Burung Sikok
|
Sikok. Foto: YouTube |
Salah satu kisah menarik tersebut tersembunyi dalam siklus reproduksi burung balam atau burung ketutur (spesies Macropygia phasianella) yang jika menghasilkan tiga telur, maka telur ketiga inilah yang kemudian memunculkan sosok burung sikok. Burung ini akan menjadi predator ulung yang memiliki kemiripan dengan burung alap-alap, sebuah paradoks mengingat induknya adalah pemakan umbi-umbian. Jika fenomena ini benar, ini sebuah anomali biologis yang patut dipertimbangkan. Bagaimana mungkin seekor burung herbivora dapat menghasilkan keturunan yang sepenuhnya karnivora dan memiliki adaptasi fisik serta perilaku layaknya predator udara? Beberapa kemungkinan dapat kita telaah untuk memahami teka-teki ini.
Meskipun induknya memiliki kecenderungan herbivora, gen resesif yang kuat dapat saja terkandung dalam materi genetiknya. Ketika dua individu dengan kombinasi gen resesif tertentu bertemu dan menghasilkan keturunan, telur ketiga mungkin membawa ekspresi genetik yang berbeda secara signifikan, mengarah pada perkembangan embrio dengan karakteristik predator. Namun, mekanisme genetik yang sedemikian drastis dalam satu spesies sangat jarang terjadi dan memerlukan penelitian mendalam untuk dibuktikan. Pertimbangan selanjutnya yaitu fenomena parasitisme induk (brood parasitism) yang tidak disadari. Mungkin saja, burung lain yang memiliki kemiripan dengan burung alap-alap secara diam-diam menitipkan telurnya di sarang burung balam, burung balam yang tanpa menyadari perbedaan tersebut, akan mengerami dan membesarkan anak burung asing tersebut. Kemiripan fisik antara anak burung parasit dengan burung alap-alap akan memperkuat dugaan ini. Namun, mengapa hanya telur ketiga yang diasumsikan sebagai telur parasit, dan bagaimana mekanisme burung alap-alap menipu burung ketutur, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Terlepas dari penjelasan yang paling mungkin, kisah tentang telur ketiga burung balam yang bertransformasi menjadi burung sikok yang menyerupai alap-alap adalah sebuah narasi yang memantik rasa ingin tahu. Jika fenomena ini benar-benar terjadi, ia akan menjadi studi kasus yang luar biasa dalam biologi evolusioner dan ekologi perilaku. Namun, untuk saat ini, kisah ini lebih terasa sebagai sebuah metafora alam, sebuah pengingat bahwa dalam kehidupan, kejutan dan transformasi yang tak terduga selalu mungkin terjadi, bahkan dalam siklus hidup makhluk yang tampak sederhana seperti burung burung balam.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh