MAKAM ABDULLAH ATAU MBAH WONGSO

 Makam Abdullah atau Mas Wongso di Bunian. Foto: Feni Efendi

Terselip di balik hiruk-pikuk Simpang Tiga Bunian, tepat di belakang bekas Gedung Pengadilan/Rumah Demang, bersemayam sebuah ma-kam yang menyimpan kisah panjang dan berliku. Makam Abdullah, atau yang lebih dikenal sebagai Makam Mbah Wongso, bukan seka-dar tempat peristirahatan terakhir, melainkan sebuah penanda sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Di sini, di tanah Bunian, terpatri jejak seorang tokoh yang pernah menjadi bagian dari gelombang sejarah besar, yakni masa Perang Paderi.

     Mbah Wongso, demikian masyarakat sekitar menyebutnya, bu-kanlah sosok sembarangan. Ia adalah bagian dari rombongan Sentot Prawirodirjo, seorang panglima perang yang dikenal dalam sejarah Perang Paderi. Hubungan kekerabatan antara Mbah Wongso dan Sentot Prawirodirjo menambah nilai historis makam ini. Lebih dari sekadar tokoh dalam sejarah lokal, Mbah Wongso adalah mata rantai yang menghubungkan Bunian dengan pergolakan besar yang pernah mengguncang Minangkabau.

     Kisah Mbah Wongso dan jejaknya di Bunian dijaga dan dirawat oleh Ashar Syarif, generasi ketujuh dari garis keturunan Mbah Wongso. Ashar Syarif, sebagai pengurus makam, bukan hanya men-jaga fisik makam, tetapi juga merawat memori kolektif tentang sosok Mbah Wongso. Melalui cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, Ashar Syarif menjaga agar api sejarah tetap menyala, menerangi masa lalu dan memberikan konteks bagi masa kini.

     Salah satu bukti nyata keberlanjutan garis keturunan Mbah Wongso adalah dr. Moh. Anas, seorang tokoh yang juga berasal dari garis keturunan yang sama. Keberadaan dr. Moh. Anas menunjukkan bahwa jejak Mbah Wongso tidak hanya terhenti pada makamnya, tetapi terus hidup dan berkembang dalam kehidupan keturunannya.

     Makam Mbah Wongso di Bunian bukan sekadar tumpukan batu dan tanah. Ia adalah simbol dari sebuah perjalanan panjang, sebuah saksi bisu dari masa lalu yang penuh gejolak. Di balik kesederha-naannya, makam ini menyimpan cerita tentang keberanian, pengor-banan, dan keberlanjutan. Ia adalah pengingat bahwa sejarah tidak hanya ditulis dalam buku-buku tebal, tetapi juga terukir dalam setiap sudut tanah, dalam setiap cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

     Keberadaan makam ini mengingatkan kita akan pentingnya men-jaga dan merawat sejarah lokal. Sejarah lokal adalah fondasi dari identitas kita sebagai sebuah komunitas. Ia adalah benang merah yang menghubungkan kita dengan masa lalu, memberikan kita pemahaman tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Makam Mbah Wongso di Bunian adalah salah satu dari sekian banyak peninggalan sejarah yang perlu kita jaga dan lestarikan, agar kisah-kisah masa lalu tidak hilang ditelan waktu.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url