EKS. LOKASI BATU BARAPAK BALAI NAN TUO
|
Eks. Lokasi Balai Nan Tuo di Tanjung Rajo Tiakar. Foto: Feni Efendi |
Di belakang SD Negeri 25 Payakumbuh, tersimpan sebuah narasi sejarah yang diwariskan dari mulut ke mulut. Kisah tentang kedatangan 50 kaum dari Pariangan Padang Panjang, yang kemudian memilih Titian Akar (Tiakar) sebagai tempat bermukim bagi enam suku: Dalimo Panjang, Dalimo Singkek, Piliang, Bodi, Simabur, dan Bendang. Di Tanjung Rajo inilah, Dt. Lelo Anso Nan Panjang menyambut kedatangan mereka, menandai awal mula sebuah komunitas yang kelak akan membentuk wajah Payakumbuh.
Di lokasi tersebut, konon, berdiri sebuah balai tempat para pemimpin keenam suku itu berunding, yang dikenal dengan nama Balai Ninik nan Batujuah atau Balai Nan Tuo. Di sanalah, di atas sebuah batu barapak yang berbentuk dudukan sandaran dan meja, keputusan-keputusan penting diambil, strategi disusun, dan tradisi diwariskan. Batu barapak itu, bagi masyarakat setempat, bukan sekadar batu biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah, simbol kehadiran nenek moyang, dan penanda jejak peradaban. Setelah selesai berunding di lokasi ini maka di bawalah ninik-ninik ini ke Kampuang Tabuah.
Seiring berjalannya waktu, batu barapak itu menghilang. Sebuah kehilangan yang meninggalkan lubang dalam memori kolektif masyarakat. Hilangnya artefak sejarah ini bukan sekadar hilangnya benda mati, tetapi juga hilangnya mata rantai yang menghubungkan generasi sekarang dengan masa lalu. Batu barapak, yang seharusnya menjadi bukti fisik keberadaan Balai Nan Tuo, kini hanya tinggal cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Hilangnya batu barapak di Balai Nan Tuo memunculkan beberapa pertanyaan penting. Pertama, bagaimana kita menjaga dan melestarikan artefak sejarah yang menjadi bagian dari identitas budaya kita? Kedua, bagaimana kita mewariskan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda, di tengah arus modernisasi yang begitu deras? Ketiga, bagaimana kita merekonstruksi sejarah yang hilang, berdasarkan narasi lisan dan jejak-jejak yang tersisa?
Kisah Balai Nan Tuo dan batu barapak adalah pengingat bahwa sejarah tidak selalu tertulis dalam buku-buku tebal. Ia juga tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat, dalam cerita-cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghargai dan melestarikan narasi lisan, sebagai salah satu sumber sejarah yang tak ternilai harganya. Meskipun batu barapak telah hilang, semangat Balai Nan Tuo seharusnya tetap hidup. Semangat musyawarah, mufakat, dan gotong royong yang diwariskan oleh para pemimpin keenam suku itu, harus terus dijaga dan dilestarikan. Kisah Balai Nan Tuo adalah kisah tentang keberanian, persatuan, dan keteguhan hati. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah komunitas kecil mampu membangun peradaban yang besar.
Kehilangan batu barapak adalah sebuah pelajaran berharga. Ia mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya, sebagai bagian dari identitas bangsa. Semoga kisah Balai Nan Tuo dan batu barapak dapat menginspirasi kita untuk lebih peduli terhadap sejarah dan budaya kita, dan untuk terus menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang kita.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau