Murai
|
Murai. Foto: tribunmanadowiki.tribunnews.com |
Ada juga burung lain yang sangat mahal dan menjadi perlombaan yaitu burung murai. Dulu burung murai sangat banyak di Payakumbuh namun karena sering dijerat maka sekarang sudah langka. Biasanya burung murai ini bersarang di dalam pohon kelapa yang mati tersam-bar petir. Dan untuk murai yang paruhnya putih, biasanya berharga murah ketika dulu. Tetapi murai yang paruhnya bewarna kuning maka burung itu bisa berharga jutaan. Murai paruh kuning itu bernama mu-rai batu. Konon, sekarang semua jenis murai harganya telah mahal ka-rena saking langkanya. Hal yang unik dari burung murai ini pada zaman dahulu dipercaya masyarakat adalah ketika ia berkicau maka itu pertanda ada orang mati. Entah kenapa masyarakat memepercayainya tetapi bunyi kicau murai itu adalah dengan bunyian piciang..., piciang (tutup mata..., tutup mata).
Murai, atau yang juga dikenal dengan sebutan kucica, adalah kelompok burung pengicau berukuran sedang yang tergabung dalam genus Copsychus. Lebih dari sekadar pemangsa serangga, beberapa spesies dalam genus ini juga memperkaya dietnya dengan buah beri dan buah-buahan kecil lainnya, menunjukkan adaptasi yang menarik terhadap lingkungan mereka. Keberadaan mereka yang kerap menghiasi taman dan hutan di benua Afrika dan Asia menjadikan murai sebagai bagian tak terpisahkan dari keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
Sejarah penamaan genus Copsychus sendiri memiliki akar yang menarik. Diperkenalkan oleh naturalis Jerman Johann Georg Wagler pada tahun 1827, nama ini diambil dari bahasa Yunani Kuno, "kopsukhos" atau "kopsikhos," yang secara harfiah berarti "burung hitam." Penunjukan kucica kampung (Copsychus saularis) sebagai spesies tipe genus ini semakin memperkuat identitas kelompok burung ini di mata para ilmuwan dan pengamat burung.
Keanekaragaman dalam genus Copsychus tercermin dalam 12 spesies yang telah teridentifikasi. Mulai dari berkecet India (Copsychus fulicatus) yang lincah, kucica ekor-kuning (Copsychus pyrropygus) dengan ciri khasnya, hingga kucica hutan (Copsychus malabaricus) yang terkenal dengan kemerduan suaranya. Setiap spesies memiliki ciri khas unik dalam penampilan, habitat, dan perilaku, yang mencerminkan adaptasi mereka terhadap ceruk ekologi yang berbeda. Kehadiran mereka di berbagai wilayah geografis, mulai dari India hingga Filipina, Madagaskar, dan Seychelles, menunjukkan kemampuan mereka untuk berkolonisasi dan berkembang di berbagai kondisi lingkungan. Namun, di balik pesona dan keanekaragaman ini, tersimpan pula kisah pilu mengenai ancaman kepunahan. Kucica Seychelles (Copsychus sechellarum) menjadi contoh nyata betapa rapuhnya populasi burung liar di hadapan tekanan lingkungan dan aktivitas manusia. Dengan populasi yang kurang dari 250 individu, spesies ini menyandang status sebagai salah satu burung yang paling terancam punah di dunia. Kisah kucica Seychelles menjadi pengingat yang kuat akan pentingnya upaya konservasi untuk melindungi keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya.
Secara keseluruhan, murai atau kucica bukan hanya sekadar burung pemakan serangga. Mereka adalah representasi dari keanekaragaman hayati yang kaya di Afrika dan Asia, dengan sejarah penamaan yang menarik dan adaptasi yang beragam terhadap lingkungan mereka. Namun, kisah tragis kucica Seychelles juga menjadi panggilan mendesak untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan konservasi demi kelestarian seluruh spesies dalam genus Copsychus dan keanekaragaman hayati bumi secara keseluruhan. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan dan tantangan yang dihadapi oleh burung-burung ini, kita dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pesona murai akan terus menghiasi alam liar di masa depan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh