RADIO PEMDA (RSPD) PAYAKUMBUH

 

Gedung Radio RSPD terbakar tahun 2009. Foto: Dodi Syahputra

     Di sebelah kanan Simpang Muhammadiyah ini dulunya lokasi Radio Pemda (RSPD), kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Paya-kumbuh, juga kantor LKAAM dan Bundo Kandung, serta Kawarcab Pramuka. Gedung di sini dulunya seperti bangunan zaman Belanda. Dan di halamannya ada sebuah pohon sawo yang besar dan rimbun. Anak-anak sekolah suka nongkrong di sini. Baik itu siswa sekolah STM Tamsis yang lokasi sekolahnya di samping gedung ini ataupun siswa STM Kosgoro, STM Negeri, SMA PGRI, dll.

     Siswa-siswa itu sebenarnya menunggu Sago di Simpang Muham-madiyah ini. Di samping radio ini ada kedai pical giling yang enak. Dan nongkrong di bawah pohon sawo Radio Pemda ini juga meru-pakan salah satu ikon tempat janji bertemu untuk anak Payakumbuh masa saisuak. Terkadang acara didikan shubuh disiarkan secara live di radio ini. Dan pada malam minggu terkadang diadakan acara randai. Tentu penontonnya cukup ramai.

     Di bawah pohon sawo Radio Pemda ini ada sebuah foto copy. Orang banyak mem-foto copy di sini. Baik itu pegawai yang bekerja di Balai Kota yang berlokasi di Ramayana sekarang ataupun dari anak-anak sekolah di zaman itu. Dan memang, lokasi ini sangat strategis. Sebab anak-anak SMEA Negeri atau SMEA Wira Bakti juga menung-gu sago di Simpang Muhammadiyah ini. Terkadang mereka mem-foto copy pelajaran sekolah dulu di sini sebelum naik Sago. Mungkin itulah sebabnya pohon sawo Radio Pemda (RSPD) ini menjadi tem-pat kenangan bagi anak-anak seko-lah masa dulu. Selain itu, sekolah STM Tamsis di sebelah Radio Pemda ini juga banyak siswa perem-puannya. Dan di samping Bank Nagari atau tempat kursus belajar LIA sekarang dulunya gedung SMEA Nasional. Sekan-akan serasa sekolah di bangku SMA saja rasanya.

     Sedikit kenangan tentang radio di masa itu yaitu selalu menunggu kartu-kartu KCU (Kartu Canda Udara) mereka dibacakan oleh pe-nyiar Kak Nana. Biasanya kartu-kartu itu dibacakan sesudah ashar atau se-sudah magrib. Ada-ada saja nama samaran dalam menjadi bintang ra-dio itu. Ada Bintang Virgo misalnya, Cewek Virgo, Pange-ran Hujan, atau yang lain-lainnya. Terkadang radio-radio itu menga-dakan acara jumpa fans, maka semakin eratlah pertemanan antar fans radio itu. Dan tentu, suatu hari di antara mereka ada yang menikah dengan sesama fans radio itu.

     Kartu-kartu radio itu bisa dibeli di kios Panti Aisiyah, dekat Hizra, dan di toko-toko buku biasanya ada. Begitulah memori warga kota tentang sebuah pohon sawo di halaman Radio Pemda ini. Sedangkan Femi Poetoet Cahyadi masih mengingat bahwa untuk bisa masuk menelpon request lagu sangat susah. Salam-salamnya sampai orang se-Payakum-buh disebutkan. Itu dulu tahun 1998-an. Hanya itu hi-buran dulunya. Standby di muka telpon dan dengar radio. Sekarang hiburan sudah berlimpah, kenangnya. Bahkan Yelva Amelia masih mengingat ketika para penelpon acara kirim-kirim lagu dan salam, tetapi telepon rumah di zaman itu dikunci, namun karena keli-haiannya ia bisa juga mencuri-curi telpon ke Radio Pemda untuk ki-rim-kirim lagu.

     Adapun Yani Pinta pernah tampil malam hari di bawah pohon sawo bersama kawan-kawan untuk membawakan randai Rambun Pamenan yang diundang oleh Radio Pemda, kenangnya. Sedangkan Dellorie Ahada masih mengingat di Radio Pemda ini setiap minggu setelah shalat subuh rutin mengadakan "Didikan Subuh" secara live dari TPA-TPA seputaran Payakumbuh. Ia pernah beberapa kali ikut didikan subuh di radio ini, kenangannya.

     Iyung Sikumbang pun pernah pula berlangganan kartu radio Pemda yang saat itu Kak Nana dan Kak Wiro penyiarnya. Begitupun dengan Hazmi Nahdatul juga terkenang dengan masa sekolahnya dulu untuk kartu ucapan di radio dengan nama samaran. Di absen semua yang ada di Payakumbuh. Dan di sini tempat bertemu kawan-kawan dari berbagai sekolah dan bersenda gurau di bawah batang sawo. Nostalgia sekali rasanya. Masa itu kalau perempuan bernama Puty atau Putri sedangkan kalau laki-laki terkadang sesuai dengan shio bintangnya.

     Hal yang sama juga dirasakan oleh Wiwis Zainibar bahwa KCU (Kartu Canda Udara) itu sangat ditunggu-tunggu. Kalau tersenggol nama-nama kita maka akan senyum-senyum sendiri. Adapun di ba-wah batang sawo itu banyak preman kereta duduk-duduk dan kalau sudah sore, pulang sakolah sudah mangamek-ngamek di saberang jalan depan kantor balai kota lama untuk menyeberang ke sebelah jalan STM Tamsis. Grogi jadinya, katanya menambahkan.

     Adapun Chece Rida masih mengingat bahwa dulu juga ada wa-rung di samping arah ke belakang Radio Pemda, Niyun namanya, orang tua dari Ustad Yengki Oktrio. Warung itu menyediakan jaja-nan kue-kue, sup yang lezat, dan pical giling yang biasanya ramai pegawai kantor balai-kota lama di situ. Sedangkan Afrina Hanoum Piliang masih mengingat saat SMA sekitar tahun 1988—1990-an. Kami sering latihan pramuka di situ. Begitu juga dengan Novitra Besni dulu juga sering ikut pertemuan Pramuka di situ. Adapun Rima Dessi mengingat di tahun 1980-an sering bersepeda ke per-pustakaan umum di situ. Ia meminjam buku-buku seperti Tengge-lamnya Kapal Vanderwik, Robohnya Surau Kami, dll. saat itu masih kelas 5 SD, katanya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url