LAPANGAN PALIKO
Bekas Lapangan Paliko. Foto: Feni Efendi
Lokasi Balai Kota Payakumbuh ini dulunya di samping La-pangan Paliko dan kemudian hari bernama Lapangan Kapten Tan-tawi. Lapangan ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Di seberang jalannya yaitu Bank BTN sekarang dulunya adalah rumah sakit Gouvernement Hospital. Dan SD Negeri di depan Balai Kota ini termasuk sekolah lama. Dan tidak jauh dari sana, dekat simpang Bunian itu ada Kantor Bupati Kabupaten 50 Kota pada tahun 1950-an.
|
|
Tahun 1980 hingga 1990-an, semangat olahraga dan berkesenian sangat besar di Payakumbuh. Sehingga melahirkan atlet-atlet nasio-nal seperti Nil Maizar, Jafri Sastra, dll. Di dalam lapangan Poliko ini juga pernah diadakan konser-konser dengan artis ibukota. Serasa wah sekali waktu itu ketika bisa melihat langsung seorang artis. Dan tak jarang, lapangan ini juga menjadi tempat kampanye akbar bagi sebuah partai politik. Karena di zaman itu partai politik cuma tiga maka berganti-gantianlah memakai lapangan ini. Tentu kampanye akbar itu juga mendatangkan artis ibukota untuk menyedot masa datang lebih banyak. Maka bergoyang rialah warga kota di hari yang panas itu.
Lapangan Paliko ini juga pernah ramai ketika almarhum K.H. Zai-nuddin MZ, da'i sejuta umat, datang ke Payakumbuh dan menyam-paikan ceramah di lapangan ini. Saking ramainya, jamaah meluber hingga ke luar lapangan. Kisah itu sekitar tahun 1989/1990, di mana kaset-kaset Zainuddin sangat booming di putar di radio-radio, pasar, masjid, kata Zikri Zet mengenang masa kecilnya.
Sebelum lapangan ini dialihfungsikan, dulu sangat menakutkan melewati jalan sekitar lapangan ini. Apalagi ketika jam sudah lewat 10 ke atas. Di sini sering duduk-duduk beberapa orang mirip perem-puan berambut panjang, menghisap rokok, dan sesekali menyetop orang yang lewat. Mulanya aneh juga, namun ketika suaranya ter-dengar seperti suara laki-laki, tentu didorong saja sepeda sambil berlari seken-cang-kencangnya.
Tepat di lokasi Kantor Walikota ini dulunya adalah bekas sekolah SPG tempo dulu. Di sampingnya sekolah SMP Fidelis. Sasudah lahan Paliko ada Kantor Pajak Gadai. Di sebalah Pajak Gadai adalah rumah ABS. Dan di sebarang ABS ada mess pengadilan. ABS itu singkatan dari nama Abu Bakar Sidik. Pengusaha dan kontraktor saisuak. Masih ke-luarga pendiri Sekolah Muhammadiyah yang di Bunian itu, kata Doni Dwinanda. Sedangkan kantor bupati zaman dulu berlokasi di belakang orang yang menjual buah di Simpang Bunian (tahun 1950-an awal). Pernah pula menjadi komplek pengadilan. Dulu yang per-nah menjadi Bupati adalah Sutan Anwar, orang Koto Kociak. Anak-nya dr. Dyahril Anwar yang menikah dengan Mutia Farida, nama yang sama dangan anak Bung Hatta, kata Rima Dessi.
Dulu setiap malam Minggu ada layar tancap di Lapangan Paliko ini. Sangat penuh penontonnya dengan cara duduk di rumput sambil makan kacang goreng. Saat itu tahun 1980-an walau masuknya harus memanjat tembok, kata Jasril. Selain itu, di tempat ini juga tempat latihan menari dan latihan pramuka. Apalagi bagi anak-anak Kelu-rahan Bunian saat itu, kata Irna. Ada pula memori Columba Livia, Hendral, dan Zamdedi, yang pernah menjadi penggerek bendera di sini. Istilah Paski baru muncul baru-baru ini. Kalau dulu cuma peng-gerek bendera saja, kata Columba Livia.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau