Rumah Ladi Sutan Bandaro

 

 

Rumah Bekas Markas Tentara Belanda di Parit Rantang. Foto: Feni Efendi

 

Rumah Ladi Sutan Bandaro di belakang SPBU Parit Rantang ini diba-ngun pada tahun 1937. Dan anaknya bernama Yasril (lahir 1949), se-orang pensiunan guru di SMA 1 Payakumbuh dan pernah juga me-ngajar di SMP 1 Payakumbuh, Tsanawiyah, dan sekolah Muham-madiyah Bunian.

     Sebelum rumah ini dibangun, lokasi ini dulunya adalah Pasar Kabau dan kemudian dipindahkan ke Labuh Baru (Terminal Pasa Kabau) dan setelahnya dipindahkan lagi ke Padang Tangah Koto Nan Ompek (SMA 4 sekarang) dan sekarang dipindahkan ke Koto Panjang Payobasung.

      Dulu di rumah ini, pernah ditempati oleh pemerintah Jepang dan setelahnya oleh tentara Belanda serta tentara pusat di bawah nau-ngan Kodim pada masa PRRI. Dan beberapa dekade lalu, orang-orang Belanda yang pernah tinggal di sini dulu pernah datang me-ngunjungi rumah ini satu rombongan. "Di sini kami dulu tinggal," katanya kepada Pak Yasril sambil menahan kenangan yang panjang melalui penerjemah.

      Adapun pada masa agresi militer kedua yang ditulis ulang kembali oleh Saiful Guci dari pelaku sejarah, Ahmad Husein dkk., mengabarkan bahwa dulu dua orang perawat perempuan asal Koto Nan Ompek membantu perjuangan RI. Dua srikandi itu bernama  Rabimar (Bong) dan Dahniar (Ciam).

     Dua perempuan ini berangkat dari rumah Rabimar dan menyamar sebagai penjual tembakau dan gambir Halaban. Dua perempuan ini lalu berkenalan dengan Umar (seorang tentara bayaran Belanda) yang bertugas di pos Belanda di stasiun dan asramanya di rumah Ladi Sutan Bandaro ini.

     Kedua perawat yang menyamar menjadi pedagang tembakau dan gambir ini mengajak Umar untuk memihak kepada RI. Dan Umar pun bersedia untuk menyeberang ke pihak RI. Sebelum Umar me-ninggalkan pos Belanda maka ketiga orang inipun bersiasat untuk membawa lari senjata milik tentara Belanda. Lalu disusunlah siasat bahwa ketika jam istirahat siang, regu patroli Belanda akan pulang ke asrama, dan Umar akan disuruh menjaga senjata itu. Maka kesem-patan itulah digunakan untuk membawa lari senjata ke pihak RI.

     Pada hari senin, menjelang tengah hari, ketiga orang itu segera membawa senjata Belanda itu ke pihak RI yang sudah menunggu di seberang Batang Agam di Tanjung Pauh Sumua Labi (sekarang orang me-nyebutnya Tanjung Pauh Samo Lagi) pada tanggal 30 Mei 1949. Ketiga orang itu dikejar-kejar oleh pasukan Belanda. Namun untung-lah pasukan RI tepat waktu menunggu di seberang Batang Agam yang dipimpin oleh Azwar Tong-Tong.

     Konon kabarnya untuk memperingati peristiwa itu maka diba-ngunlah sebuah tugu yang berbentuk Bambu Runcing di Taman Batang Agam meski peristiwa-peristiwa besar lainnya di kota ini belum sempat semuanya dibuatkan tugu.

     Saat ini rumah ini masih ditinggali dan belum terdaftar sebagai ba-ngunan cagar budaya oleh pemerintah kota ataupun dari BPCB. Di dalam rumah masih terdapat beberapa perabotan yang masih ada sejak zaman kolonial Belanda.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url