Pasar Payakumbuh Saisuak

 

Pasar Pajacombo. Foto antara tahun: 1935. Koleksi: KILV. Nomor Inventaris: KITLV 52784. Fotografer: : tidak diketahui

Nama Pasar Payakumbuh ini dulunya adalah Pekan Akad yang     berada di sisi kiri jalan ini kalau menuju Labuah Basilang. Ada tiga pohon beringin atau pohon muyang yang menjadi tempat berteduh pedagang yang membentang lapaknya. Inilah pasar paling ramai di dataran tinggi Minangkabau pada zaman dulu. Pedagang berbagai daerah berdatangan di sini. Membuat perkumpulan para perantau sesama daerah asal, mendirikan surau masing-masing, dan bofet-bofet, atau lapau dagang.

     Di sini juga pernah dibangun Gonjong Limo. Dan pada awal tahun 1980-an, pasar ini diremajakan dan didirikan pusat pertokoan seperti saat sekarang. Dulu ketika angkot sago masih banyak beroperasi, pasar ini sangat ramai. Dan sekarang perlahan-lahan mulai lengang sejak beralihnya sistim penjualan dari offline ke online. Begitulah zaman bergeser. Sekali aia gadang, sekali berubah tapian.

     Dari berbagai memori kolektif di masyarakat, Ondratanjuang masih mengingat almarhum bapaknya menjahit di Los Terang Bulan yang terbakar di zaman dulu. Los Bulan Terang berhadapan loka-sinya dengan tukang sepuh. Hampir semua Los Terang Bulan adalah tekstil yang bahan-bahannya mudah terbakar.

     Karena Los Terang Bulan yang terbakar maka dibuatlah untuk se-mentara penampungan dari kayu di lokasi kanopi sekarang sampai ke Simpang Bofet Sianok. Los itu sarupa lorong versi jadulnya dan di depannya ada pintu besi (Rima Dessi, 2021). Sedangkan Doni Dwi-nanda yang semasa kecilnya tinggal di pasar mengatakan bahwa ada dua los waktu saisuak yaitu Los Purnama dan Los Terang Bulan. Inilah cikal ba-kal yang menjadi kawasan pertokoan di pusat kota hari ini. Dulu merupakan pasar sentral Kota Payakumbuh. Bangunan permanennya memiliki dua buah los besar yang masih berupa bangunan kayu. Mungkin masih peninggalan Belanda. Posisinya dari Jalan A Yani memanjang ke balakang arah petak Sago. Toko buku yang di  dalam los itu adalah As Gunung Mas dan Pustaka Masa. Dan di bagian tengah antara los dengan deretan toko emas sekarang ada sumur.

     Adapula Wijaya Modeste juga bagian memory kolektif masyarakat Payakumbuh sebagai tempat kursus dan konsultasi mode waktu itu. Modeste Wijaya itu tempat orang belajar menjahit dengan bundanya Rima Dessi. Suatu usaha keluarga yang muridnya ratusan orang dari  seluruh penjuru Sumbar yang mempekerjakan karyawannya terma-suk karyawan keturunan Tionghoa di zaman saisuak.

      Sedangkan Toko Sibungkuak juga termasuk legend pada masa itu, kata Doni Dwinanda menambahkan. Menghitung belanja orang memakai sempoa. Dan bangunan tokonyo masih bangunan asli. Rancak dipertahankan yang lokasinya bersebelahan dengan Toko Bunda saisuak. Toko Bunda ini dealer Motor Honda yang pertama kali di Payakumbuh (Doni Dwinanda, 2021).

     Begitupun dengan Rima Dessi mengatakan bahwa Los Terang Bulan itu tempat menjual buku-buku bekas. Di belakang Hizra itu dulu ada orang Jawa yang tinggal. Mereka sudah tua yang menjadi suami istri. Istrinya dipanggil bibik dan mereka menjual periuk tanah. Sedangkan Los Purnama tempat menjual tembakau dan kain meteran. Dan Payakumbuh zaman dulu penghasil tembakau. Ada si Unuih yang legendaris menjual lapiak, kalau lewat di depan kedainya yang di belakang Hizra itu, kami lari, kenang Rima Dessi. Dan ada pula Kedai Nasi Tek Gadih di situ. Tek Gadih ini  penerusnya adalah Nanak.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url