MASJID USANG (SYARIKATUL IHSAN) PAYOBASUNG
|
Masjid Usang (Syarikatul Ihsan) Payobasung. Foto: Feni Efendi |
Di sudut Nagari Payobasung, Kabupaten Lima Puluh Kota, berdiri sebuah saksi bisu perjalanan panjang sejarah, sebuah masjid yang menorehkan jejak waktu selama berabad-abad: Masjid Usang Kampung Tigo Alua. Dengan ukuran sederhana, 13 meter x 13 meter, masjid ini menyimpan cerita yang kaya, terukir dalam 17 tiang kokoh yang terbuat dari kayu Jua dari Situjuh, dan dalam setiap helai papan lantai yang telah lapuk dimakan usia. Usianya yang diperkirakan antara akhir tahun 1700-an hingga 1835 Masehi, menjadikan masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah monumen sejarah yang patut dilestarikan.
Arsitektur Masjid Usang Kampung Tigo Alua, dengan atap bertingkat dan lantai papan, memiliki kemiripan yang mencolok dengan Masjid Gadang di Balai Nan Duo Koto Nan Empat. Kesederhanaan dan keanggunan arsitektur tradisional Minangkabau terpancar jelas, mencerminkan kearifan lokal dalam membangun tempat ibadah yang menyatu dengan alam. Namun, sayangnya, sentuhan modernisasi telah merenggut sebagian keaslian masjid ini. Dinding papan yang dulunya menjadi ciri khas, kini telah digantikan dengan tembok semen, mengurangi kehangatan dan keotentikan bangunan.
Perubahan ini, meskipun mungkin dilakukan dengan niat baik untuk memperkuat struktur bangunan, telah menghilangkan sebagian dari jiwa Masjid Usang Kampung Tigo Alua. Dinding papan bukan sekadar elemen arsitektur, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya yang menghubungkan generasi masa kini dengan masa lalu. Setiap helai papan menyimpan cerita tentang tangan-tangan terampil yang membangunnya, tentang doa-doa yang dipanjatkan di dalamnya, dan tentang kehidupan masyarakat Kampung Tigo Alua yang telah berabad-abad lamanya.
Jika saja masyarakat Nagari Payobasung memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan nilai historis masjid ini, dan berani mengambil langkah untuk mengembalikan keaslian dinding papan, Masjid Usang Kampung Tigo Alua akan menjadi sebuah kebanggaan yang tak ternilai bagi Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik minat wisatawan dari dalam dan luar negeri.
Mengembalikan keaslian Masjid Usang Kampung Tigo Alua bukan sekadar tentang merekonstruksi bangunan fisik, tetapi juga tentang menghidupkan kembali semangat dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Ini adalah tentang menghargai warisan leluhur, tentang menjaga identitas budaya, dan tentang mewariskan kebanggaan kepada generasi mendatang. Masjid Usang Kampung Tigo Alua adalah sebuah permata tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan kembali. Dengan sentuhan kasih sayang dan komitmen untuk melestarikan, masjid ini dapat kembali bersinar, menjadi simbol keagungan masa lalu yang terus hidup dalam ingatan dan hati masyarakat Payobasung dan Lima Puluh Kota. Mari kita bersama-sama menjaga dan merawat warisan berharga ini, agar jejak waktu yang terukir di dalamnya tidak pernah pudar.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau