Balam/Tekukur
|
Murai. Foto: wikipedia |
Burung lain yang juga banyak di Payakumbuh sejak dulu adalah burung balam. Burung ini tidak boleh ditembak tetapi boleh dijerat. Menjerat burung balam ini namanya adalah mamikek (memikat). Cara mamikek burung balam ini adalah dengan meletakkan sebuah burung balam yang sudah jinak dan pandai yang disertai jeratan di sekeliling balam itu maka balam jinak yang pandai itu akan berbunyi untuk memanggil balam-balam liar di sekitarnya.
Balam-balam liar itu akan mendekat ke balam yang jinak tadi maka ketika hampir sampai ke tanah maka balam liar itu akan terjerak badannya. Dan peristiwa itulah yang sangat digemari oleh para pamikek yang sebelumnya bersembunyi di semak-semak. Burung balam ini makanannya adalah padi, umbi-umbian, dan berbagai jenis biji-bijian. Biasanya bersarang di atas pohon yang tinggi dengan telur berjumlah dua buah. Jika telurnya lebih dari dua maka telur ketiga akan menjadi sikok yaitu burung pemakan daging. Bia-sanya burung sikok sangat mirip burung balam nanti makanannya suka memangsa burung-burung kecil seperti burung pipit, anak ayam, dan lain-lain.
Burung Balam ditempatkan dalam genus Streptopelia dan secara fisik, Burung Balam memiliki ukuran sedang, dengan panjang tubuh sekitar 30 cm. Warna bulunya didominasi oleh cokelat kemerah-jambuan yang lembut, memberikan kesan hangat dan bersahaja. Ekornya tampak lebih panjang dibandingkan dengan merpati pada umumnya, dan bulu-bulu terluar pada ekornya dihiasi dengan tepi putih tebal yang mencolok. Kontras dengan tubuhnya, bulu sayapnya cenderung lebih gelap, memberikan dimensi visual yang menarik. Ciri khas yang paling mudah dikenali dari burung ini adalah bercak-bercak hitam putih yang menghiasi lehernya, membentuk pola seperti kalung yang elegan. Matanya yang berwarna jingga memberikan sentuhan kehidupan pada wajahnya, serasi dengan paruhnya yang hitam legam dan kakinya yang berwarna merah.
Habitat alami Burung Balam membentang luas, mulai dari anak benua India dan Tiongkok hingga ke selatan mencapai Pulau Jawa. Kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai lingkungan juga tercermin dari popularitasnya sebagai burung sangkar. Daya tarik inilah yang kemudian membawanya diperkenalkan ke berbagai belahan dunia lainnya, menjadikannya contoh sukses dari spesies yang berkoloni di luar habitat aslinya. Kehidupan Burung Balam sangat dekat dengan keberadaan manusia. Mereka sering terlihat di area permukiman, taman, dan lahan pertanian. Kebiasaan mencari makan di permukaan tanah menunjukkan adaptasi mereka untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan tersebut. Pemandangan sepasang Burung Balam yang bertengger dengan tenang di tempat terbuka adalah hal yang umum dijumpai. Ketika merasa terganggu, mereka akan terbang rendah di atas permukaan tanah dengan kepakan sayap yang pelan dan anggun, menciptakan pemandangan yang sekilas namun berkesan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh