Ikan Rayo (Ikan Mas)

Ikan Rayo. Foto: wikipedia

Ikan rayo atau ikan mas atau karper (cyprinus carpio ) bukan sekadar penghuni perairan tawar di Indonesia; ia adalah bagian tak terpisahkan dari lanskap perikanan, budaya, dan bahkan sejarah kuliner bangsa. Sejak diperkenalkan pada dekade 1920-an, ikan yang berasal dari berbagai penjuru dunia seperti Cina, Eropa, Taiwan, dan Jepang ini telah beradaptasi dan berdiversifikasi, melahirkan varietas lokal unggul seperti "ikan mas punten" dan "ikan mas majalaya". Keberadaannya yang meluas, dari kolam hias yang tenang hingga wajan penggorengan yang menggugah selera, membuktikan nilai ekonomis dan sosialnya yang signifikan di bumi pertiwi.

      Habitat ideal ikan mas yang berada di perairan tawar dangkal dengan aliran air yang tenang, pada ketinggian antara 150 hingga 600 meter di atas permukaan laut dan suhu 25-30 °C, menjadikannya kandidat yang sempurna untuk budidaya di berbagai wilayah Indonesia. Kemampuannya untuk bertahan hidup dalam kondisi yang beragam, bahkan sesekali dijumpai di perairan payau dengan salinitas moderat, menunjukkan adaptabilitasnya yang luar biasa. Sebagai omnivora, ikan mas juga tidak terlalu pemilih dalam hal makanan, memangsa tumbuhan dan hewan renik yang melimpah di dasar dan tepi perairan. Karakteristik biologis ini semakin memantapkan posisinya sebagai spesies akuakultur yang menguntungkan.

      Keanekaragaman jenis ikan mas yang beredar di kalangan petani Indonesia mencerminkan dinamika selera dan preferensi lokal. Di Jawa Barat, misalnya, "ikan mas majalaya" menjadi primadona dengan keunggulan laju pertumbuhan yang cepat, ketahanan terhadap bakteri Aeromonas hydrophila, rasa yang lezat, dan penyebarannya yang luas. Namun, popularitas suatu jenis ikan mas tidak selalu bersifat universal, menunjukkan adanya ikatan kuat antara tradisi budidaya turun-temurun dan preferensi masyarakat setempat. Pengakuan terhadap "varietas majalaya" sebagai jenis unggul oleh Kementerian Pertanian pada tahun 1999 semakin mengukuhkan posisinya dalam kancah perikanan nasional.

      Secara garis besar, ikan mas di Indonesia terbagi menjadi dua kelompok besar: ikan mas konsumsi dan ikan mas hias. Kelompok ikan mas konsumsi, seperti "ikan mas punten" dengan tubuhnya yang membuntak, "ikan mas sinyonya" yang produktif, "ikan mas taiwan" yang responsif, "ikan mas merah" dengan sisik keemasannya, "ikan mas majalaya" yang unggul, "ikan mas yamato" yang kurang populer, hingga "ikan mas lokal" yang merupakan hasil persilangan, semuanya berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Sementara itu, kelompok ikan mas hias menawarkan keindahan visual dan kepuasan estetika. "Ikan mas kumpay" dengan siripnya yang menjuntai, "ikan mas kancra domas" yang aktif, "ikan mas kaca" yang unik dengan sedikit sisik, "ikan mas fancy" yang berwarna-warni, hingga "ikan mas koi" yang elegan dari Jepang, memperkaya khazanah akuakultur sebagai elemen dekoratif yang memikat.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url