MAKAM ANGKU PALO MEDAN

 

Makam Angku Palo Medan di Tiakar. Foto: Feni Efendi

Di sudut Masjid Muhsinin Tiakar, dekat mihrab yang menjadi pusat ibadah, berdiri sebuah makam yang menyimpan kisah pengabdian seorang tokoh masyarakat. Makam itu adalah tempat peristirahatan terakhir Angku Palo Medan Datuk Simulie nan Kuniang, seorang pemimpin nagari dari suku Dalimo Singkek yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Tiakar, Payakumbuh.

     Datuk Simulie nan Kuniang, yang menjabat sebagai Angku Palo Nagari Tiakar, bukan sekadar seorang pemimpin formal. Ia adalah sosok yang memiliki visi dan dedikasi untuk kemajuan masyarakatnya. Pada tahun 1926, semangat gotong royong dan kebersamaan di antara warga Tiakar mencapai puncaknya. Bersama-sama, mereka bertekad untuk membangun sebuah masjid yang akan menjadi pusat spiritual dan sosial bagi komunitas mereka. Di sinilah peran Datuk Simulie nan Kuniang menjadi sangat penting. Ia memimpin upaya pengumpulan material, termasuk batu-batu dari Batang Mungo di Taram, yang diangkut dengan pedati. Sebuah kerja keras yang menggambarkan komitmennya terhadap pembangunan infrastruktur keagamaan di nagari tersebut.

     Makamnya, yang terletak di dalam kompleks masjid, menjadi saksi bisu dari pengabdiannya. Keberadaannya di sana bukan hanya sebagai penanda akhir hayat, tetapi juga sebagai pengingat akan kontribusinya yang tak ternilai bagi masyarakat Tiakar. Ia adalah simbol dari kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dan pembangunan. Selain itu, keberadaan makam Angku Palo Medan Datuk Simulie nan Kuniang juga menjadi bagian dari narasi keluarga besar. Salah satu anak perempuannya, Nurma, yang tinggal di Payobasung, adalah ibu dari mantan Walikota Payakumbuh, Josrizal Zain. Hubungan ini menunjukkan bahwa warisan kepemimpinan dan pengabdian yang ditanamkan oleh Datuk Simulie nan Kuniang terus berlanjut melalui generasi berikutnya.

     Di sekitar makam Angku Palo Medan, terdapat pula makam tokoh-tokoh lain, seperti Naik Datuk Pangeran dan adiknya Somad dari suku Bendang, serta Arif Datuk Gonjong, juga dari suku Bendang. Keberadaan makam-makam ini menunjukkan bahwa kompleks Masjid Muhsinin Tiakar bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat yang menyimpan sejarah dan kenangan kolektif masyarakat Tiakar.

     Makam Angku Palo Medan Datuk Simulie nan Kuniang, dengan segala kisah dan warisan yang melekat padanya, adalah bagian penting dari identitas dan sejarah Tiakar. Ia adalah simbol dari semangat gotong royong, kepemimpinan yang berdedikasi, dan pengabdian yang tak lekang oleh waktu. Keberadaannya di balik mihrab Masjid Muhsinin Tiakar menjadi pengingat bagi generasi sekarang dan mendatang tentang pentingnya nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url