Rumah Potong Hewan
Rumah Potong Hewan di dekat Jembatan Ratapan Ibu. Foto: Feni Efendi
Di sudut kota yang tak jauh dari Jembatan Ratapan Ibu, berdiri sebuah bangunan bisu. Rumah jagal tua, saksi bisu perjalanan panjang sejarah kota ini, tersembunyi dalam kesederhanaannya. Bangunan ini bukan sekadar tempat pemotongan hewan, melainkan sebuah artefak arsitektur yang menyimpan jejak kolonial Belanda, sebuah narasi yang terhenti pada Agustus 2021.
Keberadaan rumah jagal ini, dengan gaya arsitektur Eropa yang kental, menjadi bukti nyata pengaruh kolonial yang pernah mencengkeram kota ini. Atap limas dari seng, dinding tebal dan kokoh, serta lengkungan setengah lingkaran di bagian depan, semuanya berpadu menciptakan kesan bangunan yang khas pada masanya. Tiang-tiang berukuran besar, 30 cm x 40 cm, seolah menopang beban waktu dan cerita yang terukir di dalamnya.
Sejak awal pendiriannya, yang sayangnya tidak diketahui secara pasti, bangunan ini difungsikan sebagai rumah potong hewan. Tata ruangnya yang terbuka, tanpa sekat, layaknya los, memperkuat fungsi tersebut. Kesederhanaan tata ruang ini mencerminkan fungsi utama bangunan, yaitu sebagai tempat pemrosesan hewan ternak. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan kisah panjang tentang kehidupan dan penghidupan masyarakat setempat, tentang bagaimana mereka memenuhi kebutuhan pangan dari generasi ke generasi.
Keberadaan rumah jagal ini juga menyimpan ironi. Di satu sisi, ia adalah simbol dari kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan. Di sisi lain, ia juga menjadi saksi bisu dari proses penyembelihan, sebuah tindakan yang mungkin dianggap kejam oleh sebagian orang. Namun, di balik itu semua, terdapat sebuah realitas kehidupan, sebuah siklus yang tak terhindarkan.
Pada Agustus 2021, rumah jagal ini akhirnya berhenti beroperasi. Fungsinya dipindahkan ke rumah potong hewan modern di Koto Panjang Payobasung. Peralihan ini menandai sebuah perubahan zaman, dari metode tradisional ke metode yang lebih modern dan higienis. Namun, perpindahan ini juga meninggalkan sebuah kekosongan, sebuah jejak sejarah yang kini hanya bisa dikenang.
Bangunan rumah jagal tua ini, meski tidak lagi berfungsi, tetap berdiri kokoh. Ia menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang kota ini, dari masa kolonial hingga era modern. Ia mengingatkan kita akan masa lalu, tentang bagaimana kehidupan dan penghidupan masyarakat setempat telah berubah seiring berjalannya waktu. Ia juga menjadi pengingat bahwa setiap bangunan, bahkan yang paling sederhana sekalipun, memiliki cerita yang layak untuk dikenang.
Kini, rumah jagal tua itu terdiam, menunggu untuk diceritakan kembali. Ia adalah sebuah monumen kecil, sebuah fragmen sejarah yang mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan budaya, bukan hanya bangunan megah, tetapi juga bangunan-bangunan sederhana yang menyimpan kisah panjang tentang kehidupan manusia. Ia adalah pengingat bahwa sejarah tidak hanya tertulis dalam buku, tetapi juga terukir dalam setiap sudut bangunan, dalam setiap batu yang membentuknya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau