Eks. Rumah P.K. Ojong
Eks. Rumah P.K. Ojong. Berdiri 1923 di Lundang Parit Rantang. Foto: Feni Efendi
Di jantung kota Payakumbuh, berdiri sebuah bangunan tua yang sarat akan sejarah. Dinding-dindingnya yang kokoh, dibangun pada tahun 1923, menyimpan jejak langkah seorang tokoh besar pers Indonesia, P.K. Ojong. Sebelum menjadi Gereja Bethel Indonesia (GBI) seperti yang kita lihat sekarang, gedung ini pernah menjadi rumah kediaman P.K. Ojong, pendiri surat kabar Kompas. Kisah hidupnya yang terjalin erat dengan kota Payakumbuh, khususnya dengan bangunan ini, menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang anak Minangkabau yang menorehkan tinta emas dalam sejarah jurnalistik Indonesia.
P.K. Ojong, yang lahir di Bukittinggi, menghabiskan masa kecil dan remajanya di Payakumbuh. Kota ini menjadi panggung awal bagi pembentukan karakter dan intelektualitasnya. Masa-masa sekolah menengah pertamanya di lokasi yang kini menjadi SD Pius, memberikan fondasi kuat bagi pemikirannya yang kritis dan analitis. Gedung yang kini menjadi GBI, menjadi saksi bisu dari hari-hari remajanya, tempat ia mungkin merenungkan banyak hal, bermimpi, dan merencanakan masa depannya.
Bangunan ini, dengan arsitektur kolonialnya yang khas, menjadi simbol perpaduan antara masa lalu dan masa kini. Keberadaannya mengingatkan kita pada masa ketika Payakumbuh menjadi saksi bisu dari kehidupan seorang tokoh yang kelak akan mengubah lanskap pers Indonesia. Bayangkan, di balik dinding-dinding ini, seorang remaja P.K. Ojong mungkin telah membaca buku-buku, berdiskusi dengan teman-temannya, dan mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia tulis-menulis.
Perubahan fungsi bangunan ini menjadi gereja GBI tidak menghilangkan nilai sejarahnya. Justru, hal ini menambah lapisan makna pada bangunan tersebut. Ia menjadi bukti adaptasi dan transformasi sebuah bangunan seiring berjalannya waktu. Dari rumah tinggal seorang tokoh pers, kini menjadi tempat ibadah bagi komunitas Kristen di Payakumbuh. Perubahan ini mencerminkan dinamika sosial dan budaya yang terus berkembang di kota ini.
Kisah P.K. Ojong dan gedung tua ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menghargai sejarah dan warisan budaya. Setiap bangunan memiliki cerita, dan cerita tersebut adalah bagian dari identitas kita sebagai bangsa. Gedung GBI Payakumbuh, dengan sejarahnya yang kaya, mengingatkan kita pada seorang P.K. Ojong, seorang putra Minangkabau yang berani bermimpi dan mewujudkan mimpinya. Ia adalah inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Keberadaan gedung ini juga menjadi pengingat bahwa Payakumbuh memiliki sejarah yang panjang dan beragam. Kota ini bukan hanya tempat kelahiran dan masa muda P.K. Ojong, tetapi juga tempat di mana berbagai budaya dan agama bertemu dan berinteraksi. Gedung GBI Payakumbuh adalah simbol dari keberagaman dan toleransi yang menjadi bagian dari identitas kota ini. Dengan demikian, gedung GBI Payakumbuh bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu dari sejarah, rumah bagi kenangan, dan simbol dari perjalanan hidup seorang tokoh besar. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap bangunan, ada cerita yang layak untuk dikenang dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau