Semakin Banyak Pula Surau-surau yang Roboh

 


     Dengan semakin banyaknya rumah-rumah gadang yang ditinggal-kan dan perhatian yang lebih besar kepada rumah gaduang maka lambat-laun surau-surau itu pun juga semakin ditinggalkan. Di mana yang sebelumnya rumah-rumah gadang itu sebagai tempat tinggal-nya saudara perempuan beserta anak-anak dan suaminya maka otomatis laki-laki dewasa yang belum menikah akan tidur di surau.

     Maka dengan begitu, mengaji dan belajar silat juga berlangsung secara bersamaan. Namun setelah dibangunnya rumah-rumah gaduang itu maka para ayah membuatkan kamar untuk anak lelakinya. Sehingga anak-anak laki-laki pun tidak lagi tidur di surau. Mereka lebih suka menikmati tidur di kamar yang dibuatkan oleh ayah mereka di rumah-rumah gaduang itu. Sehingga surau-surau pun tidak berpenghuni. Perlahan-lahan lapuk dan roboh.

     Di Payakumbuh sendiri, pada tahun 1970-an masih ada satu-satu anak laki-laki yang tidur di surau. Dan pada dekade berikutnya terus menyusut apalagi setelah televisi sampai ke dalam kamar-kamar anak lelaki. Tentu peran surau sebagai tahap pendidikan anak lelaki telah tergantikan dengan yang lain. Apalagi pada masa sekarang, peran ponsel android dan perangkat yang berhubungan dengan komputer semakin mengambil peran itu. 

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url