Burung Ketitiran (Perkutut Jawa)
Ketitiran. Foto: wikipedia
Burung Ketitiran atau Perkutut Jawa (Geopelia Striata adalah burung pemakan biji-bijian, sebuah adaptasi yang memungkinkannya untuk memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di lingkungannya. Meskipun demikian, fleksibilitas dietnya memungkinkan burung ini untuk sesekali memangsa serangga, menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan ketersediaan pakan di habitat aslinya. Ketika beralih menjadi hewan peliharaan, pola makannya mengalami penyesuaian. Para penghobi dengan cermat menyediakan campuran biji-bijian seperti milet putih, milet merah, jewawut, dan gabah kecil, dengan sesekali tambahan ketan hitam. Variasi pakan seperti canary seed, biji godem, dan biji sawi juga diberikan untuk melengkapi nutrisi. Tak ketinggalan, tulang sotong hadir sebagai sumber mineral penting untuk menjaga kesehatan tulang dan kualitas suara burung.
Fenomena memelihara burung ketitiran sebagai hobi yang menghasilkan suara merdu, telah mengakar kuat dalam budaya Minagkabau sejak zaman dulu. Lebih dari sekadar memelihara, para penghobi mengembangkan pengetahuan mendalam untuk menjaga kualitas suara dan kesehatan burung kesayangan mereka. Pemberian jamu dan vitamin menjadi bagian tak terpisahkan dalam persiapan lomba, sebuah tradisi yang diyakini dapat merangsang bunyi dan meningkatkan stamina burung. Ritual ini seringkali didahului dengan pemandian dan pemberian lolohan kacang hijau yang telah direndam, sebuah praktik yang menunjukkan perhatian detail para penghobi terhadap kondisi fisik burung.
Kebersihan juga menjadi prioritas dalam perawatan burung ketitiran. Mandi rutin, biasanya seminggu sekali, membantu menjaga kebersihan bulu dan kesehatan kulit burung. Menariknya, frekuensi mandi dapat disesuaikan dengan karakter burung. Perkutut dengan karakter liar mungkin membutuhkan intensitas mandi yang lebih sering hingga dua atau tiga kali seminggu, yang kemudian dapat dikurangi seiring dengan meredanya sifat liarnya. Hal ini mencerminkan pemahaman para penghobi terhadap individualitas setiap burung. Selain pakan dan kebersihan, paparan sinar matahari langsung juga krusial bagi kesehatan burung ketitiran yang dipelihara di sangkar. Penjemuran di tiang kerekan, seringkali dengan ketinggian mencapai tujuh meter, bukan hanya bertujuan untuk memberikan kehangatan alami, tetapi juga diyakini dapat meningkatkan kualitas suara dan vitalitas burung. Tradisi ini menunjukkan bagaimana para penghobi berupaya untuk meniru kondisi alami habitat burung meskipun berada dalam lingkungan peliharaan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh