Pacu Itik dari Sicincin
|
Pacu Itik. Foto: bangunpiaman.com |
Pacu Itik, atau balap itik, adalah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Para peternak itik di Sicincin melatih itik-itik mereka dengan tekun, mempersiapkan mereka untuk berlomba dalam kecepatan dan ketangkasan. Itik-itik yang dipilih adalah itik jantan yang memiliki fisik prima dan naluri balap yang kuat. Latihan intensif dilakukan di sawah-sawah yang telah disiapkan khusus, di mana itik-itik tersebut diajarkan untuk terbang rendah dan melesat cepat mengikuti aba-aba dari sang pemilik.
Ketika hari perlombaan tiba, suasana di Sicincin berubah menjadi meriah. Ratusan masyarakat dari berbagai penjuru Payakumbuh dan sekitarnya berkumpul di tepi sawah, menantikan dimulainya Pacu Itik. Teriakan semangat dan sorak sorai penonton memecah keheningan, menciptakan atmosfer yang penuh antusiasme. Para pemilik itik dengan bangga memamerkan itik-itik andalan mereka, yang telah dihias dengan warna-warni cerah, menambah semarak suasana.
Perlombaan dimulai dengan aba-aba dari panitia. Itik-itik dilepaskan secara bersamaan, terbang rendah di atas permukaan sawah, berlomba mencapai garis finis. Para pemilik itik berlari di sepanjang tepi sawah, memberikan semangat dan arahan kepada itik-itik mereka. Kecepatan dan kelincahan itik-itik tersebut sungguh memukau, membuat penonton terpana dan terhibur.
Pacu Itik bukan hanya tentang adu kecepatan, tetapi juga tentang kebersamaan dan kegembiraan. Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat, mempererat tali persaudaraan antarwarga. Di sela-sela perlombaan, para pedagang menjajakan berbagai makanan dan minuman khas Payakumbuh, menambah kenikmatan suasana. Lebih dari sekadar hiburan, Pacu Itik juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Tradisi ini merupakan bagian dari identitas masyarakat Sicincin, yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pacu Itik juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke Payakumbuh, memperkenalkan kekayaan budaya daerah ini kepada dunia luar.
Namun, seperti halnya tradisi lainnya, Pacu Itik juga menghadapi tantangan di era modern ini. Perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi dapat mengancam keberlang-sungan tradisi ini. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pele-starian yang berkelanjutan, baik dari pemerintah, masyarakat, maupun para peternak itik. Pemerintah dapat memberikan dukungan dalam bentuk promosi dan pengembangan Pacu Itik sebagai daya tarik wisata. Masyarakat dapat terus melestarikan tradisi ini dengan aktif berpartisipasi dalam setiap perlombaan. Para peternak itik dapat terus mengembangkan teknik pelatihan dan perawatan itik, menjaga kualitas dan daya saing itik-itik Sicincin.
Dengan upaya bersama, Pacu Itik Sicincin dapat terus hidup dan berkembang, menjadi hiburan yang memikat hati masyarakat Payakumbuh dan warisan budaya yang mem-banggakan. Tradisi ini bukan hanya tentang itik yang berlomba, tetapi juga tentang semangat kebersamaan, kegembiraan, dan pelestarian budaya yang harus terus dijaga.
Satu hal uniknya pacu itik sebagai lomba pacuan yaitu itik itu hidupnya yang liar, suka berkelompok, dan pandai berenang telah dibuat oleh Busakan dari Sicincin itu menjadi unggas ter-bang yang diperlombakan (Alan Minando, 2013). Mulanya Busakan yang beternak itik itu di tahun 1928 melihat seekor itiknya suka ter-bang, maka Busakan pun melatih itik itu patuh dan terlatih. Namun sebagaimana dari dulunya orang-orang di dataran tinggi Minangkabau ini suka mencemooh melihat hal-hal yang baru, maka Busakan pun tak luput dari cemoohan itu.
Akhirnya Busakan berhasil meyakinkan masyarakat sehingga acara pacu itik itu pun sekarang telah menjadi program yang dibina oleh Dinas Pariwisata Payakumbuh sejak tahun 1982 dan memiliki Persatuan Olah Raga Terbang Itik (PORTI).
Peraturan dalam pacu itik ini di antara umur itik sekitar 4 sampai 6 bulan; sayapnya tidak boleh berpilin dan lurus ke atas. Dan adapun kelas dalam pacu itik ini antara lain kelas jarak 800 meter, jarak 1600 meter, dan jarak 2000 meter (2 km). Biasanya itik-itik yang diperlomba-kan ini belum pernah bertelur. Itik-itik selalu dikurung dan diberi makan padi. Dan itik-itik yang sudah pandai bisa dihargai dengan har-ga Rp.100,000 hingga Rp.2.500.000.
Saat ini gelanggang pacu itik terdapat di beberapa 11 gelanggang di tempat berbeda di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota seperti di Bodi Padang Alai, Aur Kuning, Padang Cubadak, Tigo Balai dll. Dan saat ini pacu itik telah menjadi Warisan Budaya Indonesia sejak 9 Oktober 2020 oleh Kemendikbud dalam ketegori Warisan Budaya Tak Benda.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau