TUGU MAKAN JENDERAL HENRY DEMMENI

 

  

Tugu Makam Jenderal Hendry Demmeni (kiri).  Foto: Jenderal Hendry Demmeni

Payakumbuh menyimpan jejak-jejak masa lalu yang tersembunyi di balik bangunan-bangunan modern. Salah satu jejak sejarah yang menarik adalah keberadaan bekas pemakaman Belanda (Kerkhof) yang kini menjadi lokasi SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh. Di tempat yang kini ramai dengan aktivitas belajar mengajar, du-lunya bersemayam puluhan jenazah warga Belanda, termasuk se-orang tokoh militer penting, Jenderal L.L.J.H. Pel, Demmeni.

     Keberadaan Kerkhof ini menjadi saksi bisu dari masa kolonial Belanda di Payakumbuh. Jenderal Hendry Demmeni, yang mening-gal di Pajacombo (nama lama Payakumbuh) pada tahun 1886, adalah salah satu tokoh yang dimakamkan di sana. Kematiannya dan kema-tian warga Belanda lainnya, menjadi bagian dari narasi panjang kehadiran kolonial di wilayah ini. Makam-makam tersebut, dengan nisan-nisan yang mungkin memiliki ukiran dan inskripsi yang menceritakan kisah hidup mereka, menjadi artefak sejarah yang sangat berharga.

     Namun, seiring berjalannya waktu, lanskap kota Payakumbuh mengalami perubahan. Pada tahun 1995, di atas lahan bekas Kerkhof tersebut dibangun SMP Islam Raudhatul Jannah. Pembangunan sekolah ini menandai babak baru dalam sejarah tempat tersebut. Puluhan makam Belanda dibongkar, dan jejak fisik kehadiran mereka hampir sepenuhnya hilang. Yang tersisa hanyalah sebuah tugu peringatan untuk Jenderal L.L.J.H. Pel, Demmeni, sebagai pengingat akan masa lalu yang pernah ada.

     Pembongkaran makam-makam tersebut tentu memunculkan ber-bagai pertanyaan dan refleksi. Di satu sisi, pembangunan sekolah merupakan kebutuhan mendesak untuk menyediakan fasilitas pen-didikan bagi generasi muda Payakumbuh. Di sisi lain, penghapusan jejak-jejak sejarah ini menimbulkan rasa kehilangan. Makam-makam tersebut bukan hanya sekadar tempat pemakaman, tetapi juga bagian dari warisan budaya dan sejarah yang dapat memberikan pema-haman lebih dalam tentang masa lalu kota Payakumbuh.

     Tugu peringatan untuk Jenderal Demmeni, meskipun kecil, men-jadi simbol penting dari upaya untuk mempertahankan ingatan akan masa lalu. Ia mengingatkan kita bahwa di bawah bangunan sekolah yang modern, terdapat lapisan sejarah yang kaya dan kompleks. Seja-rah ini tidak boleh dilupakan, tetapi harus dipelajari dan dipahami sebagai bagian dari identitas kota Payakumbuh.

     Kisah Kerkhof Belanda di Payakumbuh ini mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian warisan sejarah. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik memang penting, tetapi kita juga harus menghargai dan melindungi jejak-jejak masa lalu yang membentuk identitas kita. Dengan memahami sejarah, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik, dengan menghargai dan belajar dari masa lalu. Dan keberadaan SMP Islam Raudhatul Jannah di atas bekas Kerkhof Belanda adalah pengingat bahwa sejarah selalu hadir di sekitar kita, bahkan di tempat-tempat yang paling tidak terduga. Ia mengajak kita untuk merenungkan perjalanan waktu, perubahan yang terjadi, dan pentingnya menjaga ingatan akan masa lalu.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url