Terminal di Payakumbuh

 

Angkot Sago. Foto: Feni Efendi

 

     Terminal Koto Nan Ompek Payakumbuh ini di bangun sekitar tahun 1980-an. Mulanya terminal itu di depan RM Asia Baru seka-rang dan setelahnya di Simpang Bofet Sianok lalu pindah ke Terminal Petak Sago. Ketika Petak Sago sudah ramai pula maka Terminal untuk bus antar kota dan provinsi dibuatkan di Bulakan Balai Kandi ini. Sedangkan terminal untuk mobil antar wilayah di Kabupaten Lima Puluh Kota dipindahkan ke Terminal Pasar Kabau di Labuh Baru.

     Dulu di tahun 1990-an, saya melihat terminal ini sangat ramai sekali. Kios-kios berjejer di bagian hilir terminal. Dan pedagang asongan juga banyak. Tentu saja pengamen-pengamen juga ada yang nanti naik di bus-bus itu. Dan pada hari raya adalah musimnya naik bus di sini untuk pergi bermain ke Bukittinggi. Ketika bus tiga perempat itu hampir penuh, naiklah stokar yang meminta ongkos ke-pada penumpang. Sebagai penumpang yang baik, tentulah kita le-kas-lekas memberikan ongkos itu. Tetapi ketika bus telah menempuh separuh perjalanan maka tibalah stokar yang baru meminta ongkos lagi. Setelah melihat semua orang memberikan ongkos, maka barulah kita mengerti bahwa stokar yang meminta ongkos di terminal tadi adalah stokar palsu yang me-nipu.

     Di terminal ini, gedung tempat penjualan karcis yang dulu masih ada. Masih bagus dengan catnya yang baru. Di sana ada Kantor Dinas Perhubungan LLAJ yang mengatur jalur transportasi dan telah meng-aktifkan terminal ini kembali pada 5 Juli 2021. Dan memang, kelahiran terminal baru akan menimbulkan "penguasa-penguasa baru" (baca pareman). Dulu yang namanya terminal selalu identik dengan ketidak-nyamanan (Doni Dwinata, 2021).

     Adapun Columba Livia mengingat terminal ini ketika akhir tahun  2003 yang sering pulang balik ke Bukittinggi. Naik bus tiga per em-pat di terminal. Tapi karena diburu waktu, orang yang sering pulang balik tidak mau naik di terminal karena lama menunggu penuhnya. Akhir-nya naik di jalan, di Pakan Sinayan, di Balai Panjang, atau di Labuah Sampik. Sedangkan Leon Kurniawan mengingat terminal ini menjadi saksi tempat mencari uang untuk ongkos pergi merantau ke Jakarta dengan menjadi agen bus TES (Terserah Engkau Sayang) selama se-tahun.

     Begitupun Bas Basrul yang tinggal di Andaleh pada tahun 1985 pergi sekolah ke SMA di Kayu Tanam dan naik busnya di terminal ini. Sedangkan Irna mengatakan bahwa TES dan Bintang Kejora adalah nama bus yang paling terkenal di zaman dulu. Namun Rico Rich mengenang pengalamannya bahwa dari hasil terminal itulah adiknya bisa tamat sekolah. Anak-anaknya tumbuh besar karena hasil mengamen sejak tahun 1996 di bus-bus TES, Ngalau Indah, Sago Sejati, dan sampai ANS. 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url