Jembatan Ratapan Ibu
Jembatan Ratapan Ibu. Foto: Feni Efendi
Berbagai bentuk jembatan di lokasi Jembatan Ratapan Ibu ini sudah banyak didirikan. Mulanya sebagai tempat melompat ke seberang ka-rena bantaran satu ke bantaran sebelahnya tidak begitu jauh. Dan ketika sedang tidak musim hujan, orang-orang zaman dulu menye-berangi Batang Agam cukup berjalan kaki saja. Kedalaman airnya sekitar setinggi betis. Dan tinggi permukaan air dengan bantaran tidak begitu tinggi, hanya sekitar 30 atau 50 cm. Dan sekarang me-mang sudah beda. Tinggi bantaran Batang Agam bisa mencapai 3 meter dan kedalamannya 3 meter pula. Dan ketika masyarakat sudah mulai ramai antara kedua belah wilayah Batang Agam maka jemba-tan pun sudah mulai menggunakan pohon kelapa. Dan itu jauh sebelum Belanda memasuki Payakumbuh ini pada tahun 1832.
Belanda Memasuki Payakumbuh
|
|
Biasanya pembangunan jembatan atau jalan di zaman Belanda itu dilakukan oleh orang laki-laki dewasa di zaman itu. Setiap laki-laki akan dibebankan kerja wajib 25 hari dalam setahun. Selama dalam waktu kerja wajib itu, mereka akan memenuhi kebutuhan makanan dan berbagai hal lainnya sendiri. Dan ini suatu ketetapan pemerintah Hin-dia Belanda sebagai pengganti membayar pajak. Bagi sebagian orang-orang kaya di zaman itu yang tidak mau melakukan kerja wajib maka mereka bisa menggantinya dengan membayar sejumlah uang.
Pada Masa Jepang
Pada masa Jepang, ada seorang sastrawan besar China yang ikut berjuang dengan membela pribumi dan keturunan Tionghoa dengan sikap anti Jepang di Pajakoemboeh. Nama samarannya adalah Zhao Lion dan dilidah orang pribumi dikenal dengan nama Coulion.
Ia melarikan diri dari negaranya karena terlibat konflik dengan Partai Komunis China dan menuju Singapura. Ketika Jepang mema-suki Singapura tahun 1942 maka Yu Dafu melarikan diri ke Paja-koemboeh dengan berpindah-pindah tempat dari Selat Panjang, Bengkalis, Desa Padang, Peng-he-ling, hingga ke Siak dan Pekan-baru. Dari Pekanbaru Yu Dafu menaiki bus selama 4 hari ke Paya-kumbuh. Dan saat itu penduduk Payakumbuh berjumlah 10.000 jiwa dan 2000 di antaranya adalah keturunan Tionghoa.
|
|
Pernah Ayiyama Ryutaro (gubernur) sewaktu di Payakumbuh, dalam sebuah wawancara mengatakan: “Tidak lama setelah saya menjabat (1944—1946), Tuan Zhao mengunjungi saya untuk memberi hormat. Pemimpin Tionghoa perantauan adalah Tuan Cai, yang hanya bisa berbahasa Indonesia. Tuan Zhao Fasih berbahasa Jepang dan berpengaruh dalam komunitas Tionghoa. Jadi ketika menerap-kan kebijakan kami terhadap orang Tionghoa. Jadi ketika kami menerapkan kebijakan kami terhadap orang Tionghoa perantauan, kami sering kali harus melalui Tuan Zhao.”
Ada beberapa lamanya, Zhao menjadi penerjemah untuk Jepang yang berkantor di Bukittinggi. Dan dua kali dalam seminggu ia pu-lang ke Payakumbuh. Namun setelah itu ia mengundurkan diri dengan alasan sedang mengidap penyakit tuberkolosis. Dan selama di Pajakoemboeh, Zhao mulai menghidupi dirinya dengan membuka penyu-lingan anggur atau dikenal juga dengan nama sofi. Dan Komunitas Tionghoa Sedolga di Pajakoemboeh memberikan bantuan dana Rp.400 dan dari investor lokal sebanyak Rp.200. Penyulingan itu berdiri 1 September 1942 yaitu arak yang berbahan beras ketan. Dan pabrik penyulingan itu bernama Penyulingan Zhaoyi yang beralamat di Jalan Tionghoa Perantauan. Di mana Zhao sebagai pe-milik, Hu Zhi sebagai akuntan, dan Zhang Chukun (jurnalis dari Singapura) sebagai manajer. Dan anggur Zhao itu sangat poppuler di zaman itu dan pada Juni 1944, Zhao memproduksi anggur dengan merk First Love dan Taibai.
Selama di Pajakoemboeh, Zhao menikahi gadis Tionghoa di Pa-dang yang buta huruf. Namanya Chen Lianyou dan diubah oleh Zhao menjadi He Liyou. Pernikahan itu pada 1 September 1943 di Restoran Rong-sheng di Padang. Dan mereka melahirkan 2 orang anak.
Bukittinggi menjadi markas angkatan bersenjata Jepang pada awal 1944 untuk seluruh wilayah Sumatera. Staf militer untuk jabatan tinggi didatangkan dari Singapura. Salah satu agen dari Singapura itu bernama Hong Genpei (seorang Tionghoa) yang ditugaskan untuk menyelidiki orang-orang yang anti terhadap Jepang. Selama di Bukittinggi itu, Zhao Lian diidentifikasikan oleh Hong Genpei se-bagai Yu Dafu. Bahkan seorang mantan sebuah kepala sekolah Tionghoa di Pajakomeboeh memberikan kesaksian pada saat itu na-mun kesaksian itu tidak mengakibat apa-apa terdahap diri Zhao atas tuduhan itu. Namun meski begitu, Zhao selalu diawasi lebih ketat oleh pasukan Jepang setelah itu.
Zhao sangat bersemangat mengetahui kalau Jepang menyerah kepada sekutu sejak tanggal 14 Agustus 1945. Dan Zhao berkeliling memberi tahu teman-temannya bahwa perang telah usai. Hingga akhirnya pengungsi-pengungsi yang bersembumnyi selama ini men-jadi aktif kembali. Ada pada sebuah malam hari, 29 Agustus 1945, teman-teman dari Perusahaan Perkebunan Tionghoa Rantau Sumatera Barat berkumpul di rumah Zhao. Ketika acara sedang ber-langsung, datanglah seorang pemuda pada pukul 20.00 WIB mengetuk pintu. Setelah berbicara beberapa saat antara Zhao dengan pemuda itu, Zhao kembali mendatangi teman-temannya bahwa dia pergi sebentar dengan pemuda itu dengan memakai piyama dan sandal.
Teman-temannya masih menunggu Zhao sampai tengah malam namun Zhao belum juga pulang. Hingga di pagi harinya, istri Zhao melahirkan anak kedua mereka berjenis kelamin perempuan namun Zhao belum juga kembali. Namun belakang diketahui bahwa malam itu Zhao bersama pemuda itu pergi ke kedai kopi terdekat. Pemilik kedai kopi melihat mereka berdua berbicara Bahasa Indonesia. Dan Zhao terlihat kesal dan marah.
Sekitar pukul 21.00 WIB, kedua orang itu meninggalkan kedai kopi. Dan seorang petani yang melihat kejadian itu di tengah kege-lapan malam ada sebuah mobil terparkir di jalan yang sepi dan menjemput kedua laki-laki itu. Dari spekulasi yang ada, di masa itu yang bisa me-miliki mobil hanya Jepang maka bisa dipastikan bahwa Zao telah di-jemput oleh prajurit Jepang dan diduga, Zhao dibawa ke Jembatan Ratapan Ibu untuk dieksekusi tanpa diketahui di mana jasadnya.
Masa Agresi Militer Kedua Belanda
Sedangkan pada masa agresi militer kedua Belanda tahun 1948—1949, dan juga pada masa PRRI tahun 1958—1961, jembatan ini lebih sering digunakan sebagai eksekusi manusia. Apakah itu pihak Indonesia yang dieksekusi Belanda ataupun Orang Dalam yang dieksekusi Tentara Pusat.
Adapun pada masa agresi militer kedua Belanda itu, kontroler Belanda di Payakumbuh bernama W.G. Klinj dan kemudian digan-tikan oleh W. Van Pilis. Dan kantor Tijdelijk Bestuur Amtenar (TBA) saat itu berkedudukan di Labuah Baru yaitu di Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota saat ini. Gedung yang menjadi tempat bersejarah itu telah dirobohkan oleh Badan Perta-nahan Kabupaten Lima Puluh Kota dan pemerintah Kota Payakumbuh telah terlambat menetapkan gedung bersejarah itu sebagai cagar budaya.
Di gedung bangunan kayu di lahan Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota itu juga sebagai tempat Dinas Informasi oleh Belanda atau disebut juga Inlchting Dienst (ID) dengan kepa-lanya Letnan Ofades Treuner dan stafnya Sersan Zsecher. Adapun kaki tangannya atau penghianatnya adalah Nyo Lek An alias De An seorang China. Selain itu juga ada Sastro Dt. Karayiang dan Paduko Dewa dari Koto Nan Gadang.
Dan dari kesaksian pelaku sejarah yang masih hidup seperti M. Djuri dan Ramli yang berasal dari Padang Alai Nagari Air Tabit mengatakan kepada C. Israr[3] pada hari Kamis, 30 Desember 1948, di pagi hari itu Belanda melakukan operasi dan patroli ke Nagari Air Tabit. Mulai dari Sicincin hingga ke Padang Alai menangkap pe-muda-pemuda yang tidak sempat meloloskan diri berjumlah 16 orang dan dibawa ke Markas Belanda di rumah Lamid[4] di dekat Pasar Payakumbuh jam 11 siang dan ditambah lagi dengan tawanan dari Sicincin. Dan pada pukul 16.00 WIB dibawa naik truk melewati Pasar Payakumbuh dan berhenti di Batang Agam.
Di Jembatan Batang Agam telah menunggu tentara Belanda dan kaki tangan Belanda yang bernama De An keturunan China yang berasal dari Padang Tiakar. Dan kaki tangan Belanda tersebut me-milih 12 orang tahanan selain M. Djuri, Ramli, Sama, Kasim untuk tiarap di atas jalan dan 4 tahanan lain disuruh pulang dan lalu tentara Belanda memberondong semuanya dengan tembakan hingga sampailah ajal mereka. Dan empat orang yang masih tertinggal disu-ruh melempar mayat-mayat tersebut ke Batang Agam dan akhirnya dibolehkan pulang.
Adapun dari berbagai peristiwa yang saya dapatkan dalam mene-lusuri korban-korban yang gugur di Jembatan Ratapan Ibu ini di antaranya ayah dari Ibuk Nati di Tiakar yang bernama Jiun. Saat itu umur beliau baru 10 bulan. Peristiwa itu ia terima dari ibunya dan saksi hi-dup yang menyaksikan peristiwa itu. Ketika itu ayahnya dibawa ke Jembatan Ratapan Ibu dan setelah tiba di sana maka ayahnya ditembaki beberapa kali oleh Belanda namun peluru-peluru itu tidak mampu menembus tubuhnya. Akhirnya Belanda menyu-ruhnya pulang. Namun baru sampai di pendakian Kapatapiang ia berjalan maka bertemulah seorang kaki tangan Belanda yang juga berasal dari Tiakar. Akhirnya ayah Ibuk Nati itu dibawa kembali ke Jembatan Ratapan Ibu dan diberi tahu kelemahannya kepada Belan-da oleh kaki tangan Belanda yang masih dari Tiakar itu. Ayah Ibu Nati itu kembali ditembak oleh Belanda dan lalu tewas dan jasadnya hanyut dibawa oleh arus Batang Agam.
Selain itu ada juga saya mendapakan keluarga korban yang lain gugur di Jembatan Ratapan Ibu itu yaitu Ibuk Elida Murni yang tinggal di Lundang, Parit Rantang, Koto Nan Empat. Saat itu umur beliau baru 2 tahun ketika ayahnya gugur ditembak oleh Belanda di Jembatan Ratapan Ibu. Ayahnya bernama Muctar Dt. Sinaro Kayo.
Keluarga korban yang lainnya adalah dari Ibuk Roslaini atau yang dikenal dengan panggilan Etek Ketek yang tinggal di Sungai Pinago, Koto Nan Empat. Saat itu, rumah gadangnya di geledah oleh Belanda dan 2 orang pemuda bersembunyi di atas loteng rumah gadang. Namun seorang tukang tunjuk (primbumi kaki tangan Be-landa) membocorkan rahasia itu. Maka ditangkaplah kedua pemuda yang bersembunyi itu dan disembelih memakai golok oleh Belanda. Dan kedua pemuda iu gugur dan dikuburkan oleh kaum perempuan. Di antaranya bernama Rani yaitu orang tua dari Etek Ketek. Adapun Etek Ketek saat itu baru berumur 6 tahun.
Adapun Bapak Barun (lahir 1933), yang masih ada hubungan keluar-ga juga dengan Etek Ketek, mengatakan bahwa pada masa itu pemuda banyak yang bersembunyi dan bertahan di Baruah, Sungai Pinago (per-sawahan dan tebing-tebing antara Taman Normalisasi Batang Agam dengan Sungai Pinago). Bahkan Nurmatias dan Azwar Tongtong juga sering tidur di Baruah yang masih berupa rimba dan semak. Sedangkan keluarga perwira itu tinggal di Surau Usang Bodi di Sungai Pinago.
Adapun orang yang pernah selamat di Jembatan Ratapan Ibu itu adalah Muktarraden dari Koto Baru Payobasung. Saat Belanda me-nembaknya ternyata pelurunya meleset sehingga ia pun berguling jatuh ke dalam Batang Agam. Sehingga Belanda tidak menyadarinya bahwa Muktarreden masih hidup.
Peresmian Nama Jembatan Ratapan Ibu
Setelah zaman sudah damai, jembatan ini yang semula bernama Jembatan Batang Agam maka diubah namanya menjadi Jembatan Ratapan Ibu pada 10 November 1959 pada masa pemerintahan Bupati KDH Kabupaten 50 Kota, Insp.Pol.S.M.Djoko. Jembatan ini salah satu jembatan tertua yang masih ada di Sumatera Barat. Dan setelah itu, jembatan ini lebih sering digunakan sebagai tempat pem-buangan sampah rumah tangga. Dan jangan heran di tahun 1970-an, bau yang tidak sedap karena gunungan sampah berasal dari lokasi Tugu Jembatan Ratapan Ibu saat ini. Namun pada tahun 1980-an, Mardisun bersama kawan-kawan seperjuangan zaman revolusi dulu mengusul-kan untuk membuat tugu di lokasi sekarang kepada Gu-bernur Sumatera Barat. Dan hal itu terkabulkan sehingga pemanda-ngan di jembatan ini terlihat lebih asri. Apalagi ditambah sebuah dengan pembangunan taman seperti yang ada saat sekarang.
Jembatan ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya di Balai Pe-lestarian Cagar Budaya (BPCB) dengan nomor inventaris 18/BCB-TB/A/03/2007. Dan bangunan ini seluas 40 m x 8 m. Jembatan diba-ngun oleh asisten resident, P.H. van Hengst, yang menggunakan susunan batu merah setengah lingkaran yang direkat dengan kapur tanpa menggunakan tulang besi. Jembatan ini memiliki 3 buah tero-wongan (barumbuang) yang ditopang oleh 2 buah tonggak tembok yang berukuran besar.
Jembatan Ratapan Ibu ini pernah dijadikan film dokumenter oleh stasiun televisi di Belanda yang bernama Nederlandse Omroed Stichting (NOS TV) tentang peristiwa kekejaman Belanda menembak pejuang RI di jembatan ini. Kru NOS TV itu adalah Timothy Deagle (juru kamera), Arfan Shaheba (juru suara), dan Sri Kusmiati (produser).
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau