Jalan di Pasar Pajacombo

 


     Pasar Pajacombo sudah memang terkenal sangat ramai setelah perang paderi. Budaya masyarakatnya yang ramah dan terbuka me-nerima perubahan maka pemerintah Hindia Belanda pun menjadi-kan daerah ini sebagai wilayah yang penting. Dan setelah perang paderi berakhir, pemerintah Hindia Belanda langsung menjadikan Sumatera Barat ini yang sebelumnya hanya berstatus residen dinaikkan menjadi provinsi pada 29 November 1837.

     Adapun Pajacombo saat itu termasuk dalam Afdeeling Padang Bavensladen dan Pajacombo itu sendiri menjadi Onderafdeeling yang wilayahnya meliputi Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang dengan ditempatkannya seorang kontroler kelas 1.

 

Jalan Pasar Pajacombo. Foto antara tahun: 1890. Koleksi: KILV. Nomor Inventaris: KITLV 27032.  Fotografer: tidak dikenali

 

     Karena begitu pentingnya Pajacombo di mata pemerintah Hindia Belanda maka jalan-jalan pun dibangun bagus dan jembatan (Jem-batan Ratapan Ibu sekarang) pun segera dibangun untuk memu-dahkan pengangkutan kopi-kopi yang cukup melimpah di Pajacombo.      

      Kita bisa melihat foto di atas bahwa jalan-jalan dibangun di Pajacom-bo sudah rapi sebelum memasuki tahun 1900. Pohon-pohon ditanam rapi di tepi jalan. Dan tidak jarang di lokasi-lokasi strategis itu sudah terpasang lampu-lampu penerang jalan.

 

Pasar Pajacombo. Foto antara tahun: 1935. Koleksi: KILV. Nomor Inventaris: KITLV 52784. Fotografer: : tidak diketahui

 

     Sedangkan pada gambar di atas, jalan-jalan di Pasar Pajacombo sudah semakin bagus. Kita bisa melihat tiang-tiang listrik sudah terpasang di tepi jalan. Kalau kita cermati, foto di atas persis di foto di lokasi Tugu Adipura sekarang yang mengarah ke Labuh Basilang. Dan di kejauhan terlihat jelas komplek pertokoan Penang Elektronik yang dibangun pada tahun 1917. Sedangkan foto di atas dipotret pada tahun 1935.  Berdasarkan foto-foto ini pun terlihat bendi-bendi yang menjadi transportasi utama berjalan dengan lancar. Pada masa itu, mobil jumlahnya masih dalam hitungan jari. Dan salah satu pemiliknya adalah ayah dari P.K. Ojong yang tinggal di Kampung China Payakumbuh.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url