Tugu Jembatan Ratapan Ibu
Tugu Jembatan Ratapan Ibu. Foto: Feni Efendi
Setelah zaman sudah damai, jembatan ini yang semula bernama Jem-batan Batang Agam maka diubah namanya menjadi Jembatan Ratapan Ibu pada 10 November 1959 pada masa pemerintahan Bu-pati KDH Kabupaten 50 Kota, Insp.Pol.S.M.Djoko. Jembatan ini salah satu jembatan tertua yang masih ada di Sumatera Barat. Dan setelah itu, jembatan ini lebih sering digunakan sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangga. Dan jangan heran di tahun 1970-an, bau yang tidak sedap karena gunungan sampah berasal dari lokasi Tugu Jembatan Ratapan Ibu saat ini. Namun pada tahun 1980-an, Mar-disun bersama kawan-kawan seperjuangan zaman revolusi dulu mengusulkan untuk membuat tugu di lokasi sekarang kepada Gubernur Sumatera Barat. Dan hal itu terkabulkan sehingga peman-dangan di jembatan ini terlihat lebih asri. Apalagi ditambah sebuah dengan pembangunan taman seperti yang ada saat sekarang.
Jembatan ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya di Balai Pe-lestarian Cagar Budaya (BPCB) dengan nomor inventaris 18/BCB-TB/A/03/2007. Dan bangunan ini seluas 40 m x 8 m. Jembatan diba-ngun oleh asisten resident, P.H. van Hengst, yang menggunakan susunan batu merah setengah lingkaran yang direkat dengan kapur tanpa menggunakan tulang besi. Jembatan ini memiliki 3 buah terowongan (barumbuang) yang ditopang oleh 2 buah tonggak tem-bok yang berukuran besar.
Jembatan Ratapan Ibu ini pernah dijadikan film dokumenter oleh stasiun televisi di Belanda yang bernama Nederlandse Omroed Stichting (NOS TV) tentang peristiwa kekejaman Belanda menembak pejuang RI di jembatan ini. Kru NOS TV itu adalah Timothy Deagle (juru kamera), Arfan Shaheba (juru suara), dan Sri Kusmiati (produser).
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau