MAKAM SYEKH DJAMARIH DJA’FAR NAN KODOK

 

  

Makam Syekh Djamarih Djafar. Foto: Feni Efendi. Foto Syekh Djamarih Djafar.  Foto: Dok. Putra Tunggal

Di jantung Nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh, tersem-bunyi sebuah kisah yang terjalin erat dengan sejarah dan spiritualitas masyarakat setempat. Di Nan Kodok, berdiri megah Masjid Arsyad, saksi bisu perjalanan seorang ulama besar, Syekh Djamarih Djafar, yang wafat pada tahun 1970. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini menyimpan jejak perjuangan, kearifan, dan warisan spi-ritual yang masih hidup hingga kini.

     Kisah Syekh Djamarih Djafar dimulai dengan perjalanan spiritual yang luar biasa. Di masa mudanya, beliau menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki menuju Mekah, sebuah bukti keteguhan iman dan tekad yang kuat. Sepulangnya dari tanah suci, beliau mendirikan Masjid Arsyad pada tahun 1920-an, sebuah simbol pengabdian dan cinta kepada agama. Masjid yang terletak di sebelah kiri Jalan Sudir-man, setelah simpang SMA 3 Payakumbuh ini, kini sedang dalam proses pengembangan, dengan pembangunan lantai dua yang me-nandakan semangat untuk terus berkembang dan melayani umat.

     Makam Syekh Djamarih Djafar yang terletak di arah mihrab mas-jid, menjadi tempat ziarah yang penuh khidmat. Kehadirannya se-olah masih terasa, menginspirasi generasi penerus untuk mengikuti jejaknya. Masjid Arsyad bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan. Pada masa agresi militer Belanda kedua, masjid ini menjadi tempat berkumpul para pemuda Koto Nan Gadang yang dipimpin oleh Mardisun. Di sana, mereka mencari nasihat dan petunjuk dari Syekh Djafar, seorang ulama yang dihormati dan disegani.

     Syekh Djamarih Djafar dikenal sebagai penyebar dan pengamal Tarikat Syatariah, sebuah aliran spiritual yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin dari Ulakan, Pariaman. Warisan spiritual ini masih hidup hingga kini, tercermin dalam amalan-amalan yang dilakukan oleh jamaah Masjid Arsyad. Zikir-zikir yang dilantunkan setelah shalat berjamaah dan doa yang diucapkan saat khatib Jumat duduk setelah khutbah pertama, menjadi bukti nyata dari keberlangsungan tradisi Tarikat Syatariah. Kesamaan lafaz zikir di seluruh masjid dan mushalla yang melestarikan amalan tarikat ini, menunjukkan kuatnya akar tradisi yang tertanam di masyarakat.

     Masjid Arsyad di Nan Kodok bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga simbol dari warisan spiritual yang kaya. Kisah Syekh Djamarih Djafar, perjalanannya ke Mekah, perjuangannya dalam menyebarkan Tarikat Syatariah, dan perannya dalam perjuangan kemerdekaan, semuanya terangkum dalam dinding-dinding masjid ini. Masjid ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi, memperkuat iman, dan berkontribusi bagi masyarakat. Di tengah modernisasi yang terus berkembang, Masjid Arsyad tetap berdiri teguh, menjaga nyala api spiritualitas dan sejarah yang tak ternilai harganya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url