Semakin Banyak Rumah Gadang yang Roboh
|
Rumah gadang yang lapuk. firstychrysant.wordpress.com |
Setelah masuknya budaya rumah-rumah gaduang yang dicontoh-kan oleh Belanda, maka lambat-laun rumah-rumah gadang itu semakin ditinggalkan. Bahkan dari tahun ke tahun semakin banyak saja rumah-rumah gadang yang semakin lapuk itu perlahan-lahan roboh. Mula-mula patah gonjongnya lalu miring ke kiri. Dan setelah itu langsung roboh ketika angin kencang datang di awal musim hujan.
Bayangkan sebuah rumah gadang yang dihuni oleh beberapa keluarga itu secara perlahan-lahan telah menumbuhkan konflik-konflik kecil yang dari hari ke hari semakin besar (Jeff Hadler, 2008). Bisa itu persoalan anak yang bertengkar. Atau sumando si A lebih pandai mencari uang daripada sumando si B. Lalu mamak rumah atau mertua memanas-manasi anak perempuannya mengapa suaminya tidak pandai betul mencari uang. Lalu dari hari ke hari, beban batin itu semakin ber-tumpuk-tumpuk. Rasa-rasanya seperti di neraka saja tinggal di rumah gadang (rumah induk) itu.
Maka dengan begitu, harapan memiliki sebuah rumah yang terpisah dari rumah induk (rumah gadang) telah menjadi impian setiap keluarga. Lalu dengan begitu, peran ayah dalam memimpin keluarganya menjadi leluasa dari peran si mamak rumah. Ayah menjadi pemimpin penuh dalam mendidik anak-anaknya. Dan tentu perselisihan di antara satu keluarga dengan keluarga lainnya di atas rumah gadang itu semakin dapat diminimalkan. Keinginan-keinginan untuk berpisah dari rumah induk (rumah gadang) pada zaman sekarang ini semakin mudah diterapkan setelah menjamurnya rumah-rumah sederhana yang bersubsidi atau rumah-rumah minimalis yang banyak dibangun oleh developer. Dan lambat-laun peran mamak kepada kemenakan semakin berkurang. Sehingga, adat dan perubahan sosial pun terus menyesuaikan diri dengan zaman.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau