Kedai Koa (Ceki) yang Sudah Tidak Seperti Dulu

 

Main Ceki. Foto: balebengong.id

     Di tahun 1994, sewaktu saya masih kelas 4 SD, sebuah kedai ceki/koa hanya berjarak 10 meter di depan kiri rumah. Dan di seberang jalannya sekitar 50 meter juga ada kedai koa yang dibangun di tepi tebing. Di bawahnya kolam ikan dan di belakangnya rumpun bambu. Ke depannya arah tenggara menghadap bentangan sawah dan Gunung Sago. Lalu 100 meter di samping kanan rumah saya, yang dibatasi sebuah kebun dan rumah, juga ada kedai tuak. 

     Begitulah keadaan di tahun 1990-an. Semua terlihat biasa-biasa saja. Terkadang anak-anak yang seusia SMP yang putus sekolah, sudah lumrah berada di kedai koa itu. Saya tidak tahu apakah orang-orang tua saat itu khawatir terhadap perkembangan anak-anaknya yang bakalan terpengaruh oleh candu judi yang khas daerah lokal itu. Namun anak-anak sezaman saya nyaris tidak ada yang tidak pandai bermain koa itu.

      Kedai koa saat itu masih berupa kedai yang dindingnya dari papan, atapnya dari rumbia, dan berlantai tanah. Biasanya berukuran 6 x 8 meter. Di dalam terdapat beberapa meja dan kursi kayu yang ditanamkan ke tanah. Setiap meja akan diisi oleh 6 orang pemain. Terkadang dalam sebuah kedai koa itu terdapat 5 hingga 8 meja. Dan satunya lagi lesehan tempat tidur atau tempat duduk bagi yang berhenti main.

     Pada bagian belakang terdapat dapur untuk membuat minuman atau makanan yang dipesan oleh para pemain. Bisa itu teh manis, kopi, teh telur, mie goreng, atau mie rebus. Dari penjualan itulah pemasukan bagi pemilik kedai. Selain itu ada juga uang belek bagi pemilik kedai ketika setiap kali koa putus, maka belek pun harus diisi. 

     Begitulah kedai-kedai koa itu tumbuh di tengah masyarakatnya. Di tengah pemerintahan negara dan adat yang aman dan damai saat itu juga berdamai dengan kehadiran kedai-kedai koa itu. Namun sejak tahun 2000-an, kedai-kedai koa sudah mulai menghilang saya lihat. Setidaknya tidak lagi vulgar terlihat di tepi jalan oleh orang-orang lalu.  

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url