MAKAM SYEKH ENGKU SOID

 

 Makam Engku Soid. Foto: Feni Efendi

Di jantung kota Payakumbuh, tepatnya di kompleks Masjid Assho'idiyah Bulakan Balai Kandi, tersembunyi sebuah jejak sejarah yang sarat makna: makam Syekh Engku Soid. Keberadaan makam ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya masjid itu sendiri, yang awalnya merupakan mushala sederhana didirikan oleh sang ulama pada tahun 1889. Meskipun tahun pasti wafat dan pembangunan makam Syekh Engku Soid masih menjadi misteri, keberadaannya menjadi saksi bisu perjalanan dakwah dan pengabdian seorang tokoh agama yang berpengaruh di wilayah tersebut.

     Syekh Engku Soid, melalui pendirian mushala yang kemudian berkembang menjadi Masjid Assho'idiyah, telah menancapkan fondasi keagamaan yang kuat di tengah masyarakat Bulakan Balai Kandi. Mushala yang didirikannya bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pembinaan umat. Di tempat ini, ilmu agama disebarkan, nilai-nilai luhur diajarkan, dan masyarakat dibimbing menuju jalan yang lurus.

     Keberadaan makam Syekh Engku Soid di kompleks masjid menambah nilai spiritual dan historis tempat ini. Makam tersebut menjadi simbol penghormatan dan pengingat akan jasa-jasa sang ulama. Para peziarah yang datang tidak hanya untuk beribadah di masjid, tetapi juga untuk mengenang dan mendoakan Syekh Engku Soid. Ziarah ke makam ini menjadi tradisi yang terus dilestarikan, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas warisan yang ditinggalkannya.

    Meskipun informasi mengenai tahun pembangunan makam belum terungkap, keberadaannya mengisyaratkan bahwa Syekh Engku Soid adalah sosok yang dihormati dan dicintai oleh masyarakat. Pembangunan makam di lokasi masjid menunjukkan betapa dekatnya sang ulama dengan tempat ibadah yang didirikannya. Hal ini juga mencerminkan tradisi masyarakat Minangkabau yang menghormati para ulama dan tokoh agama. Makam Syekh Engku Soid bukan sekadar tumpukan batu nisan. Ia adalah simbol dari sebuah perjalanan spiritual, pengabdian, dan warisan keilmuan. Makam ini mengingatkan kita akan pentingnya meneladani jejak para ulama dalam menyebarkan kebaikan dan membangun masyarakat yang berakhlak mulia.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url