Preman

 

 

Aktor Sinetron Preman Pensiun 5. Foto: sushi.id

     Pada zaman dulu, ada sebuah profesi yang paling disegani yaitu preman. Di mana ada keramaian maka di situ ada premannya. Karena pre-mannya banyak maka ada pula ketua preman. Apa itu preman termi-nal, preman pasar, preman petak, preman kampung, preman antar kota, ataupun preman tingkat nasional.

     Namanya profesi, tentu merintis dulu dari nol. Mula-mula menjadi preman tingkat RT. Ketika tidak ada yang lebih bagak lagi dari dirinya, tentu akan mengembangkan wilayah kekuasaannya ke RT sebelah. Dan jika RT-RT di kampung itu sudah dikuasai pula maka dicoba pulalah mengembangkan karir ke kampung sebelah. Sehingga di zaman dulu secara tidak langsung orang-orang sudah paham bahwa si fulan adalah preman di kampung itu dan di kampung itu. Sehingga menjadi buah tuturlah bagi anak-anak muda yang masih labil dan sedang lagi proses mencari jati diri. Bahkan berangan-angan pula menjadi preman idola-nya itu.

     Ketika ada pasar malam atau acara hiburan di suatu tempat maka para preman ini mendapat jatah sebagai pengaman parkir. Yang jaga parkir tentu anggota-anggota preman itu dan ketua preman cukup me-nerima setoran dari anggotanya. Begitulah masa keemasan preman zaman dulu. Dan sekarang profesi preman sudah kurang diminati. Sebab warga sudah mulai melek hukum. Sekali saja meninju orang bisa kena denda jutaan di pengadilan. Bisa bangkrut kalau begini jika terus-terusan menjadi preman.

     Memori tentang preman ini juga masih diingat oleh Rima Dessi sebagai warga kota ketika ia masih kecil yang tinggal di Bofet Sianok. Saat itu di sebelah rumahnya penuh dengan preman kalau hari menjelang senja, tapi tidak ada yang menggaduh dan malahan manyuruh ia dan anak-anak lainnya masuk rumah kalau sudah magrib. Padahal mereka perempuan semuanya yang saat itu belajar menjahit dengan bundanya. Sangat berbeda dengan preman sekarang, katanya.

     Begitupun dengan Amri Caniago yang masih ingat bahwa Payakumbuh sangat mencekam di zaman tahun 1970-an ke atas karena banyak pemalak. Tapi ia mengambil langkah untuk hjrah dari kota ini. Saat itu untuk wilayah Labuh Basilang, sangat berhati-hati sekali jika kita unjuk dada, katanya. Hal yang sama juga dibenarkan oleh Rima Dessi bahwa Labuah Basilang sangat terkenal pada zaman dulu. Pernah tahun 1977, anak Labuah Basilang tawuran dengan Anak Stasiun. Tempat perkela-hian saat itu di Jalan A. Yani sekarang di depan Bofet Sianok.

     Adapun Zikri Zet mengabarkan bahwa preman pasar obyeknya adalah jasa angkat barang (tukang angkat dan tukang becak). Preman terminal obyeknya adalah angkot Sago. Ada sedikit cerita tentang tukang angkat barang, katanya. Semua kendaraan dari luar kota yang akan bongkar barang di wilayah pasar maka wajib menggunakan jasa mereka dengan tarif tertentu per pak. Jangan coba-coba bongkar sendiri, bisa dihajar oleh para preman. Ia masih ingat, dulu kepala preman yang berlagak jumawa, punya piaraan monyet kecil yang dinaikkan ke sepeda sambil kontrol keliling area pasar. Namun roda berputar, kepala preman tersebut sepertinya dikalahkan oleh preman lain sehingga saya jarang mendapati yang bersangkutan berpatroli lagi, meskipun sesekali masih tampak di kedai tapi dengan wajah yang sudah hilang kesangar-annya.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url