Mamikek Burung

 

Tukang Pikek tahun 1910. Foto: KITLV Leiden 

      Di tengah hamparan sawah dan perbukitan di Payakumbuh, sebuah tradisi turun-temurun masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat yaitu mamikek. Tradisi ini merupakan cara tradisional untuk menangkap burung balam (perkutut) dan murai dengan menggunakan jerat. Lebih dari sekadar metode berburu, mamikek sarat akan nilai-nilai budaya, pengetahuan alam, dan keterampilan yang diwariskan dari generasi kegenerasi. 

     Mamikek bukan sekadar aktivitas berburu biasa. Ia meli-batkan pengetahuan mendalam tentang perilaku burung, jenis-jenis jerat yang tepat, dan lokasi-lokasi strategis di alam. Para pamikek (orang yang melakukan mamikek) harus mampu membaca tanda-tanda alam, memahami pola terbang dan kebiasaan makan burung, serta mengenali suara-suara khas mereka. Pengetahuan ini diperoleh melalui pengalaman dan pembelajaran dari para pendahulu.

     Proses mamikek dimulai dengan pemilihan lokasi yang tepat, biasanya di sekitar area persawahan, ladang, atau perbukitan yang menjadi habitat burung balam dan murai. Para pamikek kemudian memasang jerat yang terbuat dari tali nilon atau benang yang diikatkan pada ranting-ranting kecil atau bambu. Jerat ini dipasang secara hati-hati dan tersembunyi, dengan menggunakan umpan berupa biji-bijian atau serangga yang disukai burung ataupun berupa umpan burung balam yang sudah terlatih.

      Salah satu aspek menarik dari mamikek adalah penggunaan burung pemikat. Burung pemikat ini biasanya adalah burung balam atau murai jantan yang memiliki suara merdu dan gacor. Burung pemikat ditempatkan di dekat jerat untuk menarik perhatian burung liar. Ketika burung liar mendekat dan hinggap di jerat, mereka akan terperangkap. Mamikek bukan hanya tentang menangkap burung, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan alam. Para pamikek yang bijak akan memilih burung yang akan ditangkap, biasanya burung jantan yang sudah dewasa. Mereka juga akan melepaskan burung betina atau burung yang masih muda untuk menjaga populasi burung di alam.

      Namun, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi mamikek mengalami pergeseran. Modernisasi pertanian, penggu-naan pestisida, dan perburuan liar telah mengancam populasi burung balam dan murai. Selain itu, minat generasi muda terhadap tradisi ini juga semakin menurun. Oleh karena itu, upaya pelestarian tradisi mamikek perlu dilakukan. Upaya ini dapat dilakukan melalui edukasi kepada generasi muda tentang nilai-nilai budaya dan pengetahuan alam yang terkandung dalam tradisi ini. Selain itu, perlu adanya regulasi yang mengatur praktik mamikek agar tetap berkelanjutan dan tidak merusak ekosistem.

     Mamikek merupakan warisan budaya yang berharga dari masyarakat. Tradisi ini bukan hanya tentang menangkap burung, tetapi juga tentang kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam. Dengan melestarikan tradisi ini, kita turut menjaga kekayaan budaya dan keanekaragaman hayati Indonesia.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url