MAKAM NINIAK BA IKUA

  

Makam Niniak Ba Ikua (kiri), batu duduak an rajo (kanan). Foto: Feni Efendi

Di tengah hiruk pikuk aktivitas belajar mengajar Taman Kanak-Kanak (TK) Puti Bungsu di Nagari Tiakar, Kota Payakumbuh, tersimpan sebuah situs bersejarah yang sarat makna: Makam Niniak Ba Ikua. Nama ini, yang secara harfiah berarti "Nenek Berekor," mungkin terdengar unik dan mengundang rasa penasaran. Namun, di balik nama tersebut, tersembunyi kisah tentang seorang perempuan bernama Zainab, anak seorang raja dari Pariangan, yang jejaknya masih terasa hingga kini.

     Zainab, yang kemudian dikenal sebagai Niniak Ba Ikua, bukanlah sosok perempuan biasa. Ia adalah bagian dari narasi sejarah dan legenda Minangkabau yang menghubungkan Tiakar dengan pusat peradaban Minangkabau di Pariangan. Kisah hidupnya, meski diselimuti misteri dan legenda, menjadi penanda penting dalam memahami perjalanan sejarah daerah ini. Salah satu peninggalan yang terkait erat dengan kisah Zainab adalah sebuah batu tempat duduk raja. Batu ini, yang terletak di antara Padang Baru dan Tanjung Mananti (kini Tanjung Harapan), konon menjadi saksi bisu penantian seorang ayah. Sang raja, yang terpisah dari putrinya oleh banjir, duduk di atas batu tersebut, menanti air surut agar dapat bertemu kembali dengan Zainab. Batu ini bukan sekadar artefak, tetapi juga simbol dari kasih sayang seorang ayah dan kerinduan yang mendalam.

     Legenda Niniak Ba Ikua, dengan segala keunikannya, mencerminkan kekayaan budaya Minangkabau yang kaya akan cerita dan simbolisme. "Ba Ikua" atau "berekor" mungkin merujuk pada metafora atau simbol yang memiliki makna khusus dalam konteks budaya Minangkabau. Dalam budaya Minangkabau, cerita sering kali disampaikan dalam bentuk kiasan untuk menyampaikan pesan moral atau sejarah.

     Keberadaan Makam Niniak Ba Ikua di areal TK Puti Bungsu juga menunjukkan bagaimana sejarah dan tradisi dapat hidup berdampingan dengan kehidupan modern. Anak-anak yang bermain dan belajar di sekitar makam tersebut, tanpa disadari, tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan nilai-nilai sejarah dan budaya. Ini adalah cara yang unik untuk melestarikan warisan budaya, menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

     Lebih dari sekadar situs sejarah, Makam Niniak Ba Ikua adalah pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya. Kisah Zainab, dengan segala misteri dan legendanya, adalah bagian dari identitas Payakumbuh dan Minangkabau. Melalui cerita ini, generasi muda dapat belajar tentang sejarah, nilai-nilai budaya, dan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Dengan demikian, Makam Niniak Ba Ikua bukan hanya sebuah tempat yang menyimpan jasad seorang perempuan dari masa lalu, tetapi juga sebuah simbol yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia adalah jejak sejarah yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya yang telah membentuk identitas kita.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url