Sabung Ayam yang Nyaris Punah
Sabung Ayam. Foto: detik.com
Tradisi sabung ayam yang sudah mendarah daging sejak ada yang namanya Minangkabau itu, kini nyaris punah di Payakumbuh. Saya masih ingat ketika di tahun 1990-an, gelanggang sabung ayam itu dulu pernah ada di Padang Alai dekat Bukit Sambek dan juga di Taram. Tentu semua itu tidak lepas dari kebijakan walikota yang mengeksekusi pelarangan sabung ayam dengan ancaman hukum pidana.
Di pertengahan tahun 1990-an itu, ketika saya masih memakai seragam merah putih, nyaris semua anak laki-laki menyukai sabung ayam. Setidaknya punya satu ayam jantan yang dikepit ke mana-mana untuk diadu. Ayam jantan yang jago berkelahi punya tanda-tanda tersendiri. Setidaknya begitulah kata-kata pakar ayam di zaman saya dulu. Mulai dari sisiknya yang rapi, jegernya yang rendah, dan ada susuk di sayapnya. Namun susuk di kaki harus dibalut handiplash jika akan bertanding. Jika sudah begitu, harga seekor ayam jago bisa ratusan ribu. Bayangkan saja saat itu harga emas 2 gram masih tujuh puluh ribu rupiah.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau
|
|