RUMAH DOKTER M. ANAS

 

Kelompok musik perempuan di Rumah dr. Moh. Anas di Bunian. Foto: KITLV A1121 digitalcollections.universiteitleiden.nl dengan judul Muziekgroep, vermoedelijk op Sumatra's Westkust

 

Di jantung kota Payakumbuh, tersembunyi di balik hiruk pikuk aktivitas Balai Kota dan kehangatan pelayanan RSI Ibnu Sina, berdiri sebuah rumah yang menyimpan segudang kisah perjuangan bangsa. Rumah Dr. Moh. Anas, sebuah bangunan yang masih kokoh dengan arsitektur aslinya, bukan sekadar tempat tinggal, melainkan saksi bi-su perjalanan sejarah Indonesia, khususnya di Sumatera Barat.

     Rumah ini menjadi istimewa bukan hanya karena keaslian bangu-nannya yang terjaga, tetapi juga karena peran sentralnya dalam masa-masa krusial perjuangan kemerdekaan. Di sinilah, di antara dinding-dinding yang menyimpan aroma masa lalu, terjalin hu-bungan erat antara Dr. Moh. Anas dengan tokoh-tokoh penting. Moh. Hatta, sang proklamator, pernah menginap di rumah ini, menjalin persahabatan dan bertukar pikiran dengan sang dokter. Kehadiran Hatta di rumah ini menjadi bukti bahwa Payakumbuh, melalui Dr. Moh. Anas, turut serta dalam denyut nadi perjuangan kemerdekaan.

     Namun, peran rumah ini tidak berhenti di situ. Di masa Agresi Militer II Belanda, rumah Dr. Moh. Anas menjadi titik temu para pejuang. Mr. Moh. Rasyid, Residen Sumatera Barat saat itu, singgah di rumah ini untuk bertemu dengan Dr. Moh. Anas sebelum melan-jutkan perjalanan ke Halaban. Di Halaban, bersama Mr. Syafruddin Prawiranegara dan tokoh-tokoh lainnya, mereka membentuk Peme-rintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), sebuah langkah penting dalam mempertahankan eksistensi negara di tengah agresi Belanda.

     Sebelum Belanda menduduki Payakumbuh, rumah ini juga men-jadi tempat rapat penting bagi Khatib Sulaiman dan para pejuang lainnya. Di sinilah, strategi perjuangan dirancang, semangat perla-wanan dikobarkan, dan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan diteguhkan. Rumah Dr. Moh. Anas menjadi pusat koordinasi, tempat di mana para pejuang merumuskan langkah-langkah penting dalam menghadapi ancaman penjajah.

     Keberadaan rumah ini, dengan segala kisah yang tersimpan di dalamnya, merupakan warisan berharga bagi masyarakat Payakum-buh dan Indonesia. Keaslian bangunan yang terjaga, tanpa peru-bahan yang signifikan, memungkinkan kita untuk merasakan atmos-fer perjuangan masa lalu. Setiap sudut rumah ini seolah bercerita tentang agresi militer kedua Belanda.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url