MAKAM NINIAK NAN BATIGO
|
Makam Niniak Nan Batigo di Balai Nan Tuo Tiakar. Foto: Feni Efendi |
Di persimpangan jalan yang sibuk, antara Jalan Gunung Bungsu dan Jalan Parpatiah Nan Sabatang, di jantung Balai Nan Tuo Tiakar, Payakumbuh, berdiri sebuah situs yang tak lekang oleh waktu: Makam Ninik nan Batigo. Tempat ini bukan sekadar tumpukan batu dan tanah, melainkan sebuah penanda kuat akan akar sejarah dan identitas masyarakat Payakumbuh. Di sinilah, konon, bersemayam tiga leluhur yang diyakini sebagai peneroka pertama wilayah Nagari Air Tabit, Nagari Tiakar, dan Nagari Payakumbuh (Nagari Koto Nan Gadang dan Koto Nan Empat saat ini). Mereka adalah Jhino Kotik, Rajo Panawa, dan Barabih Nasi, tiga nama yang terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.
Makam Ninik nan Batigo, kini telah dipagari dan diberi papan plang bertuliskan Situs Cagar Budaya, menandakan pengakuan resmi akan nilai sejarah dan budayanya. Lebih dari sekadar simbol, makam ini adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban di Payakumbuh. Kehadiran Jhino Kotik, Rajo Panawa, dan Barabih Nasi sebagai "ninik" atau leluhur, mencerminkan struktur sosial masya-rakat Minangkabau yang sangat menghormati garis keturunan dan asal-usul. Masing-masing ninik merepresentasikan wilayah yang berbeda, Jhino Kotik untuk Air Tabit, Rajo Panawa untuk Tiakar, dan Barabih Nasi untuk Kumbuah Nan Bapayau (Payakumbuh), menunjukkan bahwa pembentukan wilayah-wilayah ini tidaklah terjadi secara acak, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan tokoh-tokoh penting.
Kepercayaan masyarakat terhadap Ninik nan Batigo sebagai peneroka pertama wilayah ini, menunjukkan kuatnya tradisi lisan dalam menjaga sejarah. Cerita-cerita tentang mereka, yang diwariskan dari generasi ke generasi, telah membentuk narasi kolektif tentang asal-usul dan identitas. Makam ini menjadi titik pusat bagi narasi tersebut, tempat di mana masa lalu dan masa kini bertemu.
Penetapan Makam Ninik nan Batigo sebagai Situs Cagar Budaya adalah langkah penting dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya Payakumbuh. Hal ini tidak hanya memberikan perlindungan hukum terhadap situs tersebut, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan leluhur. Dengan demikian, makam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi generasi mendatang. Namun, tantangan tetap ada. Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Makam Ninik nan Batigo tetap relevan dan dipahami oleh generasi muda. Pendidikan sejarah lokal, penelitian lebih lanjut tentang asal-usul ninik-ninik tersebut, dan pengembangan wisata budaya yang bertanggung jawab, adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan warisan ini.
Makam Ninik nan Batigo adalah lebih dari sekadar situs sejarah. Ia adalah simbol dari kekuatan tradisi, ketahanan budaya, dan kebanggaan akan identitas lokal. Di persimpangan jalan yang ramai, di bawah naungan pohon-pohon rindang, makam ini terus mengingatkan kita akan akar sejarah yang dalam dan perjalanan panjang masyarakat Payakumbuh. Ia adalah pengingat bahwa masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dari masa kini, dan bahwa menghormati leluhur adalah menghormati diri sendiri.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau