika Chandara Kirana Cabang LX Kodim 0306 Koorcab REM 032 PD I Bukit Barisan ini dulunya adalah Kantor Asisten Residen pada masa Hindia Belanda. Dan Gedung Persit Kartika Chandra Kirana Cabang LX Kodim 0306 Koorcab REM 032 PD I Bukit Barisan, kini menjadi pusat kegiatan organisasi istri prajurit, menyimpan jejak masa lalu yang kaya, mengisahkan perubahan zaman dari era kolonial hingga masa kini.

     Bangunan ini, yang dulunya merupakan Kantor Asisten Residen pada masa Hindia Belanda, adalah bukti nyata arsitektur kolonial yang kokoh dan berkarakter. Material pembangunannya, yang terdiri dari campuran pasir, batu bata yang dihaluskan, putih telur, kapur, dan air tebu, mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Teknik konstruksi ini, yang mengandalkan ba-han-bahan alami, menghasilkan bangunan yang kuat dan tahan lama, mampu bertahan melewati berbagai guncangan zaman.

     Tonggak dan beberapa bagian lain dari bangunan ini yang masih berupa kayu, menambah sentuhan keaslian dan kekunoan. Kayu-kayu yang telah berusia puluhan bahkan mungkin ratusan tahun ini, menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting yang terjadi di Paya-kumbuh. Keberadaannya mengingatkan kita akan keahlian para tukang bangunan masa lalu, yang mampu mengolah kayu menjadi elemen bangunan yang indah dan fungsional.

     Perubahan fungsi bangunan dari Kantor Asisten Residen menjadi Gedung Persit Kartika Chandra Kirana, mencerminkan dinamika sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Setelah kemerdekaan, ba-ngunan ini tidak lagi menjadi simbol kekuasaan kolonial, melainkan beralih fungsi menjadi ruang bagi kegiatan organisasi istri prajurit. Di sini, para anggota Persit berkumpul, belajar, dan berkarya, mene-ruskan semangat perjuangan dan pengabdian dalam konteks yang berbeda. Dan gedung ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan juga simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Payakumbuh. Ia menjadi pengingat akan masa lalu yang kompleks, sekaligus menjadi ruang bagi masa kini untuk membangun masa depan. Kebera-daannya yang dilestarikan, menunjukkan penghargaan terhadap warisan sejarah dan budaya, serta komitmen untuk menjaga memori kolektif.

     Namun, lebih dari sekadar nilai sejarah, Gedung Persit Kartika Chandra Kirana juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ia menjadi pusat kegiatan yang mempererat tali silaturahmi antaranggota Persit, serta menjadi tempat untuk mengembangkan berbagai keterampilan dan pengetahuan. Di sini, semangat kebersamaan dan gotong royong tumbuh subur, menciptakan komunitas yang kuat dan solid. Dalam konteks yang lebih luas, Gedung Persit Kartika Chandra Kirana adalah cermin dari transformasi masyarakat Indonesia. Ia menun-jukkan bagaimana sebuah bangunan dapat beradaptasi dengan peru-bahan zaman, tanpa kehilangan esensi dan nilai-nilai yang terkan-dung di dalamnya. Gedung ini adalah bukti bahwa sejarah tidak hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masa lalu membentuk masa kini dan masa depan.

     Oleh karena itu, pelestarian Gedung Persit Kartika Chandra Kirana bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi Persit, melainkan juga tanggung jawab seluruh masyarakat Paya-kumbuh. Mari kita jaga dan rawat bangunan bersejarah ini, agar dapat terus menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah, dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url