SIMPANG NAPAR

 

Bus di Payakumbuh tahun 1939. Foto: dok. Aseanri Murad

     Bus jurusan Padang menuju Pekanbaru atau Dumai melewati Payakumbuh dan itu jalurnya melewati Napar. Begitu juga dengan jurusan sebaliknya maka akan melewati Simpang Napar ini. Dan tidak heran jika di zaman dulu ketika orang mau ke Riau atau ke Padang, maka sering menunggu bus di sini. Dulu Simpang Napar ini ramai. Kalau kita dulu lewat sini, maka para agen bus menawarkan tiket atau tumpangan.

     Memori warga kota seperti Arlen Ara Guci mengatakan bahwa waktu ke Duri di zaman dulu, ia sering naik Bus Sinar Riau atau Yanti Group di Simpang Napar itu. Sebelum bus berjalan, terkadang naik orang yang berjualan batiah, juga pengamen dengan lagu anda-lannya, "Payokumbuah mak oi..., Payokumbuah mak oi, ibo hati maninggakan Payokumbuah...." Masa itu tahun 1994, katanya.

     Sedangkan Amin Berhenti Berharap juga mengabarkan bahwa waktu itu kalau minta sumbangan di jalan untuk acara 17 agustusan pasti banyak dapat, kira-kira sekitar akhir 1990-an menuju ke tahun 2000. Masa itu banyak orang berjualan gelamai, batiah, kipang, dsb. di atas bus dan mengamen dari Simpang Napar ke Simpang Kaniang Bukik, begitu juga sebaliknya, kata Amin. Dulu pemuda-pemuda Ka-niang Bukit yang sering main di simpang umumnya mengahabiskan masa remajanya dengan berjualan di atas bus atau jadi agen. Ia kebetulan tidak mengalami masa-masa remaja seperti itu, tapi gene-rasi yang lahir sekitaran tahun 1980—1988 masih mengalami masa-masa itu, katanya.

     Lain pula pengalaman Daud Apak Kamba yang dulu mancari uang di Simpang Napar ini sangat gampang, katanya. Ada-ada saja yang bisa dijadikan uang masuk. Berjualan batiah, air mineral, setiap 17 Agustus berjualan bendera, katanya. Sedangkan Novi Warman masih mengingat pula kenangannya dulu pergi sekolah ke STM naik Bus Gunuang Omeh jurusan Padang dan melompat turun di Sim-pang Terminal. Dan pulangnya naik pula bus Pariaman jurusan Pekanbaru dan melompat pula di Simpang Napar.

     Ada informasi pula dari Nurfiardi Adhy bahwa tahun 1987 ke bawah sebelum bus Padang—Pekanbaru melintasi jalan alternatif, bus tersebut melintasi Jalan Sudirman, jadi banyak orang menunggu bus di samping Masjid Muhammadiyah atau di Simpang Benteng. Sedangkan Dalzuarni Arni juga mengingat bahwa kalau ia pulang merantau dari Duri maka ia tak lupa makan Bubua Samba Uni Bak En. Rasanya enak dan murah, katanya. Kini kalau ia pulang atau balik dari Duri hanya naik mobil travel saja lagi, katanya.

     Begitu pula dengan Yenny Fitri Z yang berkampung di Napar ini mengatakan bahwa sekitar tahun 1995—2004, Simpang Napar ini sa-ngat ramai, katanya. Banyak PO Bus ke Pekanbaru, Duri, Dumai, dan Perawang di situ, juga Gumarang, Yanti Group, Tabek Biru, RNS, dll. Ditambah pula pos TPR yang mangkal di situ dan petugasnya berjaga bergantian 24 jam. Banyak sumber penghidupan di Simpang Napar dulunya. Mulai dari agen, tukang angkat, ojek, pengamen, anak jojo, sampai kedai berjualan oleh-oleh banyak yang berjaya di masa itu.

     Kalaulah seminggu sebelum puasa sampai seminggu setelah leba-ran, maka itu masa-masa panen raya dan stok jualan untuk oleh-oleh haruslah disiapkan banyak di setiap kedai. Kadang kalau sudah dekat ke arus mudik dan balik, maka memesan barang jualan ke Erina sudah harus ikut membungkus bareh randang di gudangnya supaya dapat stok. Dalam sehari stok pagi habis siang, dibeli siang habis sore, dibeli sore habis malam. Jadi pagi sebelum jam 7 sudah harus berjalan ke grosir untuk stok barang jualan kedai, katanya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url