PLAZA PERTAMA DI PAYAKUMBUH
|
Plaza Rocky, bekas lokasi Balai Kota Payakumbuh. Foto: Feni Efendi
|
Pada masa Balai Kota ada di sini, setiap pagi ada mobil sedan hitam memasuki teras. Ada ajudan yang hormat ketika walikota tu-run dari mobilnya. Dan mobil dengan plat BA 1 M itu tetap terparkir di sana hingga tengah hari. Apa bila tengah hari, sang walikota yang bernama Darlis Ilyas itu, kembali keluar dari ruangannya. Ia diiringi oleh ajudan dan masuk ke dalam mobil sedan hitam itu.
Saya yang terkadang belajar di lantai 2 di Sekolah Tamsis di seberang Balai Kota ini sangat susah sekali melihat seperti apa wajah walikota di masa itu. Tidak seperti sekarang yang walikotanya suka menghadiri acara-acara yang diadakan oleh dinas-dinas, camat, kelurahan, atau berbagai peresmian lainnya. Sehingga mulai dari anak SD hingga perguruan tinggi pun kenal dengan wajah wali-kotanya.
Tidak berapa lama menjabat, walikota itu didemo oleh murid-murid sekolah dan guru. Lalu akhirnya semua sekolah sekota ini turun untuk berdemo di kantor Balai Kota ini. Mulanya demo itu biasa-biasa saja. Namun dari waktu ke waktu, suara orator itu makin tinggi dan meng-arah kepada gaya provokasi. Maka beterbanganlah batu-batu ke kantor Balai Kota itu. Sehingga ada kacanya yang pecah. Kalau sudah begitu, pihak keamanan pun menertibkan acara demo itu. Tapi apa dikata, anak-anak sekolah semakin liar hingga ber-konvoilah ke Padang Tiakar sana untuk ke rumah dinas walikota saat itu. Setiba di sana juga dibubarkan dan diburu oleh pihak kea-manan. Tentu sebagian ada yang lari ke kebun-kebun.
Sedangkan hari-hari berikutnya demo itu terus berlangsung. Anak-anak sekolah diliburkan untuk kepentingan demo itu. Entah untuk kepentingan siapa itu sebenarnya? Apa untuk kepentingan komite BP3 atau karena ada para politikus yang menunggangi untuk kepentingan pribadinya. Dan kantor DPRD yang di Koto Nan Am-pek itu tak lepas pula dari lemparan batu anak-anak sekolah. Konon katanya, Chin Star, yang menjadi ketua DPRD saat itu harus dila-rikan melalui pintu belakang.
Itulah sekelumit tentang lokasi di plaza ini yang didirikan pada tahun 2009. Sekarang departemen store terbesar di Payakumbuh itu su-dah sedikit orang berjualan. Gedung ini ditempati sebagai kantor se-mentara oleh Bank BRI. Dan sebenarnya, gedung yang dikelola oleh pihak departemen store ini, dalam 30 tahun ke depan akan menjadi milik Pemerintah Kota kembali. Dan itupun pemko mendapatkan 2500 dollar per tahun setelah tahun keenam. Tetapi belum sampai 30 tahun, departemen store ini kehilangan gairahnya di tengah minat belanja warga kota.
Adapun memori warga kota tentang lokasi ini yaitu tidak jauh dari sini ada pos militer di seberang jalan Bank BCA saat ini yaitu di rumah Bapak Buleleng kepala CPM di masa itu. “Beliau sangat terkenal sekali,” kata Retnobob mengingat Payakumbuh di masa lalu. Sedangkan Arlen Ara Guci pernah mengikuti acara lomba cerdas cermat tingkat SLTA tingkat Kodya Payakumbuh di sini. Begitupun dengan Hario Zones mengatakan bahwa, “Saya ikutan demo waktu itu, entah apa tujuannya saya bingung, pokoknya harus ikut. Sekolah sengaja diliburkan untuk demo. Yang tidak ikut demo diancam guru nilai rapornya jelek,” terangnya menambahkan. Lain lagi pendapat Fajar Malem Sitepu bahwa Gedung Ramayana (plaza) ini cocok dija-dikan Game Center. Tempat anak-anak muda mengasah kemampuan menjadi atlet game online atau kekiniannya E-Sports. Investor harus bisa melihat peluang ini,” terangnya dengan penuh semangat.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau