MAKAM SYEKH IBRAHIM HARUN TIAKAR
Makam Syekh Ibrahim Harun. Foto: Feni Efendi
Di Bomban Nagari Tiakar, ada sebuah makam yang menyimpan jejak seorang ulama besar, Syekh Ibrahim Harun, atau yang lebih dikenal dengan "Baliau Bomban". Makam yang terletak di kompleks Pondok Pesantren Ibrahim Harun ini bukan sekadar penanda akhir perjalanan seorang insan, melainkan simbol dari warisan keilmuan yang luas dan mendalam. Jejaknya membentang jauh melampaui batas-batas Tiakar, menjangkau Riau dan Pariaman, di mana murid-muridnya menyebarkan cahaya ilmu yang mereka peroleh.
|
Syekh Ibrahim Harun. Foto: tarbiyahislamiyah.id |
Tiakar, sebuah nagari yang mungkin tak banyak dikenal sebelum kehadiran Syekh Ibrahim Harun, tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Pada tahun 1929, beliau mendi-rikan Madrasah Islamiyah, sebuah lem-baga pendidikan yang menjadi magnet bagi para pencari ilmu agama. Surau yang beliau dirikan bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan spiritualitas. Syekh Ibrahim Harun, seorang alim yang saleh, dengan tekun membimbing murid-muridnya dalam berbagai disiplin ilmu agama, termasuk Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Kebiasaan beliau membaca Dala’il Khairat setiap hari mencerminkan kedalaman spiritualitas dan kecintaannya pada Rasulullah SAW.
Kehadiran Syekh Ibrahim Harun di Bomban telah melahirkan generasi ulama yang berpengaruh. Salah satu murid beliau yang paling menonjol adalah Syekh Ali Amran Ringan Ringan. Lahir pada tahun 1926, Syekh Ali Amran kemudian mendirikan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan Ringan di Pariaman, sebuah lembaga pendidikan yang telah melahirkan ribuan alumni yang berkontribusi bagi masyarakat. Keberhasilan Syekh Ali Amran merupakan bukti nyata dari kualitas pendidikan yang diberikan oleh Syekh Ibrahim Harun. Di usia senjanya, Syekh Ali Amran masih menjadi saksi hidup dari kebesaran gurunya, seorang ulama yang telah menanamkan benih-benih kebaikan dan ilmu pengetahuan.
Makam Syekh Ibrahim Harun di Bomban menjadi saksi bisu dari perjalanan seorang guru yang telah mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan agama. Tempat ini bukan hanya dikunjungi oleh para santri dan alumni, tetapi juga oleh masyarakat umum yang ingin mengenang dan menghormati jasa-jasa beliau. Kehadiran makam ini mengingatkan kita akan pentingnya peran guru dalam membentuk generasi penerus. Warisan keilmuan yang ditinggalkan Syekh Ibrahim Harun terus hidup dan berkembang melalui murid-muridnya, yang tersebar di berbagai daerah.
Kisah Syekh Ibrahim Harun dan makamnya di Bomban adalah kisah tentang dedikasi, keikhlasan, dan keberkahan ilmu. Ia mengajarkan kita bahwa seorang guru yang tulus akan meninggalkan jejak yang abadi, tidak hanya dalam bentuk bangunan atau lembaga, tetapi juga dalam hati dan pikiran murid-muridnya. Tiakar, dengan makam Baliau Bomban, menjadi simbol dari keberkahan ilmu dan inspirasi bagi generasi mendatang.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau