Perkembangan Gay di Payakumbuh
|
Razia Gay. Foto: bbc.com |
Ditinggalkannya rumah gadang dan semakin kosongnya surau-surau karena pendirian rumah-rumah gaduang maka peranan mamak semakin berkurang terhadap kemenakannya. Sehingga malu yang tak bisa dibagi pada zaman dulu maka sekarang ditanggung sendiri-sendiri. Sehingga mamak bakato mamak dan kemanakan bakato kemenakan.
Karena berkurangnya kontrol sosial oleh masing-masing mamak kepada kaumnya karena peran ayah sudah dominan dengan berdirinya rumah-rumah gaduang itu maka setiap kemenakan seakan-akan tidak lagi merasa di awasi. Dan pengaruh buruknya yaitu merebaknya perilaku gay di tengah-tengah masyarakat Payakumbuh.
Gay terdeteksi di Payakumbuh pada tahun 2006 sekitar 20 orang de-ngan rata-rata usia 16—22 tahun (Cris Muhammad Haris, 2018). Sepu-luh tahun setelahnya, gay yang terdeteksi di Payakumbuh berjumlah 641 orang dengan penderita HIV/AIDS sebanyak 32 orang dan meninggal 19 orang. Dan hal itu, Payakumbuh termasuk urutan ketujuh di Sumbar dalam jumlah pengidap HIV/AIDS. Umumnya komunitas gay ini berkumpul di tempat-tempat fitnes, karaoke, wisma, kos-kosan, dan kafe.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau