REPOT (Remaja Penggemar Orgen Tunggal)

 

Remaja penggemar orgen tunggal. Foto: Heru Joni Putra

     Di zaman dulu di tahun 1990-an, orang-orang tua pusing ketika anaknya kalau malam melihat orgen tunggal ke kampung sebelah. Bisa tidak tidur semalaman kalau anak bujangnya belum pulang ke rumah. Karena memang pada masa itu, nyaris selalu ada tawuran antar kampung kalau ada pertunjukan orgen tunggal. Padahal itu acara dalam rangka baralek.

     Memang pada zaman dulu, ketika baralek biasanya dimeriahkan de-ngan orgen tunggal, maka akan bisa menghibur orang satu kampung. Meski sepenat-penat apapun tadi siang ke sawah, acara orgen tunggal ini tidak bisa dilewatkan. Jangankan orgen tunggal, belek saja yang di-pukul bisa mendatangkan warga satu kampung. Dan memang, besok siangnya sang empunya rumah akan menjadi trending topik karena telah sukses mengadakan acara baralek dengan orgen tunggal yang diidam-idamkan warga. Anggaplah pada zaman dulu nama orgen tunggal seperti Branada Band, Surya Musik, Pratama Musik, Ginta Musik, Chanel 99, dan lain-lain.

     Pada masa itu, ketika senja mulai beranjak, satu per satu warga akan mendatangi tempat baralek. Tentu di sana juga akan tiba pula pedagang asongan rokok, penjual kacang rebus, dan semakin malam, semakin seperti pasar malam saja kelihatannya. Dan lalu ketika meja para un-dangan ditutup maka pemain orgen pun perlahan-lahan membawakan lagu-lagu triping dengan artis-artis lokal yang telah menjadi idola REPOT (Remaja Penggemar Orgen Tunggal). Terkadang ada juga dibuka dengan lagu-lagu gamad maka si tuan rumah atau anggota REPOT tadi telah mengambil ancang-ancang dan pasangan untuk berjoget di bawah pentas. Begitulah keadaannya semakin malam semakin panas saja.

     Adapun kekuatiran dalam acara joget berjoget itu adalah tidak ter-hindarkannya tawuran. Bisa saja karena tersikut oleh orang dari kam-pung sebelah maka panas pulalah hati olehnya. Terhina benar rasanya diri ini kalau dibawa lalu saja oleh orang. Maka peristiwa kena sikut tidak sengaja itu akan berbalas dengan sebuah pukulan. Karena yang dipukul merasa tidak bersalah maka dibalas pulalah memukul. Lalu ak-hirnya cakak banyak pun tak bisa terlewatkan. Tawuran antar kampung pula yang terjadi. Lalu akhirnya acara orgen tunggal pun terpaksa diberhentikan.

     Masa-masa kejayaan orgen tunggal ini benar-benar membuat pusing orang-orang tua yang memiliki anak laki-laki. Tawuran antar kampung tiap sebentar. Kalau acara orgen belum ada cakak banyaknya berarti acaranya belum wah. Dan ternyata fanatik terhadap daerah itu memang sudah ada sejak dulu. Dengan begitu, Belanda telah mempergunakan sikap fanatik ini untuk menangguk keuntungan. Lalu akhirnya, bangsa ini menjadi kaum terjajah selama berabad-abad.

     Pada masa kejayaan orgen tunggal ini, mau gadis atau bujang, tua atau muda, semua berbondong-bondong ke tempat orgen. Baik itu acara orgen tunggal pada masa kampanye pemilu, 17 agustusan, tahun baru, ataupun baralek. Dan pengaruh buruknya adalah kedai minuman keras menjadi laku keras. Acara-acara orgen tunggal itu banyak didukung oleh berbagai pihak. Apabila sudah mendengar kabar ada orgen tunggal di kampung untuk 17 agustusan atau tahun baru, banyak para donatur yang menyumbang dan rasanya lebih pemurah daripada menyumbang ke masjid. Ada-ada saja cara mencari sumbangan. Bisa itu di jalan, proposal, dan berbagai lobi tingkat tinggi di warung-warung kopi. Dan bagi yang tidak mendukung dan kategori orang shaleh, maka mereka pun dengan ramah mengatakan sedang tidak punya uang ketika itu. Maka besok-besoknya pun kalau ada acara, orang pun bakal malas meminta sumbangan kepadanya.

     Terkadang dalam acara orgen tunggal yang biasanya diadakan oleh karang taruna di kampung itu juga membuat acara lelang ayam bakar dan sebuah bir. Ayam bakar dan sebuah bir di atas baki akan dibawa ke atas pentas yang dipegang oleh seorang perempuan yang cukup cantik di kampung. Pagi penawar tertinggi, maka ia akan berhak ke atas pentas untuk menerima ayam bakar dan bir lelang. Tentu dengan bonus sebuah lagu untuk bergoyang di atas pentas oleh panitia. Benar-benar bikin iri pemuda lain.

     Kejayaan orgen tunggal mulai meredup sekitar akhir tahun 2000-an. Para ulama dan ninik mamak mulai resah dengan efek negatif yang dimunculkan oleh orgen tunggal. Maka pemerintah pun mengeluarkan berbagai perda-perda seperti acara tidak boleh sampai lebih dari pukul sembilan malam, pakaian artis harus sopan, dan lain-lain. Namun di zaman sekarang, menonton orgen tunggal bukan lagi sebuah ambisi bagi anak muda. Namun para mantan anggota REPOT pun hanya bisa bernostalgia di dalam kejayaan zamannya yang sangat udik itu jika ditimbang pada masa sekarang.

     Memori warga kota tentang acara orgen tunggal ini juga dialami oleh Hario Zones. Ia merasa malu jika mengingat masa itu. Seakan-akan za-man itu seperti zaman jahiliah. Biduan dengan pakaian seksi, menari, dan bergoyang merangsang birahi, ditonton oleh mamak, anak kemanakan, dan orang sekampung. Tidak hebat rasanya kalau bergoyang di bawah pentas tidak dalam keadaan mabuk. Kemudian dengan mabuk yang tidak seberapa berlanjut mencari gara-gara yang berujung tawuran. Entah kenapa zaman itu perangkat desa, nagari, kelurahan, niniak mamak, atau tokoh-tokoh masyarakat tidak berkuku melarang atau membuat aturan keras. Entah karena memang saat itu kita belum banyak hiburan atau tokoh-tokoh itu juga menikmatinya. Sekarang orgen tunggal itu sudang jarang ditemui. Kalau pun ada tidak ramai lagi kecuali diselingi permainan KIM, kata Hario Zones menjelaskan.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url