Burung Gereja

 


Burung Gereja. Foto: wikipedia

Burung gereja dikenal juga dengan sebutan cikedih atau pingai di ranah lokal, burung dengan nama ilmiah dari keluarga passeridae ini telah menjelma menjadi pemandangan lazim, bahkan tak terpisahkan dari lanskap kota-kota besar. Dan keberadaan burung gereja dalam jumlah yang masif di area urban bukanlah suatu kebetulan. Lebih dari sekadar burung liar biasa, sparrow menunjukkan tingkat toleransi dan kemampuan menyesuaikan diri yang luar biasa terhadap lingkungannya. Perubahan cuaca ekstrem, fluktuasi ketersediaan pakan, hingga ancaman predator yang senantiasa mengintai, seolah tak mampu menggoyahkan eksistensi mereka. Inilah yang kemudian melabeli mereka sebagai penghuni ekosistem yang didominasi manusia (human dominated ecosystem), sebuah julukan yang lahir dari kedekatan dan ketidakgentaran mereka terhadap kehadiran manusia.

       Tak ayal, pemandangan burung gereja yang bertengger di atap rumah, mematuk remah roti di trotoar, atau beterbangan di antara lalu lalang pejalan kaki menjadi narasi sehari-hari di kota-kota besar di Indonesia. Bentuk tubuhnya yang kecil, gemuk, dengan ekor pendek dan paruh kuat, menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Warna cokelat-kelabu yang mendominasi bulunya memberikan kamuflase yang sempurna di tengah lingkungan perkotaan yang didominasi warna serupa. Menu makanan mereka pun sederhana namun efektif: biji-bijian dan serangga-serangga kecil yang seringkali ditemukan di sisa-sisa aktivitas manusia.

       Kisah penyebaran burung gereja pun tak kalah menarik. Berawal dari benua Eropa, Afrika, dan Asia, kehadiran mereka di Australia dan Amerika merupakan buah dari campur tangan manusia. Para pendatang membawa serta burung-burung kecil ini, mungkin tanpa menyadari betapa suksesnya mereka beradaptasi di habitat baru. Kini, jenis House Sparrow justru lebih banyak ditemukan di Amerika Utara, Australia, dan Amerika Selatan, sebuah testament akan kemampuan mereka untuk berkoloni dan berkembang biak di berbagai penjuru dunia.

       Burung gereja, dengan segala keunikan dan kemampuannya, mengajarkan kita tentang resiliensi dan adaptasi. Di tengah perubahan lingkungan yang pesat, kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa kehidupan selalu mencari cara untuk bertahan dan berkembang, bahkan di jantung peradaban manusia yang paling ramai sekalipun. Kisah si kecil cokelat-kelabu ini adalah cerminan harmoni, atau setidaknya koeksistensi, antara alam dan kota, sebuah fenomena yang patut kita amati dan renungkan.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url