MAKAM SYEKH ABDUL MAJID KOTO NAN GODANG

  

Syekh Abdul Majid. Foto: padang.tribunnews.com. Makam Syekh Abdul Majid. Foto: Feni Efendi

Payakumbuh, sebuah kota yang kaya akan tradisi keislaman, men-catat nama Syekh Abdul Majid al-Khalidi sebagai salah satu tokoh sentral yang meletakkan fondasi pendidikan dan spiritualitas di wilayah tersebut. Lebih dari sekadar seorang ulama, beliau adalah seorang pemimpin, pendidik, dan mursyid tarekat yang jejaknya masih terasa hingga kini.

     Syekh Abdul Majid al-Khalidi Koto Nan Godang, sebagaimana namanya, berasal dari daerah Koto Nan Godang, Payakumbuh. Beliau dikenal sebagai pendiri dan pemimpin pertama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di Payakumbuh, sebuah organisasi yang memiliki peran vital dalam pengembangan pendidikan Islam di Sumatera Barat. Selain itu, beliau juga mendirikan Madrasah Tar-biyah Islamiyah (MTI) Koto Nan Godang, sebuah lembaga pen-didikan yang melahirkan banyak ulama dan cendekiawan Muslim.

     Perjalanan keilmuan Syekh Abdul Majid tidak terlepas dari bimbingan Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka, seorang to-koh Naqsyabandiyah Khalidiyah yang sangat dihormati. Dari gu-runya inilah, Syekh Abdul Majid mendalami ilmu tarekat Naqsya-bandiyah Khalidiyah, sebuah aliran spiritual yang menekankan pada zikir dan penghayatan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Beliau kemudian menjadi salah satu tokoh Naqsya-bandiyah Khalidiyah yang berpengaruh di Payakumbuh, menye-barkan ajaran tarekat dan membimbing para muridnya dalam per-jalanan spiritual.

     Makam Syekh Abdul Majid yang terletak di Koto Baru Balai Janggo Nagari Koto Nan Godang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Di nisan makamnya tertulis tahun wafat 1867, sebuah penanda bahwa beliau hidup dan berdakwah pada masa yang penuh tantangan. Namun, warisan yang beliau tinggalkan jauh melampaui zamannya. Adapun peran Syekh Abdul Majid dalam mendirikan Perti dan MTI menunjukkan visi beliau dalam memajukan pen-didikan Islam. Beliau menyadari pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk mencetak generasi Muslim yang berilmu dan berakhlak mulia. Melalui MTI, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur Islam kepada para santri.

     Sebagai seorang mursyid tarekat, Syekh Abdul Majid mem-bimbing para pengikutnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amalan-amalan zikir dan wirid. Beliau mengajarkan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan spiritual. Pengaruh tarekat Naqsyaban-diyah Khalidiyah yang beliau sebarkan masih terasa hingga kini di Payakumbuh dan sekitarnya.

     Syekh Abdul Majid al-Khalidi adalah sosok ulama yang komprehensif, menggabungkan antara ilmu zahir dan batin. Beliau tidak hanya ahli dalam ilmu-ilmu syariat, tetapi juga mendalami ilmu tasawuf. Warisan beliau berupa lembaga pendidikan dan ajaran tarekat telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Islam di Payakumbuh. Dan kisah hidup Syekh Abdul Majid al-Khalidi adalah inspirasi bagi generasi Muslim masa kini. Keteladanan beliau dalam memperjuangkan pendidikan dan menyebarkan ajaran Islam patut ditiru. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada beliau.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url