GELANGGANG PACUAN KUDA

 

Tribun Gelanggang Pacuan kuda. Foto: Feni Efendi

     Gelanggang pacuan kuda ini dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1901. Pembangunan gelanggang ini setelah selesai dibangunnya Gelanggang Bancah Laweh di Padang Panjang dan Gelanggang Bukit Ambacang di Bukittinggi yang disambut an-tusias oleh warga. Dulu pada masa Hindia Belanda namanya Gelang-gang Serikat yaitu perserikatan 13 lareh di Afdeeling Lima Poeloeh Koto. Dan lareh itu setingkat camat pada masa sekarang. Pemim-pinnya disebut Tuanku Lareh atau Angku Lareh. Dan Nagari Tiakar, Payobasung, serta Andaleh tergabung dalam satu lareh dengan nama Lareh Payobasung.

     Adapun lahan gelanggang ini terletak di dalam dua nagari yaitu Nagari Tiakar dan Nagari Koto Nan Godang. Saya masih ingat bebe-rapa orang datuk-datuk dan orang-orang tua zaman dulu memberi tahu bahwa batas tanah orang Tiakar dari ujung sana ke ujung sana. Dari ujung itu ke ujung itu adalah tanah orang Koto Nan Gadang. Sampai sekarang gelanggang ini dikelola oleh pemerintah kota sebagai hak pakai.

     Pada masa dulu, ada sebuah tribun di tengah gelanggang. Dan se-telahnya ada tribun bertingkat tempat panitia dan juri di arah ger-bang tenggara sekarang untuk melihat kuda yang berpacu dalam perlombaan. Tentu saja acara itu disoraki oleh MC Mak Kancia (alm) dengan suaranya yang khas itu. Dan memang, pacuan kuda semakin meriah oleh beliau. Di gerbang pacuan kuda itu, di lokasi Masjid Amaliyah se-karang, ada warung lontong pical dan soto yang ber-nama Arifin Ayang yang sangat terkenal pada masa itu. Dan setiap pagi kuda-kuda pacuan itu dibiasakan rutin berlatih di sini. Selain itu, di areal sekitar gelang-gang ini juga ramai didatangi warga untuk berolahraga. Baik pagi hari ataupun sore.

     Pada masa dulu, ketika alek pacuan kuda diadakan, maka orang-orang akan meninggalkan sawah ladang. Mereka membawa anak dan istrinya. Kain panjang juga dibawa sebagai atap kemah. Dan tikar pandan dikepit juga ke gelanggang ini. Hal yang paling diingat warga kota tentang pacu kuda tempo dulu yaitu membeli air nira yang masih memakai botuang dan juga tebu tusuk. Sebelum alek pacu kuda dimulai, masing masing nagari datang untuk bergotong royong membuat tempat berteduh. Atapnya dari daun kelapa yang dikanyam. Sedangkan tonggaknya dari bambu.

     Ketika malam hari sebelum pacuan, orang-orang sudah ramai di Pasar Payakumbuh. Ada pula pasar malamnya. Dan sebagian ada yang menonton di Bioskop Rex, Kencana, atau di Bioskop Karya. Se-dangkan untuk siang harinya, mobil angkutan umum didatangkan dari Bukittinggi untuk transportasi penonton itu, kata Afdal Arta.

     Biasanya alek pacu kuda ini diadakan pada hari Sabtu dan Ming-gu. Seluruh siswa SD dan SMP diliburkan. Biasanya cara masuk anak-anak bukan dengan membeli kascis akan tetapi menunggu orang besar masuk dan kalau kenal langsung pegang tangannya se-hingga tidak perlu membeli karcis. Dan jika waktu makan siang telah tiba mereka duduk-duduk atau berdiri di depan warung-warung makan yang ada dan jika ada orang-oranng besar tadi kenal dan se-dang menang pastilah mereka mengajak makan, kata Yogi Satrio mengenang masa kecilnya menonton pacuan kuda.

     Tebu tusuk sangat diminati zaman itu. Teh es yang diberi pipet sa-ngat laku terjual. Telur asin juga ada. Beberapa orang sengaja mem-belinya di hari kedua ketika pacuan hampir berakhir maka telur-telur asin yang gurih itu akan dijual murah sekali.

     Permainan di tengah Gelanggang itu juga banyak sekali ragam-nya. Ada yang cabut benang yang kalau beruntung akan mendapat-kan sebuah pistol mainan. Tapi ingat, kantong saku harus dijaga karena musim sekali para copet di zaman itu. Sedangkan nama-nama kuda yang sangat melegenda sejak dulu adalah Langkisau, Pajero Dupon, Putra Samulos, Ratu Sumcin, Harimau Kumbang, Bintang Bukik Apik, Kalabu Asok, Jet Ski, dll. Sedangkan joki-jokinya adalah Si Lunak, Arifin (Cipin), Anton, Momon, Talun, Barat, dan Buya HAMKA se-waktu remaja juga pernah menjadi joki di sini sekitar tahun 1920-an.

     Sebelum pacuan kuda diadakan, kuda-kuda dari berbagai daerah telah datang di Payakumbuh. Dan masyarakat pun mendirikan kan-dang-kandang kuda yang akan disewa oleh pemilik-pemilik kuda itu. Ada juga yang bekerja mencari rumput untuk dijual kepada pemilik kuda. Sedangkan emak-emak juga ada yang membuka kedai nasi dadakan tempat langganan makan bagi para perawat kuda itu.

     Adapun ketika hari pacuan kuda, anak-anak muda di Tiakar dan Kubu Gadang ada yang membuka lahan parkir. Mereka telah menge-tahui batas-batas wilayah parkir masing-masing. Selain itu ada juga yang menjual tiket, penjaga gerbang, dan panitia bagian administrasi. Dan tentu pada hari pacuan itu, Bapak Gubernur, Walikota, dan Bupati, serta jajaran setingkat akan berada di bangku kehormatan tribun panjang.

     Selain pacuan kuda, gelanggang ini dulu juga pernah sebagai tempat diadakannya balap motor cross. Tinggi sekali jamping motor itu. Diikuti juga oleh crosser-crosser nasional di zaman itu seperti Popo Hartopo dan Tong Eng. Dan ketika acara hampir berakhir, pembalap Cemenk akan mempertunjukkan antraksinya dengan jamping mele-wati beberapa mobil. Sangat mendebarkan sekali acara itu. Namun pada akhir tahun 1990-an acara itu ditiadakan sama sekali. Acara balap cross itu lebih sering diadakan di Padang Cubadak Sicincin dan di Koto  Panjang Payobasung. Namun sekarang sudah tidak ada lagi.

     Pertunjukan sirkus juga pernah di gelanggang ini. Biasanya per-tunjukan itu selama dua minggu hingga sampai satu bulan jika penontonnya selalu ramai. Dan jika cuaca bagus, gelanggang itu sangat ramai dengan lampu-lampu tenda sirkus yang spektakuler. Serta lampu-lampu yang diarahkan ke langit sehingga membentuk cahaya kembang api yang bisa terlihat sangat jauh. Karena cahaya lampu-lamu ini, ada sebagian daerah menganggap hari telah kiamat. Bertangisanlah orang ke halaman karena mengira hari kiamat tiba.

     Selain itu juga pernah diadakannya Pasar Malam. Dan lagi-lagi acara juga sangat ramai. Ada roda-roda maut, rumah hantu, lempar gelang, dan berbagai permainan lainnya. Biasanya pertunjukkan sir-kus itu bernama Oriental Sirkus. Doni Dwinanda yang lahir di akhir 60-an masih mengingat bahwa nama kuda yang paling tenar saat itu adalah Kalabu Asok dan Jumbo Jet. Dan nama joki adalah si Lunak. Kuda Jumbo Jet dan Joki si Lunak masih eksis sampai tahun 1980-an. Masa itu, angkutan umum didatangkan dari dari Bukittinggi. Tertulis di badan mobil itu City Ekspres karena angkot Sago belum ada sekitar tahun 1975. Adapun Herman Leeroth mengenang gelanggang ini akan waktu-nya jajan kerupuk kuah dan air tebu. “Whempy Cecep Tiaka, pernah juga menang balapan di sini,” kenangnya. “Kini pacu kuda sudah kalah dengan game online, tidak seperti anak saisuak yang membawa nasi dari rumah untuk melihat joki si Lunak dan kuda Kalabu Asok,” tambah-nya lagi.

     Adapula Srigita Ria yang dulu pernah menjual karcis, membuka parkir di depan rumah, dan mendapatkan baju kaos merek nama kuda yang diberi bos-bos kuda yang makan dan minum di kedainya. Juga memasukkan kawan gratis ke dalam gelanggang karena ia orang Tiakar. Sedangkan pengalaman Novitra Besni dan Rini yang masih SMP saat itu di Tanah Sirah, mereka mendekati polisi yang sedang razia dan kantong plastiknya penuh dengan uang razia ketika itu. Mereka meminta uang kepada polisi itu untuk menonton pacuan kuda, namun tak disangka Pak Polisi itu memberikan mereka uang dengan uang razia itu untuk menonton pacuan kuda.

    Begitupun dengan Neneng Purwadi yang mengingat masa-masa ia bertanding motocross di gelanggang ini tahun 1988-1990 sebagai pembalap wanita. Saat itu bertanding belum memakai wearpack seperti sekarang, katanya. Saat itu pembalap wanita lainnya Rita Rusli.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url