Ular Air

 

Ular Air. Foto: wikipedia

Ular air atau nama lainnya ular-air kelabu atau yang akrab disapa ular padi (Hypsiscopus plumbea), atau dalam bahasa Inggris seperti Plumbeous Water Snake, Rice Paddy Snake, atau Orange-bellied Mud Snake, reptil ini menjadi penghuni setia perairan dangkal di kawasan tropis Asia Selatan hingga kepulauan Nusantara, termasuk di bumi Minangkabau ini. Dan penampilan ular-air kelabu terbilang sederhana namun efektif untuk berkamuflase di habitatnya. Panjang tubuhnya yang berkisar antara 48 hingga 50 cm memungkinkan ia bergerak lincah di antara tumbuhan air dan lumpur.

       Warna tubuh bagian atasnya didominasi oleh nuansa kelabu yang berpadu dengan cokelat gelap atau zaitun, menciptakan pola samar yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Tak jarang, beberapa individu juga memperlihatkan bintik-bintik hitam di sepanjang punggungnya, menambah variasi pada penampilannya. Kontras yang menarik terlihat pada bagian bawah tubuhnya, yang memancarkan warna oranye atau jingga cerah, terkadang dihiasi pula dengan bintik-bintik hitam, seolah menyimpan kejutan visual bagi siapa pun yang mengamatinya dari dekat.

       Ular ini memiliki preferensi habitat yang jelas, memilih dataran rendah hingga ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut sebagai rumahnya. Keberadaannya tak terpisahkan dari perairan dangkal seperti persawahan dan saluran irigasi, namun ia juga mampu beradaptasi dengan lingkungan sungai, rawa-rawa, dan sumber air lainnya. Meskipun dikenal aktif pada malam hari (nokturnal), ular-air kelabu juga seringkali menampakkan diri di siang hari, mungkin saat mencari mangsa atau berjemur untuk mengatur suhu tubuhnya.

      Sebagai predator yang andal di ekosistem perairan, menu utama ular-air kelabu terdiri dari berbagai jenis hewan air berukuran kecil. Ikan, katak atau kodok, dan kecebong menjadi santapan favoritnya. Penelitian dari Voris dan Murphy (2002) bahkan mengungkap preferensi yang lebih spesifik, di mana ular ini sangat menyukai jenis-jenis kodok kecil seperti Microhyla pulchra, Limnonectes limnocharis, dan Polypedates leucomystax. Selain itu, ikan-ikan kecil seperti belut sawah (Monopterus alba), betok (Anabas testudineus), cupang (Macropodus opercularis), lele dumbo (Clarias teysmanni), berbagai jenis ikan dari familia Eleotridae (belosoh), serta ikan jeler juga menjadi bagian penting dari dietnya. Keanekaragaman mangsa ini menunjukkan peran ular-air kelabu dalam mengontrol populasi hewan-hewan kecil di ekosistem perairan.

       Siklus hidup ular-air kelabu juga menarik untuk disimak. Berbeda dengan sebagian besar reptil yang bertelur, ular ini berkembang biak dengan cara melahirkan anak (ovovivipar). Embrio berkembang di dalam tubuh induk dan dilahirkan dalam keadaan hidup. Sekali melahirkan, seekor induk ular-air kelabu mampu menghasilkan antara 6 hingga 30 ekor anak. Anak-anak ular yang baru lahir memiliki ukuran yang relatif kecil, berkisar antara 7.5 hingga 13 cm dengan berat sekitar 2,1 gram. Ukuran yang mungil ini membuat mereka rentan terhadap predator lain di awal kehidupannya, namun dengan insting bertahan hidup yang kuat, mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi predator yang handal di habitatnya.

      Keberadaan ular-air kelabu di ekosistem persawahan dan perairan dangkal lainnya memiliki implikasi ekologis yang signifikan. Sebagai predator, mereka membantu menjaga keseimbangan populasi mangsanya, seperti ikan dan katak, sehingga mencegah terjadinya ledakan populasi yang dapat mengganggu ekosistem. Selain itu, keberadaan mereka juga menjadi indikator kesehatan lingkungan perairan. Perubahan populasi atau hilangnya ular-air kelabu dari suatu area dapat menjadi pertanda adanya gangguan atau pencemaran lingkungan.

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url