TONGGAK TUO MASJID MUHSININ TIAKAR

 

Tonggak Tuo Masjid Muhsisnin Tiakar. Foto: Feni Efendi

Masjid Muhsinin, merupakan bisu perjalanan panjang sejarah, sebuah gedung yang menyimpan jejak-jejak masa lalu yang berharga. Dibangun pada tahun 1926, di tengah cengkeraman kekuasaan Kolonial Belanda, masjid ini menjadi simbol ketahanan dan semangat keagamaan masyarakat setempat. Di bawah kepemimpinan Angku Palo Medan Dt. Simulie Nan Kuniang, kepala nagari pada masa itu, Masjid Muhsinin lahir, menjadi oase spiritual di tengah gejolak zaman.

     Keberadaan Masjid Muhsinin bukan hanya tentang fungsi religiusnya, tetapi juga tentang bagaimana ia merepresentasikan identitas dan warisan budaya. Bangunan ini, dengan arsitektur yang mencerminkan perpaduan antara tradisi lokal dan pengaruh kolonial, menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat beradaptasi dan tetap mempertahankan jati diri mereka. Tonggak-tonggak besar di tengah masjid, yang ukurannya mencapai tiga pelukan orang dewasa, menjadi bukti betapa kokohnya fondasi yang dibangun oleh para pendahulu. Tonggak-tonggak itu, bersama dengan dinding-dinding lantai satu, adalah bagian asli yang masih tersisa, menjadi saksi bisu dari setiap doa yang dipanjatkan, setiap langkah yang diambil, dan setiap peristiwa yang terjadi di dalam masjid.

     Keaslian bagian-bagian ini bukan sekadar artefak fisik, tetapi juga simbol dari kekuatan spiritual dan kebersamaan masyarakat. Dinding-dinding yang telah menyaksikan perubahan zaman, tonggak-tonggak yang telah menopang bangunan selama hampir seabad, semuanya menyimpan energi dan semangat dari generasi ke generasi. Mereka adalah pengingat akan perjuangan, ketekunan, dan keyakinan yang diwariskan oleh para pendahulu.

      Masjid Muhsinin lebih dari sekadar bangunan tua. Ia adalah ruang di mana sejarah dan spiritualitas bertemu, di mana tradisi dan modernitas berdampingan. Keberadaannya mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya, bukan hanya sebagai benda mati, tetapi sebagai sumber inspirasi dan kekuatan. Di tengah arus perubahan yang terus menerus, Masjid Muhsinin tetap berdiri tegak, menjadi simbol ketahanan dan keagungan, sebuah warisan berharga yang akan terus menginspirasi generasi mendatang.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url